Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 55 Usaha Muntaz Meraih Kehangatan Belia


__ADS_3

"Apa sih Bel, kau tanyakan itu. Aku sudah berusaha mencintaimu, apakah kau masih ragu?" Mendapat pertanyaan seperti itu, Belia membeku. Dia tidak ingin menjawab apa-apa. Belia belum sepenuhnya percaya sama Muntaz tentang rasa cinta yang Muntaz rasakan untuknya.


"Jawablah Bel, aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan kita. Aku sadar dari awal aku memperlakukan kau tidak baik, tapi bukan berarti aku akan tidak baik selamanya," tuturnya berusaha meyakinkan Belia. Belia masih diam dan enggan merespon. Hatinya seakan belum yakin dengan segala ucapan Muntaz tentang cintanya.


"Ahhh, ya, sudahlah. Tidak perlu lagi membahas ini. Tentang kamu percaya atau tidak bahwa aku mencintaimu, itu tidak penting." Muntaz akhirnya pasrah dan tidak peduli apakah Belia percaya atau tidak dirinya kini sudah memiliki rasa cinta untuk Belia.



Bulanpun berlalu, perhatian Muntaz semakin hari semakin besar. Namun sikap Belia seakan menjauhinya. Ini menjadi ujian bagi Muntaz, dia harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Belia.



Seperti hari ini Belia akan pergi ke pasar. Muntaz yang sedang menonton acara kesukaannya Moto GP, dengan sigap bangkit dan menghampiri Belia.


__ADS_1


"Bel, kau mau ke pasar, kan?" tanya Muntaz seraya memegangi tangan Belia. Belia tidak menjawab dia masih betah dengan sikap diamnya. Namun Muntaz tidak kalah gerak atau mati kutu, dia sudah mempersiapkan cara lain supaya Belia mau bicara sedikit padanya.



"Ayolah, Bel, naik!" titah Muntaz lenbut. Kini sejak hati Muntaz berusaha dan muncul rasa cinta untuk Belia, sikapnya perlahan berubah lebih lembut, selain ingin meraih hati Belia sehangat dulu, Muntaz ingin Belia merasakan bahwa dirinya kini benar-benar mencintainya.



"*Rupanya kau begitu cantik Bel, hatimu tulus* *dan penuh kasih sayang. Hanya sekarang ini saja kau sedang menguji kesabaranku. Aku yakin aku bisa mengembalikan kehangatan dirimu yang dulu ada. Lihat saja dalam waktu paling lama sebulan, aku yakin bisa mengembalikan Bela yang dulu hangat*." Hati Muntaz berkata-kata sambil menatap Belia yang kini terlihat malu-malu.




Motor meninggalkan depan rumah Muntaz dan berjalan dengan santainya. "Pegangan, Bel!" perintah Muntaz seraya meraih tangan Belia yang kanan dan diletaknya di pinggang Muntaz. Muntaz tersenyum gembira meskipun senyumannya tidak terlihat Belia.

__ADS_1



Motor Muntaz yanga harusnya menuju pasar, berbelok ke kanan. Hal ini membuat Belia heran dan ingin protes. Namun Belia berusaha tenang.



Tibalah di sebuah taman, motor Muntaz berhenti di parkiran taman itu. Muntaz turun, diikuti Belia yang turun juga.


"Abang, kenapa ke taman, padahal Belia mau ke pasar?" tanya Belia heran. Muntaz tersenyum, seperti mendapat durian jatuh. Apa yang diharapkannya kesampaian. Yaitu membuat Belia berbicara lagi kepadanya. Dan kini Belia bicara walaupun berupa bentuk protes.


"Kita healing dulu di taman, Bel. Aku ingin membiarkan pikiranmu fresh dan tidak melulu dapur, sumur, kasur saja yang kamu pikirkan," ucap Muntaz berusaha mencairkan suasana hati Belia.



"Tapi, jangan siang-siang. Belia kan mau masak," ujar Belia masih bernada protes.

__ADS_1


"Ok. Sekarang kita nikmati dulu kebersamaan kita di taman ini. Kita berfoto lagi kaya di BKB tempo hari," ujar Muntaz mengenang kembali kejadian saat ke BKB beberapa waktu yang lalu.


Akhirnya walau dengan hati yang sedikit kesal, Belia mengikuti arahan Muntaz. Kemudian mereka berfoto bersama dan menikmati jajanan di tukang jual makanan.


__ADS_2