
Pulang dari pasar, Belia langsung memasak. Hari ini dia akan memasak pindang ikan patin, dan tumis kangkung, serta sambel yang wajib ada di setiap menu. Belia sedikit bersyukur suaminya di hari libur ini ada di rumah, tidak seperti Minggu kemarin dia entah pergi ke mana. Sebab sejak Novi mantan pacarnya datang kembali ke kampung ini, Muntaz pernah beberapa kali pergi dan pernah kedapatan oleh Mak Susi berduaan di Kafe Ceria bersama Novi.
Tiba-tiba HP Belia berbunyi tanda panggilan masuk. "Assalamu'alaikum, ada apa, Bu?" Belia menjawab panggilan telpon itu, rupanya dari Bu Enok, ibunya. "Sebentar, Belia bilang sama Bang Muntaz dulu ya, Bu," ucapnya meminta ijin. Sepertinya Bu Enok meminta Belia untuk datang ke rumahnya. Entah ada hal apa.
Belia membereskan sisa masaknya. Lalu segera beranjak ke kamar mandi dekat dapur, membersihkan diri di sana. Belia masuk kamar dengan rambut yang masih basah dan bergelung handuk, melewati Muntaz yang masih asik menatap TV. Rupanya dia anteng menatap TV karena sedang menonton Moto GP.
"Abang, Ibu menyuruh kita ke rumahnya, ada saudara jauh dari Bandung datang, ingin ketemu kita," ucap Belia memberi tahu. Muntaz cuek seperti tidak mendengar. "Abang!" panggil Belia lagi. Namun tidak ada jawaban, Muntaz masih anteng dengan Moto GPnya. Belia menyerah dia masuk kamar dan berdandan, mengganti baju dan memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan lipstik.
Sejenak Belia menatap pantulan dirinya di cermin, Belia melihat betapa dirinya tidak begitu jelek. Tapi Muntaz memang dasarnya tidak pernah mencintainya, jadi percuma memoles wajah juga, Belia merasa tidak pernah jadi pusat perhatian suaminya.
Lima menit kemudian Bu Enok melakukan panggilan kembali.
"Assalamu'alaikum! Sebentar, Bu. Belia sedang siap-siap." Belia menyahut dan menutup kembali telpon WA dari Ibunya. Belia duduk sejenak, memikirkan bagaimana caranya mengajak Muntaz untuk ke rumah ibunya, menemui saudaranya dari Bandung sana. Kalau tidak ditemui alangkah tidak enak, sebab saudara dari Bandungnya itu merupakan Uwak kandung Belia, yakni kakak dari Bapaknya.
Belia keluar kamar, dan berniat mengajak Muntaz kembali.
"Abang, ada Uwak dari Bandung ingin ketemu kita. Sebaiknya kita temui dulu, sebab sebentar lagi mau langsung ke Prabumulih," ucap Belia memberitahu dengan tidak putus asa.
Sejenak Muntaz melihat ke arah Belia yang tertegun menunggu jawaban Muntaz. "Aku sibuk, nanggung lagi lihat Moto GP. Pandai-pandai kaulah kasih alasan ke Uwak kau, aku *begawe* kek atau *baseng* apa yang mau kau katakan," ucap Muntaz dengan nada tinggi. Belia menatap nanar ke arah Muntaz dengan mata berkaca-kaca. Tega banget Muntaz mengatakan begitu, padahal cuma menemui Uwaknya yang ingin bertemu.
Belia segera mengusap butiran bening yang kini mulai merembes pipinya, dia terpaksa akan pergi tanpa bersama Muntaz. Setelah rasa sesak di dadanya reda akibat penolakan suaminya, Belia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun sebelum tiba di muka pintu, Belia berbalik dan mengatakan sesuatu pada Muntaz.
__ADS_1
"Belia pergi, jika Abang mau sarapan, tinggal ambil di tudung saji. Maaf Belia tidak bisa menemani Abang," ucapnya berbasa-basi lalu benar-benar beranjak meninggalkan Muntaz yang sibuk dengan dunianya.
Tiba di rumah orang tuanya yang hanya beda tiga lorong dari rumahnya, Belia disambut baik oleh Uwaknya.
"Belfit, apakabar, Nak? Kamu makin cantik saja. Sudah lama Uwak tidak bertemu kamu. Kamu setelah jadi istri makin cantik dan dewasa ya, pasti suami kamu, Muntaz sangat memanjakanmu. Alhamdulillah, kalau begitu. Uwak bersyukur, kalian di tempat orang tidak susah," ujar Uwak Salamah, istri dari Wak Nanang, Uwak kandung Belia. Wak Salamah kebiasaan memanggil Belia dengan sebutan Belfit alias Belia Fitri, panggilan kesayangan.
Wak Nanang menatap Belia dengan sumringah, betul apa yang dikatakan istrinya, Belia keponakannya itu tambah cantik dan lebih dewasa. Belia menghampiri keduanya dan menyalami dengan takzim.
"Makasih Wak, Alhamdulillah Belia sehat. Bagaimana kabar Teteh dan Aa semua, sehat?"
"Alhamdulillah, Bel. Mereka sehat. Justru itu kami kemari, untuk memberitahukan kabar bahwa Tetehmu Jelita akan menikah sebulan lagi. Kamu datang ya," tutur Wak Salamah memberitahu.
"Nah, baru ingat Uwak, suamimu mana? Apakah dia sedang kerja, kok tidak datang bersamamu, Bel?" Wak Nanang bertanya heran mencari Muntaz suami Belia.
Belia tertegun sejenak, dia sedang berpikir alasan yang tepat apa untuk menyebutkan alasan suaminya tidak ikut datang. Tidak mungkin dia menyebutkan bahwa suaminya sedang menonton TV.
"Bang Muntaz ada Wak, cuma dia sedikit tidak enak badan tadi. Dia hanya titip Salam buat Wak berdua," Belia memberi alasan yang sebetulnya mengada-ada, namun demi kehormatan suaminya terpaksa Belia berbohong.
"Tidak apa-apa, Bel. Biarlah suamimu istirahat. Karena sakit demam sekarang disertai cacar air yang sedang musim dimana-mana, dan bagi yang belum terkena cacar harus hati-hati, sebab virusnya cepat menular," peringat Wak Salamah bercerita.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Pak Deden dan Bu Enok menyuruh Belia menyiapkan hidangan makanan, untuk menjamu keluarga jauhnya itu. Dibantu sang adik Cica, Belia menyiapkan makanan untuk disuguhkan pada Uwaknya.
"Ayo, Wak, kita makan dulu!" Belia memanggil kedua orang itu untuk makan bersama. Akhirnya mereka makan bersama di kediaman rumah orang tua Belia. Selesai makan, mereka kembali berbincang-bincang ringan.
"Jadi, Teh Jelita akan menikah dengan orang mana, Wak?" tanya Belia ingin tahu.
"Kebetulan Tetehmu mendapatkan orang Jawa, dia asli Jogja. Mungkin setelah menikah, Tetehmu akan diboyong langsung ke Jogja, sebab calon suaminya berprofesi Tentara yang kebetulan dinasnya di Jogja," terang Wak Nanang menceritakan salah satu anaknya yang sebentar lagi akan menikah.
"Duhhh, alangkah senangnya Teh Jelita sebentar lagi akan menikah. Pastinya calon suaminya sayang banget ya sama Teh Jelita."
"Alhamdulillah, calon suami Tetehmu baik dan penyayang. Insya Allah mereka akan setia dan saling sayang. Bagaimana suamimu, Bel, sepertinya dia juga baik, ya? Pasti sekarang dia sudah sangat mencintai kamu, kan Bel?" tanya Wak Salamah menebak-nebak. Mendapatkan todongan pertanyaan seperti itu, Belia hanya bisa tersenyum malu-malu dan menunduk. Sebetulnya Belia sedang menyembunyikan hal yang sebenarnya. Yang tidak bisa dia ceritakan pada Uwaknya atau pada kedua orang tuanya.
"Sudah bisa kita tebak ya, Pak. Suaminya Belfit pasti sayang banget sama ponakan kita. Semoga Nak Muntaz cepat diberikan kesembuhan sakitnya," ujar Wak Salamah sambil melirik Wak Nanang.
Sementara itu di kediaman Muntaz yang baru saja mengakhiri menonton Moto GP disalah satu TV swasta, baru menyadari Belia tadi pamit ke rumah orang tuanya untuk menjumpai saudara jauhnya dari Bandung. Karena bagaimanapun di mata keluarganya Belia, Muntaz tidak ingin terlihat buruk, meskipun perlakuan dia pada Belia begitu buruk.
Muntaz segera bergegas menuju rumah mertuanya dengan berjalan kaki, sebab rumah mertuanya hanya berbeda tiga lorong dari rumahnya.
begawe \= bekerja
baseng \= terserah
__ADS_1