
Jam empat sore tiba, Belia bersiap untuk pulang. Seperti biasa dia pulang dengan berjalan kaki, melewati trotoar ruko. "Yuk Mery! Belia duluan ya!" teriak Belia pada Mery sahabatnya.
"Tunggu Bel, aku sudah beres kok." Belia terpaksa berhenti dan menunggu Mery.
"Tokonya?" Belia heran sambil menunjuk toko Mery yang menjual oleh-oleh khas setempat.
"Kan ada laki aku sama satu orang pegawai, aku semaunya Bel. Ke toko atau tidak baseng, kalau anak-anak dan urusan rumah sudah ok, aku baru ke toko," ujar Mery.
"Ayo Bel, aku antar sampai rumah sepertinya kamu nampak sedih. Aku minta maaf ya sudah memberitahu kamu perihal penemuan aku tentang suami kamu. Aku saja yang melihatnya sangat kesal dan kecewa sama suami kamu. Kenapa suami kamu bisa kegaet lagi sama si Novi, padahal si Novi sudah menyakitinya dengan menikahi pria lain."
"Tidak apa-apa Yuk, mungkin nasib Belia harus begini, tidak dicintai suami." Belia membalas dengan raut wajah yang sedih.
"Kamu mencintai Muntaz, Bel?" Mery bertanya dengan kening mengkerut. Seperti yang sudah diketahuinya, bahwa Belia menikah dengan Muntaz karena dijodohkan. Belia bilang Muntaz sampai saat ini belum bisa mencintai Belia, terlebih sekarang Novi mantan pacarnya hadir kembali. Mery menyimpulkan bahwa Belia telah lebih dulu mencintai Muntaz.
Melihat Belia tidak menjawab, Mery berinisiatif segera membawa Belia pulang ke rumahnya. Bagaimanapun juga alangkah lebih baiknya dia bertanya saat di rumah. Terlebih kini Belia nampak sangat sedih dan muram.
Tiba di rumah, Mery turun dan ikut masuk ke rumah Belia. Dia tidak tega meninggalkan Belia dalam kesedihan. Dia sudah menganggap Belia adik sendiri, terlebih Belia lebih muda empat tahun darinya. Adik Mery saja yang bungsu lebih tua dua tahun dari Belia. Jadi saat mengenal Belia, dia seperti menemukan sosok adik lain dalam diri Belia.
Bukan tanpa alasan Mery menganggap Belia adik. Mira adik Mery yang bungsu pernah mengalami hal pahit dibandingkan Belia. Mira pernah menjadi korban KDRT dan korban perselingkuhan suaminya. Kini Mira belum menikah lagi, dia lebih fokus meniti karir sebagai Guru.
"Masuk, Yuk!" ajak Belia. Mery masuk dan duduk di ruang tamu. Belia masuk kamar dan menyimpan tas kerjanya. Lalu keluar lagi dengan baju yang sudah diganti.
__ADS_1
"Tunggu ya Yuk, Belia bikinkan minum dulu," ujar Belia beranjak ke dapur. Mery mengikuti Belia ke dapur dan duduk di kursi makan.
"Sudahlah jangan repot-repot, biar aku sendiri yang ambil di teko. Kalau kau mau masak, masaklah dulu," cegah Mery saat Belia menuangkan air minum dari teko.
"Kau masaklah, aku tunggu kau di sini."
"Belia hanya masak sayur asem, ikan goreng, dan sambel saja Yuk, nasinya dari pagi sudah masak di Mejikom."
"Ya sudah kau masaklah, kalau perlu aku bantu biar cepet." Mery menawarkan bantuan. Namun Belia menolak, karena yang dia masak hanya sayur, goreng ikan, dan sambal.
Saat Belia masak tidak luput dari perhatian Mery. Mery salut dengan Belia yang cekatan dalam memasak. Lantas kenapa Muntaz masih belum bisa mencintai Belia? Itu menjadi pertanyaan dalam diri Mery. Saat menunggu sayur asamnya matang, Belia duduk berhadapan dengan Mery di meja makan. Ini kesempatan Mery untuk bertanya.
"Bel, aku salut melihat kau cekatan dalam segala hal, padahal kau masih muda. Rugi banget si Muntaz sampai menyia-nyiakan kau, kurang apa lagi kau ini. Cantik iya, baik iya dan rajin pula. Kalau aku lelaki, kau sudah aku embat sejak dulu," tutur Mery menatap lekat ke arah Belia.
"Tapi, nyatanya Bang Muntaz tidak pernah memandang Belia dari rajin atau cekatannya. Bang Muntaz hanya menginginkan mantan pacarnya yang menor dan pintar dandan seperti Novi. Bahkan Bang Muntaz menganggap Belia tidak menarik. Belia di matanya hambar, Yuk," cerita Belia mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah, jangan menangis. Lebih baik kau angkat sayur asamnya, aku rasa sayur asammu sudah matang dan enak." Belia berdiri dan mematikan kompor, lalu duduk kembali.
"Kalau kau mencintai Muntaz, kenapa tidak kau perjuangkan cinta itu, mungpung belum terlambat."
"Harus dengan cara apa, Yuk, supaya Bang Muntaz bisa mencintai Belia? Sedangkan Bang Muntaz tidak pernah menganggap Belia istri yang diharapkannya."
"Belum terlambat Bel, caranya dengan membuat dia jatuh cinta sama kau," ungkap Mery memberi semangat.
__ADS_1
"Caranya seperti apa, Yuk?" Belia penasaran.
"Bukankah suami kau pernah bilang bahwa kau berdandan saja hanya sisiran doang dan dilipstik saja warna hambar. Kesimpulannya dia ingin kau tampil beda. Coba ikutin apa maunya, kau rubah cara kau berdandan, pakai lipstik warna cerah misalnya."
"Tapi, Yuk, masa iya Belia pergi bekerja ke toko buku harus menor?" Belia menyela.
"Tidak begitu juga kali Bel, maksudnya perbaiki dandanan kau. Ikuti maunya laki kau. Buat dia jatuh cinta, setelah itu kau jual mahal sedikit untuk membuat dia mengejar kau," Mery memberikan saran untuk Belia. Sejenak Belia termenung memikir saran dari Mery.
"Belia mau, Yuk. Tapi Belia bingung memulainya."
"Tidak usah bingung, kita mulai saja dari sekarang," ujar Mery sambil membisikkan sesuatu ke telinga Belia. Akhirnya dengan sedikit panjang, Mery memberi ide pada Belia untuk memberikan pelajaran pertama pada Muntaz. Akhirnya Belia setuju dengan saran Mery.
"Ayo, Bel!. Pokoknya biarkan suami kau pulang dulu. Baru jam 8.30 kau balek rumah. Biar dia menduga kau keluyuran, tapi apakah kau siap jika dia tiba-tiba marah gara-gara kau tidak ada di rumah saat dia balik kerja?"
"Belia siap, Yuk. Lagipula Bang Muntaz, tidak akan peduli Belia mau keluyuran kemanapun, sebab Bang Muntaz tidak pernah mengharapkan Belia."
"Ya sudah Bel, jangan kecil hati. Mudah-mudahan cara kau ini ada hasilnya. Yang penting kau sudah usaha, tentang hasilnya kau serahkan sama yang diatas." Mery membesarkan hati Belia yang putus asa.
"Ayo, kita harus cepat!" ajak Mery keluar dari rumah Belia, dan menyalakan motor maticnya menuju rumahnya di kampung sebelah.
*
*
Sementara itu sekitar jam 20.20 wib, Muntaz pulang, namun saat akan membuka pintu ternyata pintu terkunci. Muntaz menduga kalau Belia sudah tidur. Lalu Muntaz meraba ventilasi udara mencari kunci rumah yang selalu Belia simpan di sana.
Saat ketemu, Muntaz langsung membuka pintu dan masuk kamar. Dilihatnya ranjang masih kosong. Muntaz heran kemana perginya Belia, sedangkan di ruang tamu dan tengah tidak dia dapati Belia. "*Kemana Belia*?" tanyanya dalam hati.
"Bel, Belaaa!" teriaknya memanggil Belia ke arah dapur.
__ADS_1
"Abang cari Belia?" tiba-tiba Belia sudah berada di belakang Muntaz dengan dandanan yang berbeda. Saat Muntaz menoleh ke belakang, dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kaget dan tidak menduga jelas terpancar dari wajah Muntaz.