Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
83. Happy ending


__ADS_3

Sejak kematian Sandrina, kehidupan Tuan Gustaf dan Sabrina mencapai kebahagiaan dengan sepasang anak mereka.


Tuan Gustaf akhirnya mengabulkan permintaan istrinya Sabrina untuk menetap di Indonesia, khususnya di kota Jakarta.


Dua tahun berlalu, Sabrina mendaftarkan putranya Alvaro Fernandez bersekolah di salah satu sekolah dasar internasional yang ada di Jakarta.


Kehidupan keluarga kecil itu kini lebih tenang hidup di tengah kota majemuk seperti Jakarta. Tuan Gustaf dan Sabrina masih bisa mengurus perusahaan milik mereka masing-masing tanpa ada kendala.


Setelah anak keduanya berusia dua tahun, Tuan Gustaf memboyong keluarganya untuk berlibur ke negara Jerman, di mana perusahaan besar Tuan Gustaf yang diwariskan oleh papinya tuan Fernandez.


Keluarga Sabrina ikut serta dalam rombongan itu, namun sayangnya Dilan tidak bisa membawa kekasihnya ikut serta dalam perjalanan ini karena usia kandungan Nadin yang masih muda, lebih rentan jika menempuh perjalanan jauh, yang memakan waktu yang sangat lama yaitu 12 jam 13 menit, sampai di kota Hamburg Jerman. Perbedaan waktu Indonesia dan Hamburg Jerman yaitu 6 jam.


Baby Alvaro yang sangat senang bisa bermain berdua dengan daddynya sepanjang hari. Kerinduan anak seusianya pada figur seorang ayah akan berpengaruh besar perkembangan pada kejiwaan anak, apalagi Alvaro adalah seorang anak laki-laki yang menjadikan figur ayah menjadi panutannya.


"Daddy bisa buat pesawat?"

__ADS_1


"Daddy tidak bisa membuat pesawat tapi biasanya beli pesawat.


"Bisa buat pesawat kecil untuk Al?"


"Sangat bisa sayang untuk putra ayah yang tampan dan sangat jenius ini," ucap Tuan Gustaf sambil menggelitik perut putranya.


"Geli daddy, jangan kelitikin Al...ha..ha..ha!"


"Baby Al kalau besar, mau jadi apa sayang?"


"Emang Alvaro bisa gambar pesawat?"


"Bisa daddy, emang daddy mau lihat Al gambar pesawat?"


"Hmm, daddy nggak percaya sama Al!" ucap Tuan Gustaf sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Al sudah gambar daddy, gambarnya ada di tas Al. Tiap kali Al ingin menunjukkan ke daddy, tapi daddynya selalu pulangnya kemalaman. Saat Al bangun, daddy sudah hilang."


Ucapan Al spontan membuat Tuan Gustaf dan keluarganya berkaca-kaca. Anak sekecil ini sudah bisa menyampaikan keluhannya pada daddynya.


Al kemudian bangun untuk mengambil tas ranselnya yang dibawanya serta. Ia kemudian mengeluarkan buku gambarnya yang dibelikan opanya saat mereka mengunjungi toko buku.


Buku gambar itu diberikan kepada daddynya. Tuan Gustaf membuka lembar pertama buku gambar itu dan ia sangat kaget halaman pertama itu sudah tertulis namanya.


"Untuk daddy Gustaf"


Dengan perasaan berdebar dan penasaran, Tuan Gustaf membuka lagi halaman berikutnya, benar apa yang dikatakan putranya, kalau ia sudah bisa menggambar pesawat. Tuan Gustaf menatap Sabrina , kedua orangtuanya.


"Sayang lihat ini, lihat ini sayang," ucap Tuan Gustaf memberikan buku gambar Alvaro pada istrinya, Sabrina kemudian membukanya lembar demi lembar sambil membekap mulutnya seakan tidak percaya kalau Alvaro selama ini sudah menggambar berbagai macam model pesawat dan terakhir menggambar wajah Sabrina dan Tuan Gustaf saling berhadapan sambil tersenyum mesra.


Sabrina memberikan buku gambar itu pada mertua dan orangtuanya lalu ia bangkit menghamburkan pelukan pada putranya.

__ADS_1


"Ya Allah putraku, aku tidak tahu kalau kamu sekeras itu menggambar pesawat dan orangtuamu juga nak. Maafkan mommy tidak pernah melihat hasil karyamu, mommy pikir itu hanya coretan biasa...hiks!..hiks!"


__ADS_2