Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 68 Melahirkan


__ADS_3

Satu bulan kemudian, usia kehamilan Belia menurut perkiraan Bidan Naura adalah seminggu lagi menuju kelahiran. Belia sudah sering merasakan panas dan pegal di pinggangnya. Duduk saja harus diselonjorkan kakinya. Dan kini hampir satu jam sekali ingin ke kamar mandi karena beser.


Melihat Belia gelisah, Muntaz sangat khawatir. Dia kini tidak tenang dalam bekerja karena harus meninggalkan Belia di rumah. Untungnya baik mertua maupun Mamaknya, bisa diandalkan dalam menjaga Belia. Bu Enok kadang bergiliran dengan Cica anak bontotnya untuk menjaga Belia. Muntaz tidak terlalu khawatir akhirnya.


"Aduhhhh," ringis Belia yang kini seperti merasakan mulas di perutnya yang beraturan. Setiap lima belas menit sekali rasa mulas yang tidak enak itu akan muncul dan terasa sakit. Hanya meringis dan berdoa saja yang bisa Belia lakukan. "Apakah ini sudah waktunya?" gumannya bertanya.


Saat mulas itu terasa kembali, Belia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam supaya teratur. Belia tidak bilang pada Bu Enok maupun Mak Susi bahwa kini ia merasakan rasa mulas yang teratur. Belia menduga itu hal yang wajar karena mau mendekati seminggu lahiran, sebab kata Bidan kelahiran bayi Belia diperkirakan akan lahir seminggu lagi.


Menjelang pertengahan siang Bu Enok datang, sengaja siang ini giliran Bu Enok menunggui Belia. Bu Enok yang melihat Belia meringis, nampak khawatir dan curiga. Dalam pikirannya jangan-jangan Belia akan melahirkan. Bu Enok menghampiri Belia dan mengusap dahinya yang basah karena keringat.


"Neng, sejak kapan ini terasanya?"


"Baru tadi siang Bu, sekitar jam 11," jawab Belia sambil meringis. Bu Enok merasa was-was, dia yakin Belia akan melahirkan.


"Bagaimana apakah mulesnya teratur?" tanya Bu Enok lagi.


"Iya, Bu. Lima belas menit sekali," jawab Belia masih meringis.


"Neng sepertinya kamu akan melahirkan, ini tanda-tandanya sudah ada, rasa mules yang teratur. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, ya. Ibu siapkan dulu perlengkapan bayinya ya," ujar Bu Enok.


"Tidak, Bu. Belia ingin bersama Bang Muntaz ke RSnya. Biarkan Belia menunggu Bang Muntaz pulang kerja saja," tolak Belia. Bu Enok mengerutkan keningnya dengan penolakan Belia.


"Kenapa tidak mau sekarang? Biar nanti Dokter kandungan bisa pastikan kapan kamu melahirkan dan mengetahui bukaan berapa sekarang?" desak Bu Enok merasa khawatir.


"Tidak apa-apa Bu, Belia sepertinya bukan hari ini mau melahirkan. Belia hanya ingin pergi bersama Bang Muntaz," ucap Belia teguh dengan pendiriannya. Bu Enok hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar penolakan Belia lagi.


"Ya, sudah terserah kamu saja. Tapi jika di celanamu ada air ketuban, segera bilang ke ibu ya, itu bahaya kalau dibiarkan."

__ADS_1


"Iya, Bu. Belia masih kuat kok. Ini hanya kontraksi palsu kayaknya. Dan sekarang malah hilang dan tidak terasa lagi."


Satu minggu kemudian, saat Belia selesai melaksanakan sholat Subuh. Belia merasakan kembali perutnya mulas persis seperti pernah terjadi satu minggu yang lalu. Namun kali ini sakitnya lebih dari yang kemarin dan sangat kerap. Sepertinya ini benaran Belia mau melahirkan bukan kontraksi semu lagi.


Muntaz yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat Belia kesakitan. "Ada apa Bel?" Muntaz menghampiri Belia dan meraih tangan Belia yang mulai keringat dingin.


"Abang, perut Belia mulas. Sakitttt sekali. Sepertinya Belia mau melahirkan," ucap Belia terengah. Muntaz nampak panik, dia bingung apa yang harus dia lakukan.


"Abang, panggil Ibu dan Mamak saja kemari. Biar mereka yang menyiapkan perlengkapan bayi yang harus kita bawa ke Bidan Naura," ucap Belia dengan tidak henti meringis.


Muntaz segera menghubungi Mak Susi dan Bu Enok seperti apa yang dikatakan Belia barusan. Tidak butuh waktu lama, mereka berdua datang dengan waktu yang hampir bersamaan.


"Assalamualaikum!" kompak kedua orang tua itu menghampiri ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam. Mak, Bu, sepertinya Bela akan melahirkan hari ini," ujar Muntaz dengan muka yang panik.


Bu Enok dan Mak Susi menghampiri Belia yang sedang meringis kesakitan karena menahan mulas. "Taz, ayo siapkan tas yang sudah diisi perlengkapan bayi yang kemarin itu. Semua sudah lengkap di tas itu. Ayo, cepat. Jangan lupa segera pesan grab untuk menuju Bidan Naura," titah Mak Susi tanpa jeda. Semua terlihat tergesa-gesa dan panik.


Tiba di tempat praktek Bidan Naura, mereka segera dilayani oleh salah satu Suster. Belia diperiksa lalu dibaringkan di brangkar.


"Wahhh, bukaannya sudah bagus, tinggal dua lagi menunggu lengkap," ujar Bidan Naura. Pantas saja Belia sangat kesakitan. Tangan Muntaz tidak lepas dari cengkraman jemari Belia yang menahan rasa sakit akibat rasa mulas.


Tidak lama dari itu Belia dipersiapkan di ruangan bersalin. Hanya Muntaz yang boleh masuk untuk memberi semangat pada Belia.


"Bu, apakah istri saya akan kuat jika melahirkan normal?" tanya Muntaz penasaran yang diliputi rasa takut.


"Insya Allah, Pak. Istrinya kuat kok. Ini sebentar lagi akan segera melahirkan. Bapak berdoa dan beri kekuatan saja untuk istri Bapak," jawab Bidan Naura.

__ADS_1


"Bapak, berdiri sebelah kanan pasien dan pegang tangannya." Muntaz mengikuti apa yang dikatakan Bidan Naura. Muntaz menuju sisi kanan Belia, dia memegangi tangan Belia untuk memberi kekuatan.


"Abang, Belia tidak kuat Bang," rintih Belia seraya mencengkram kuat jemari Muntaz karena rasa mulas yang kini semakin sakit dia rasakan.


"Sabar sayang, Abang ada di sisimu," ucap Muntaz memberi semangat.


"Pak Muntaz, Anda sambil berdoa ya, doakan kelancaran untuk istrinya melahirkan, karena sebentar lagi saatnya untuk istri Anda mengejan untuk mengeluarkan jabang bayi di dalam perutnya," tutur Bidan Naura.


Dengan perjuangan yang mempertaruhkan nyawa, Belia berjuang melahirkan bayi dalam perutnya. Tenaganya kini seakan habis. Bidan Naura tidak berhenti memberi arahan dan semangat untuk Belia.


"Ayo, Bu, ngeden lagi, sekali lagi. Ini kepala bayinya sudah mau keluar. Sekali lagi ya. Tarik nafas, dan ngeden yang kuat Bu," ujar Bidan Naura masih memberi arahan dan menyemangati Belia.


Saat pegangan tangan Belia semakin erat dan kuat bahkan sedikit membuat Muntaz kesakitan, bersamaan dengan itu suara tangisan bayi menggema di ruangan bersalin itu. Muntaz menangis bahagia dan segera memeluk Belia.


Bayi merah itu di angkat Bidan Naura untuk dibuntel dan dibersihkan. Sementara itu Belia yang masih lemes segera di bawa Perawat ke ruang perawatan disusul Muntaz di belakangnya.


Mendengar suara tangisan bayi, Bu Enok dan Mak Susi menghampiri ruang bersalin. Namun Bidan Naura menyarankan langsung saja ke ruang perawatan sebab bayinya sudah dibersihkan.


Kini Belia dan bayinya sudah berada di ruang perawatan. Selang infus kini menghiasi tangan kiri Belia. Perjuangan Belia melahirkan tadi cukup melelahkan dan menguras tenaga, sehingga Belia kini harus diinfus dan belum sadarkan diri. Muntaz setia di sisinya dengan cairan bening yang kadang-kadang keluar dari pelupuk matanya.


"Terimakasih Bel sudah memberiku anugrah terindah dalam hidup ini. Kamu dan anak kita adalah anugrah terindah yang kini aku miliki." Muntaz membisikkan kata-kata itu di telinga Belia.


Sementara Bu Enok dan Mak Susi sibuk mengamati cucunya di dalam box bayi yang disiapkan Perawat. Mereka belum tahu jenis kelamin cucunya sebab sejak tadi, Bidan Naura belum memberitahukan. Tidak berapa lama, Bidan Naura datang dan masuk ruangan.


"Wahhhh, bahagia sekali ya Bu sudah memiliki cucu. Selamat ya Bu, dan Pak Muntaz bayi Bapak laki-laki. Bayinya sangat sehat," ujar Bidan Naura menyampaikan. Muntaz bahagia setelah mendengar pernyataan Bidan Naura, ini yang selalu dia impikan, anak pertama laki-laki impian yang menjadi nyata. Tidak bosan-bosan Muntaz mencium kening Belia yang masih belum sadarkan diri.


Bu Enok dan Mak Susi tidak kalah senangnya. Mereka saling berpelukan menyambut kehadiran cucu baru bagi mereka.

__ADS_1


Bersambung


Tunggu satu episode lagi ya teman-teman untuk tamat.


__ADS_2