Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 58 Meminta Ganti Rugi


__ADS_3

Muntaz janjian bersama Sabqi. Entah kenapa Sabqi begitu kompak dan sehati dengan ajakan Muntaz, bahkan Sabqi begitu mendukung niat Muntaz yang ingin melakukan perhitungan dengan Novi.



"Apa yang akan kau lakukan, Taz, pada betino itu?" tanya Sabqi penasaran. "Tumit dan dan lutut kau saja masih sakit karena gesekan aspal tadi, masa iya kau kini mau melabrak si Novi? Bisa-bisa suaminya yang bakal ngebogem balik muka kau yang biru itu," lanjut Sabqi lagi keheranan.



"Aku menghampirinya bukan mau main otot, tapi mau pakai otak lewat vidio yang direkam Kakak tadi," ujar Muntaz tersenyum bangga.



"Lalu bagaimana caranya membuat perhitungan dengan si Novi?" Sabqi penasaran.



"Kau diam saja, ikuti aku. Kalau nanti aku dikeroyok kau langsung bertindak sama kawan-kawan kau yang diam-diam ngikutin kita," jelas Muntaz memberi arahan. Sabqi manggut-manggut. Sementara kawan-kawan yang dimaksud Muntaz adalah orang-orang yang dihimpun Sabqi untuk mengikutinya kalau-kalau Muntaz dan dirinya kenapa-kenapa. Mereka kawan-kawan Sabqi dan Muntaz juga, jadi saat dimintai bantuan mereka tidak menolak karena setia kawan dan yang penting ada uang rokok.



"Ok deh kalau begitu. Kita jalan sekarang. Kita samperin lanang dan betino itu," ujar Sabqi mengajak kawan-kawannya dengan kode tangan melambai di udara.



Tiba di kediaman Novi, setelah beberapa saat mereka mengintai, akhirnya Muntaz menemukan titik terang. Rupanya suaminya Novi masih ada di sana, terlihat dari mobilnya yang terpajang di depan rumah orang tua Novi.



Kesempatan ini tidak disia-siakan Muntaz, tujuan utama mendatangi rumah Novi, selain pada Novi, juga pada suaminya. Dia akan membuat perhitungan dengan suami Novi dengan menyodorkan kasus yang dilakukan Novi atas penjegalan tadi pagi di jalan.



Awalnya Sabqi duluan yang menghampiri rumah orang tua Novi lalu diikuti Muntaz di belakangnya. Saat pintu rumah dibuka, rupanya ibunya Novi yang membuka pintu.


__ADS_1


Muntaz segera menyusul dan sejenak mereka terlihat berbincang. Dulu memang Muntaz pernah dekat dengan orang tua Novi, tapi karena Novi memilih menikah dengan laki-laki lain yang lebih punya segalanya dari Muntaz, akhirnya hubungan mereka putus terkhianati oleh keputusan Novi.



Saat itu di dalam ruangan tengah rumah orang tua Novi, rupanya keluarga Novi dan suami Novi tengah berkumpul. Hal ini menjadi kode baik buat Muntaz. Muntaz masuk setelah dipersilahkan masuk oleh ibunya Novi.



Novi yang melihat kedatangan Muntaz, nampak terkejut dan pias. Reaksi Novi ini jelas menunjukan bahwa Novi telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan tadi di belokan jalan menuju rumah Muntaz.



Tanpa bertele-tele Muntaz menceritakan duduk perkara dia datang ke rumah orang tua Novi. Suami Novi terlihat mencak-mencak kesal melihat kedatangan Muntaz dan Sabqi.



"Nah, aku datang kemari untuk minta tanggung jawab Novi, karena tadi pagi dia sengaja menjegal motorku dekat belokan yang menuju rumahku. Aku sama bini aku nyampak dan belanjaan kami rusak semua, telur pecah semua, sayuran koyak, dan bini aku soak di rumah. Aku lecet-lecet di tumit, lutut dan juga kepala," beber Muntaz seraya menunjuk bagian tubuhnya yang sakit akibat penjegalan Novi tadi.



"Kau jangan asal tuding, belum tentu bini aku yang sengaja jegal motor kau, kau sengaja datang kemari memang ingin balas dendam, kan? Karena saat kudapati kau bersama bini aku berduaan di warung sederhana, aku bogem karena kau sengaja mau menggoda bini aku," sangkal **Imam** suami Novi, yang kini mengungkit kejadian saat Muntaz dan Novi janjian di warung makan sederhana tempo hari.




"Apa, kenapa kau tega mau bawa kasus ini ke pihak Kepolisian, Taz. Ini kan bisa kita bicarakan baik-baik," ujar bapaknya Novi dengan wajah resah.



"Ok, kalau begitu, supaya kasus ini tidak panjang dan melebar, aku minta ganti rugi atas perbuatan yang tidak menyenangkan ini," ujar Muntaz lagi merasa menang. Novi yang sejak kedatangan Muntaz hanya diam menunduk dan takut ikut bersuara.



"Cuma harga telor dan sayuran koyak, tidak seberapa. Aku bisa ganti," ucap Novi sepele, kini Novi bicara seperti baru ada taringnya.

__ADS_1


"Ya, bayarlah. Jangan cocot saja kau besarkan." Kedua orang tua Novi juga Novi kaget melihat sikap Muntaz yang kasar dan tidak ramah itu. Mereka pikir Muntaz yang sekarang sama dengan Muntaz yang dahulu.


"Ok, aku ganti," ujar Novi seraya mengeluarkan uang merah empat lembar dari dompetnya lalu menyodorkan di hadapan Muntaz. Muntaz menepis.



"Ini kurang, aku mau minta ganti rugi juga menagih duit yang pernah kau pinjam sebesar lima juta. Kau tahu kenapa waktu itu kita ketemuan di warung makan sederhana? Kau sengaja hubungi aku untuk datang karena kau janji mau mengembalikan duit lima jutaku. Kalau tidak percaya aku masih ada bukti percakapan dia di WA aku, berikut WA mesranya merayu aku," tandas Muntaz semakin tidak gentar. Novi juga orang tua Novi terhenyak, sementara Imam sangat kesal mendengar perkataan Muntaz barusan.



"Kau mau meras bini aku?" tuding Imam geram.


"Aku tidak meras, aku hanya minta ganti rugi atas perbuatan bini kau dan menagih duit lima juta yang Novi pinjam. Dan jika kalian tidak bersedia mengembalikan duit lima juta berikut ganti rugi, maka kasus ini aku serahkan ke pihak berwajib," tegas Muntaz berapi-api.


"Dan aku tidak tahu nih, uwong tadi yang rekam pasti sudah disebar di medsos. Jadi jika sudah tersebar itu bukan aku yang sebar. Aku hanya akan sebar jika kalian mau ganti rugi dan bayar hutang dia," tunjuk Muntaz ke arah Novi. Novi menunduk seketika, dia merasa ketakutan dengan omongan Muntaz.



"Baiklah, aku ganti rugi dan bayar uang hutang bini aku yang lima juta, setelah itu aku tidak mau tahu, kau jangan lapor atau ganggu bini aku lagi," peringat Imam kesal.



"Sudah jangan banyak omong, cepat kau bayar ganti rugi sama bayar hutang bini kau. Kau tranfer bae ke rekening aku, 123456789," ucap Muntaz seraya menyebutkan nomer rekening yang dia punya.



"Lagipula, selama ini bukan aku yang kejar-kejar bini kau, tapi dia kejar-kejar aku. Kalau aku mau, aku ajak semua lanang-lanang yang pernah dia tipu. Habis kalian kena minta ganti rugi," lanjut Muntaz diiringi tawa kecil.



"Nah, sudah aku kirim via MBangking sebesar enam juta, anggap saja yang satu juta duit ganti rugi," tegas Imam seiring bunyi notif MBangking di Hp Muntaz. Muntaz menyeringai puas.



"Nah, begini dong. Bayar hutang itu yang cepat biar tidak ditagih saat kena masalah, dan ingat ya, kau jangan ganggu dan kejar aku lagi, sebab aku sudah memiliki istri yang sangat aku cinta," ujar Muntaz seraya bergegas pergi dari kediaman rumah orang tua Novi. Orang tua Novi hanya bisa diam dan melongo. Mereka merasa malu dengan perbuatan Novi di depan menantunya.

__ADS_1



"Pergi kau, jangan datang lagi!" usir Imam kesal. Muntaz dan Sabqi melenggang menuju motornya yang diparkir di pinggir jalan, menyalakan motor lalu menjakankannya membelah jalanan di perumahan itu yang mulai beranjak sore.


__ADS_2