Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 25 Terbayar Sudah


__ADS_3

Setelah melewati malam yang menyedihkan bagi Belia, Belia tersadar saat kumandang azan subuh diperdengarkan di setiap Mushola dekat rumahnya. Belia bangun dengan mata yang berat dan kepala yang pusing akibat menangis dan tidur yang kurang semalam. Gedoran pintu di luar sebagai kata rayuan gombal dan rasa sesal Muntaz tidak menggoyahkan kesedihan Belia, Belia membiarkan pintu itu digedor sampai bosan.



Belia segera bangkit dan keluar kamar menuju kamar mandi dekat dapur, membersihkan dirinya dan bersuci. Setelah mandi, Belia segera masuk kamar dan berpakaian seadanya lalu melaksanakan sholat Subuh. Memohon pada sang Khalik atas kecewa dan sakit hati serta dosa yang pernah dia perbuat selama ini.



Tidak terasa dalam doanya, Belia meneteskan air mata, dia pasrah dan menyerahkan hidup sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa. Walau dalam hatinya masih belum bisa menyisihkan nama Muntaz untuk tidak dicintainya, namun kini Belia pasrah akan ketentuan Yang Maha Kuasa.



"Ya Allah beri hamba kekuatan dalam menghadapi semua ini, aamiin." Belia mengakhiri doanya dan membereskan mukenanya. Sejak dari kamar mandi tadi Belia sudah mengunci kembali pintu kamar, sehingga saat Muntaz kembali menggedor pintu subuh ini, dia lagi-lagi membiarkan gedoran itu sampai Muntaz merasa bosan.



"Bela ayo keluarlah, aku mau ngomong. Aku mau berangkat kerja, tolong siapkan sarapan aku! Belaaa!" rayunya tanpa mau Belia dengar. Hatinya sudah kecewa dan sakit. Sampai pada akhirnya Muntaz pergi bekerja, Belia tetap di dalam.


Setelah Muntaz benar-benar sudah pergi, Beliau baru keluar kamar. Belia masuk kamar Muntaz dan mencari pakaian yang mau dia pakai.


Sisa make up yang masih berserakan sisa kemarahan Muntaz masih ada, yang berhamburan dan pecah hanya bedak tabur dan padat tapi masih bisa dipakainya. Belia segera menutupi bengkak di mata akibat nangis semalam dengan bedak cushionnya, dan memakai lipstik untuk menutupi bibir pucatnya. Setelah itu Belia segera keluar menuju dapur, pagi ini dia sangat lapar, akibat pertengkaran semalam yang lupa akan makan. Belia sarapan dengan sayur kemarin. Yang penting bagi Belia nasinya hangat.



Menyudahi sarapannya, Belia mengutak-atik HPnya sejenak. Kemudian menuju layanan M-Bankingnya untuk mengirimkan uang senilai enam juta rupiah seperti janjinya tadi malam pada Muntaz, sebagai biaya makan dan numpang tidurnya selama enam bulan hidup bersama Muntaz. Notif masuk ke inbox messagenya pun langsung terdengar bahwa dia telah melakukan transaksi via M-Bangking.

__ADS_1



"Sisa tiga juta," desahnya sedikit terdengar mengeluh. Bagaimana tidak, duit dalam tabungannya merupakan hasil keringat dia nabung selama dua tahun lebih bekerja jadi pelayan di toko buku itu. Pendidikannya yang hanya tamatan SMA tidak mampu menjanjikan dia bekerja di sebuah perusahaan besar atau di posisi yang lumayan, dia cukup jadi kacung saja bersyukur.



Cita-cita Belia setelah lulus sekolah tadinya ingin berkuliah dan melanjutkan ke perguruan tinggi, namun apa dikata? Keadaan ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan baginya melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, memaksa dia untuk memupus harapan mengenyam bangku perkuliahan. Terlebih Belia masih memiliki adik yang masih sekolah, dia mengalah demi Cica sang adik bisa sekolah juga minimal SMA sepertinya.



Akan tetapi Belia tidak putus asa, ekonomi keluarga yang tidak bisa diandalkan untuk membiayai kuliah, tidak membuat Belia pantang menyerah, Belia mulai mencari pekerjaan dan bertekad ingin menyisihkan uang dari hasil bekerjanya untuk biaya kuliahnya tahun depan.



Rencana tinggal rencana, setahun berlalu hasil dari Belia bekerja sebagai pelayan di toko buku itu akhirnya terpakai juga. Bukan untuk biaya kuliahnya, namun Belia mengalah demi adiknya Cica yang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi yang tentunya butuh modal besar.




Sekelumit lamunan masa lalu tentang cita-citanya yang harus terkubur begitu saja, tiba-tiba hadir dalam benaknya. Sekejap Belia mendesah menarik nafasnya dalam-dalam, bukan dia menyesal, namun ketika sadar alangkah lebih baiknya uang enam juta itu dia berikan saja buat biaya semesteran adiknya. Namun semua sudah terlanjur, terlanjur emosi menguasai dirinya.



Akan tetapi di sebalik itu, ada lega yang hadir dalam dadanya. Anggap saja hutang makan dan numpang tidur selama enam bulan di rumah Muntaz terbayar sudah.

__ADS_1



Belia kemudian berdiri untuk bersiap pergi kerja. Setelah menutup dan mengunci rumah, Belia menyelipkan kuncinya di tempat yang hanya diketahui Belia dan Muntaz. Sejenak Belia menatap bangunan rumah itu dengan sedih. "Belia pamit," gumannya berlalu menuju toko buku tempat dia bekerja.



Sementara itu, Muntaz yang baru sampai PT dan duduk di kantin untuk memesan kopi hitam, tiba-tiba dikejutkan bunyi notifikasi M-Bangking masuk dalam SMSnya. Muntaz segera melihat pesan masuk itu. Mata Muntaz melotot melihat ada uang masuk ke dalam rekeningnya, saat dia mengecek mutasi terakhir, rupanya nama Belia yang tertera di sana sebagai pengirimnya. Sejenak Muntaz merasa sangat kesal dengan sikap Belia yang benar-benar menepati janjinya atas ucapannya tadi malam.


"Kau ini Bel, bikin aku kecewa. Mentang-mentang ada duit di rekeningmu. Kau injak harga diriku," gerutunya dalam hati, tanpa sadar Muntaz mengepalkan tangan tanda kesal.


"Nah, tumben kau Taz ada di kantin ini, biasanya kau langsung masuk ruangan, apa sedang berantem samo *wong rumah*, nih?" goda Ridwan salah satu kawan seruangannya.


"Kau ini sok tahu, Wan, aku belum ngopi di rumah, wong rumah kurang enak badan," alasan Muntaz bohong.


"Atau kau berantem gara-gara bini kau masih cemburu sama si Novi?" goda Ridwan lagi.


"Sok tahu!" tepis Muntaz seraya menyeruput kopi hitamnya.


"Bukan sok tahu, kau tuh bodoh nian masih saja temui si Novi. Belum kapok lihat senior kita Bang Zailan yang kena rampok usai dia naik jabatan," cibir Ridwan.


"Aku tuh ketemu si Novi cuma ada perlu *bae*, bukan main petak umpet di belakang wong rumah," kelit Muntaz beralasan.


"Awas kau, ujung-ujungnya kena tipu, nyesel kau!" peringat Ridwan sambil menyeruput kopi hitamnya juga.


"Sok tahu, sudahlah aku masuk dulu," kesalnya sembari berlalu.

__ADS_1


Jam delapan malam tiba, Muntaz dan teman-temannya bersiap untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, hati Muntaz mendadak gelisah. Gelisah memikirkan Belia yang mengirimkan uang enam juta ke rekeningnya.


"Anggap saja hutang makan dan numpang tidur selama enam bulan Belia hidup bersama Abang." Kata-kata Belia itu masih terngiang-ngiang sepanjang Muntaz pulang.


__ADS_2