Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 66 Belia Yang Tidak Manja dan Tangguh


__ADS_3

Usia kandungan Belia kini memasuki bulan ke empat. Kehamilannya termasuk kehamilan kebo yang mana Belia tidak merasakan mual muntah yang berarti. Ini sangat disyukuri Muntaz maupun Belia. Terlebih Belia yang masih ingin bekerja sampai tiba waktunya melahirkan. Muntaz tidak bisa melarang keinginan Belia. Terpaksa ia penuhi, sebab tidak ingin membuat Belia sedih.



Malam ini Belia terbangun dari lelapnya. Rasa haus menyelinap dalam tenggorokannya. Belia bergegas ke dapur untuk mengambil air minum.


"Glek, glek." Segelas air bening berhasil memasuki kerongkongannya. Rasa hausnya kini hilang berganti rasa ingin makan mangga muda yang dicocol garam. Sebenarnya sejak sore tadi Belia membayangkan ingin makan mangga muda di depan rumahnya yang mulai berbuah besar-besar.


Belia bergegas ke ruang tamu, dia berdiri sejenak dan membuka gorden kaca ruang tamu seraya tatapan matanya menuju mangga muda di depan rumahnya. "Duhhh, pengen banget, tapi kalau mau bangunkan Bang Muntaz, kasihan," gumannya. Perlahan Belia membuka kunci pintu depan dan mulai menjungkit handle pintu. Pintupun terbuka.



Suasana dini hari begitu terasa. Ditandai dengan keadaan yang sunyi, hanya suara Jangkrik yang sekali-sekali saling bersahutan dengan kawannya. Belia melihat ke arah langit, nampak bintang berkelip-kelip menyambutnya. Namun sinar bulan tidak sepenuhnya menerangi bumi, karena dia hanya memperlihatkan bentuknya seperti sabit.



Belia tidak hilang rasa keberaniannya. Dia tidak takut dengan keadaan dini hari yang sunyi. Sejenak dia berjalan ke emperan teras rumah. Di sana setahunya ada bambu yang khusus untuk menjolok buah. Dan pencariannya berhasil. Penjolok buah itu berhasil dia ambil.



Diterangi cahaya lampu kanan kiri, Belia tidak merasa kesusahan untuk menjolok buah dengan bambu itu. Belia mulai menjolok buah yang terdekat dengan bambu. Karena berulang kali begitu susah jika harus dijolok, terpaksa Belia melakukan jalan terakhir, yaitu menjolok denga cara dibanting. Mangganya ditelan lalu dibanting sekuat tenaganya. Beruntung yang berhasil Belia banting ada terdapat tiga mangga. Semuanya berjatuhan seirama bunyi musik.



"Pluk, pluk, pluk." Belia senang banget melihat mangga itu berjatuhan seperti irama musik. Segera dia punguti dan ditadah di atas baju piyamanya. Belia tidak merasa risih dengan kotor, getah atau semut yang menempel.



"Terimakasih ya, buah," ucapnya sembari meninggalkan pohon mangga yang buahnya lebat itu. Baru saja mau memasuki rumah, di depan pintu Muntaz sudah berdiri risau.

__ADS_1



"Bel, apa yang kau lakukan? Kau baik-baik saja?" tanya Muntaz benar-benar khawatir. Belia tersenyum melihat Muntaz khawatir seperti itu.


"Abang, Belia baik-baik saja. Tadi Belia ingin makan buah mangga muda yang dicocol garam, sepertinya enak. Dan ini mangganya sudah Belia ambil, tiga buah," ucap Belia dengan senyum sumringah seraya memperlihatkan mangga yang ditadah bajunya.


"Ya ampun Bel, kau ini berani nian. Kenapa kau tidak bangunkan aku? Aduhhh kalau ada apa-apa sama kau, aku pula yang sedih," gerutu Muntaz masih diliputi risau.



"Sudahlah, Abang. Lagipula Belia tidak kenapa-kenapa. Tadi Belia tidak tega jika harus bangunkan Abang," ujar Belia seraya memasuki rumah lalu menuju dapur. Muntaz mengikutinya. Belia memang pada kehamilannya ini tidak mengalami mual muntah yang berarti dan tidak manja. Dia begitu mandiri dan tidak banyak meminta Muntaz untuk mencari makanan yang diidamkannya. Muntaz bahkan selalu dibuat terkejut dengan Belia. Tahu-tahu Belia menenteng makanan yang dibilangnya sebagai makanan idamannya.



Seperti seminggu yang lalu, Belia tiba-tiba pergi keluar rumah sengaja pergi ke pasar untuk membeli rujak yang mangkal dekat pangkalan ojek. Padahal hari itu adalah hari Minggu, Muntazpun ada didekatnya tengah berbaring dan menonton TV. Tapi Belia sama sekali tidak kepikiran untuk minta tolong dibelikan oleh Muntaz. Muntaz benar-benar heran dengan kehamilan Belia ini. Dia begitu mandiri dan tangguh.




"Mungkinkah sikap Bela ini pembalasan untukku yang dulu tidak perah peduli pada Bela. Dan sekarang Bela sama sekali tidak pernah minta pertolonganku, padahal sekarang aku ikhlas dan mencintainya," guman Muntaz disela lamunannya.



Tidak salah jika Belia disebut tangguh oleh Muntaz. Perkara memasang tabung gas ke Regulator, kini sudah tidak meminta Muntaz lagi yang pasangkan. Sekali pasang dan bunyi 'trek' langsung terdengar. Biasanya Belia akan menjauh apabila Muntaz memasang gas, bahkan saat leher tabung itu mengeluarkan desisan karena tabung terisi pasir, Belia akan berlari terbirit saking takutnya. Namun kini, perilaku takut seperti itu tidak ada lagi. Belia benar-benar menjelma menjadi sosok tangguh yang tidak penakut.



"Sini, abang cuci dan kupas mangganya." Muntaz merebut semua mangga yang ada ditadahan baju piyama Belia.

__ADS_1


"Bel, ganti baju tidurmu. Itu banyak getah dan ada semutnya," perintah Muntaz. Belia tadinya ingin membantah, namun saat dilihatnya baju piyamanya kotor, akhirnya dia menuruti perintah Muntaz.


Saat Belia kembali ke dapur, mangga muda yang dia idamkan beserta sepisin garam Himalaya sudah tersaji di atasnya. Belia tinggal mencocol dan menikmatinya.



Satu persatu irisan tebal mangga yang dicocol ke pisin berisi garam, kini sudah berpindah ke dalam perut Belia tanpa rasa linu atau asam. Muntaz yang melihat Belia makan, malah kebalikannya. Dia seperti merasakan asamnya mangga muda yang dimakan Belia.



"Abang cobalah, satu potong saja," ujar Belia memaksa. Akhirnya Muntaz mencoba mangga yang sudah dicocol garam itu, kemudian dia mulai memasukaannya ke dalam mulut. Dikecap dan dirasanya, rasa asin dari garam sedikit menutupi rasa masam mangga muda. Terpaksa untuk menyenangkan Belia yang lagi hamil, Muntaz menelan dengan perlahan sekerat mangga muda yang dicocol garam himalaya itu. Saat memakannya, Muntaz berekspresi sangat lucu menurut Belia.



"Abang lucu banget jika meringis begini," ledek Belia sambil ketawa bahagia. Muntaz hanya tersenyum sambil nyengir karena masih merasakan rasa asam di sekitar mulutnya.



"Terimakasih banyak Abang, sudah potongin mangga ini untuk Belia. Belia sudah kenyang sekarang," ucap Belia disertai mulutnya yang menguap menandakan Belia masih ngantuk. Pantas saja waktu masih menunjukan pukul dua dini hari.



"Ayo Bel, baiknya kita tidur saja lagi. Abang masih ingin memelukmu. Lagipula ini masih pukul dua dini hari," ajak Muntaz seraya meraih lengan Belia dan menariknya pelan ke dalam kamarnya.



Belia pun tidak membantahnya, karena dia sudah merasa kenyang kini. Dua mangga muda berhasil pindah ke dalam perutnya tanpa merasa keasaman.


Bersambung...

__ADS_1


Karya ini beberapa bab lagi akan ditamatkan... Mohon dukungannya ya.


__ADS_2