
Setelah semua siap, mobil melaju membelah kota pempek, dengan tujuan Jembatan Ampera. Untuk ke Pulau Kemaro para pengunjung harus melakukan perjalanan air menggunakan kapal atau perahu nelayan, sebab letak Pulau Kemaro berada di tepi Sungai Musi.
Mungkin karena hari ini libur yang bertepatan dengan imlek, jalanan di kota pempek mendadak macet. Mobil pun tertahan diantara mobil-mobil yang lain.
"Macet," keluh Haraz memandang ke depan kiri dan kanan jalan. Ya, semua pengendara di jalan merasakan perasaan yang sama seperti Haraz. Kesal dan bosan pasti dirasakan.
Untuk membunuh bosan Yuk Salfina dan Mak Susi terlibat perbincangan. Apa saja diobrolkan, sampai yang memesan pempek ke Mak Susi dibahas di situ.
Rasya yang sejak awal ingin duduk bersama Om Ciknya alias Muntaz, duduk di tengah-tengah mereka seraya berceloteh menghangatkan suasana hati Belia dan Muntaz yang diam-diaman. Kini Rasya melibatkan Belia dan Muntaz dengan mengajaknya ikut bermain dengan permainan yang menggunakan tangan.
"Ayo Om, tangannya berpegangan dengan Tante Bela," celoteh Rasya seraya menautkan tangannya ke tangan Muntaz dan menautkan tangan Muntaz ke tangan Belia menjadi tumpang tindih. Muntaz dan Belia tersentak melihat tangannya sedekat itu, akan tetapi mereka tidak bisa protes. Akhirnya Belia dan Muntaz mengikuti permainan yang diatur Rasya.
"Ayo Om, Tante, ikuti Rasya ya!" arahnya sambil memperagakan permainan yang akan dimainkan.
"Pancasila lima dasar," ucapnya sedikit disenandungkan.
"Nah, pas Rasya bilang kayak gitu jari kita harus diangkat, jumlahnya berapa saja. Nanti Rasya hitung pakai abjad dari a sampai z, setelah jari kita sudah dihitung dan digabung semua, nanti kita sebutin nama buah sesuai huruf terakhir," terang Rasya antusias.
"Yang tidak bisa menjawab harus dapat hukuman," putus Rasya. Belia dan Muntaz sedikit mengkerut. "Yang tidak bisa jawab harus dihukum dengan ... dengan apa, ya, Bunda?" Rasya bertanya pada Salfina.
"Apa sayang, hukuman apa?" tanya Salfina heran.
"Rasya mau bikin permainan Pancasila lima dasar, terus bagi yang tidak bisa jawab dia harus dihukum, hukumannya menurut Bunda apa, ya?" Rasya minta pendapat Ibunya lagi.
"Apa ya?" Salfina berpikir beberapa saat.
"Hukumannya tidak boleh yang menyakitkan, jadi yang pantas untuk hukumannya adalah dicium pipi saja, sebab jika Rasya dicium pipi sama Om dan Tante Bela pasti sangat menyenangkan," ujar Salfina akhirnya memberikan usulnya.
__ADS_1
"Ihhh Bunda, Rasya pasti bisa menjawab! Jadi Rasya tidak mungkin dapat hukuman," protesnya manyun.
"Iya deh Bunda percaya, Rasya bisa menjawab, anak Bunda, kan, pintar." Alih-alih Salfina memuji anaknya sambil tersenyum.
Belia tersenyum geli, dia yakin pasti bisa menjawab semua permainan ini.
Akhirnya permainan itu dimulai, dan diperagakan sesuai arahan Rasya seperti aturan diawal. "Pancasila lima dasar." Begitu Rasya mengatakan itu, ketiganya memberikan beberapa jarinya untuk dihitung. Dan Rasya mulai menghitung.
"A, b, c, d, e, f, g, h, i, j." Semua jari yang digabung ternyata ada sepuluh dan jatuh di huruf J. Semua bisa menjawab nama buah yang berawalan huruf J, dan permainan sukses sampai pada beberapa kali permainan belum ada yang gagal menjawab.
Keheningan dan kekakuan antara Belia dan Muntaz seketika sirna begitu saja. Akibat permainan yang diciptakan Rasya, diantara mereka seakan tidak terjadi apa-apa. Malah antara Belia dan Muntaz seakan berkomunikasi saat masing-masing menyebutkan nama buah yang harus disebutkan.
Pada permainan selanjutnya kali ini Rasya tidak bisa menjawab nama buah dari huruf K.
"Itu, kan, sudah om jawab, ayo cari yang lain," suruh Muntaz.
"Kesemek," jawabnya lagi.
"Kesemek, kan, jawaban tante," ralat Belia. Rasya nampak berpikir dan bingung.
"Ahhh, menyerah," ucapnya pasrah. Akhirnya Rasya dapat dua ciuman dari Belia dan Muntaz.
Permainan dilanjutkan, dan kali ini kebagian huruf P, Muntaz dan Rasya sudah menjawab masing-masing Pisang dan Peanaple alias Nanas, dan jawabannya boleh menggunakan bahasa Inggris atau Latin. Giliran Belia, kini blank dan bingung memberi jawaban. Otaknya muter memikirkan nama buah dari P baik dalam bahasa Inggris maupun Latin.
"Menyerah," ucapnya pasrah setelah beberapa menit. Akhirnya Belia mendapat hukuman yaitu dicium pipi oleh Rasya dan Muntaz. Giliran Muntaz yang mencium, di sana dia mencium pipi Belia sedikit lama. Dada Belia mendadak berdebar kencang saat mendapat ciuman pipi dari Muntaz.
Salfina yang masih ngobrol dengan Mak Susi, sejenak matanya memicing saat melihat Muntaz mencium pipi Belia, hatinya bersorak senang. Dia berharap ini pertanda baik buat hubungan rumah tangga Belia dan Muntaz.
__ADS_1
Permainan selanjutnya, Belia gagal lagi menjawab. Dia mendapat hukuman kembali dari Rasya dan Muntaz. Kali ini Muntaz mencium pipi Belia dengan penuh perasaan. Jantung Muntaz ikut berdebar, dia merasakan getaran aneh saat mencium kali ini, rasanya ingin mencium Belia lebih lama lagi. Belia menyesal tadi diawal sempat menyepelekan hukuman dari Rasya, dia pikir dia tidak akan gagal menjawab.
Permainan dilanjutkan. Tapi, kali ini nama benda yang harus disebutkan. Huruf J terpilih sebagai huruf yang keluar. Rasya dan Belia sudah menjawab jarum dan jubah sebagai jawaban, kini giliran Muntaz yang bingung menjawab. Satu menit Muntaz berpikir, akhirnya menyerah setelah bingung mencari jawaban.
Akhirnya hukuman bagi Muntaz tiba, Rasya memulai mencium. Kini giliran Belia mencium, namun ada ragu dan debaran yang hebat dalam dada Belia ketika dia mau mencium.
"Ayo cium, cium!" Rasya memberikan yel-yel penyemangat. Akhirnya dengan berdebar, Belia mencium pipi Muntaz perlahan.
"Cupp," pipi kiri Muntaz dicium Belia sekilas lalu dilepaskan. Rasa canggung seketika menyergap. Dan rasanya Belia ingin segera mengakhiri permainan itu. Sebab rasa malu tiba-tiba bergelayut dalam dadanya, padahal cuma mencium pipi Muntaz, pasangan sahnya.
Permainan dilanjutkan kembali. Kali ini Muntaz gagal lagi saat harus menyebutkan nama barang dari huruf M, Rasya dan Belia menjawab Meja dan Motor sedangkan Muntaz masih mikir dengan bingung. Kali ini Muntaz bukan bingung, dia sebetulnya sudah memiliki jawaban yaitu Mobil, namun kini dia sengaja gagal menjawab supaya dapat hukuman dari permainan ini yaitu dicium pipi sama Rasya dan Belia.
Rasya sudah mencium, kini giliran Belia mencium. Salfina kali ini diam-diam merekam permainan Rasya, dan berhasil mengabadikan momen Rasya mencium Omnya dengan kamera *hidden*. Kini giliran Belia mencium Muntaz. Perlahan Belia mendekat, saat sudah beberapa centi tiba-tiba tangan Belia dicekal Muntaz dan ciuman di pipi itu terjadi lumayan lama sebab tangan Belia yang terkunci dengan tubuh yang condong menimpa Muntaz.
Jantung Belia mendadak berdebar semakin kencang.
Salfina tertawa bahagia dalam hati, dia berhasil melibatkan Rasya dalam kedekatan Belia dan Muntaz lewat sebuah permainan. "*Semoga* *setelah ini mereka terjalin hubungan baik*," harapnya tulus. Dan kamera hidden itu berhasil mengabadikan adegan Belia mencium Muntaz yang lumayan lama.
Belia melepaskan ciumannya, Muntaz juga melepaskan cekalannya sembari menatap wajah Belia yang memerah.
Satu jam berlalu, tidak terasa mobil yang dikemudikan Haraz, tiba di parkiran Jembatan Ampera. Karena macet, jarak yang harusnya ditempuh kurang lebih 30 menit, kini memakan waktu sampai 60 menit lebih. Mereka semua turun dari mobil untuk melanjutkan kembali perjalanan ke Pulau Kemaro dengan menggunakan perahu nelayan.
Sampai Jumpa di Pulau Kemaro.
hidden \= tersembunyi
__ADS_1