
Menjelang jam lima sore, Belia pamit pulang dari rumah orang tuanya. Kebetulan Cica sudah pulang, akan tetapi Pak Deden masih belum pulang dari kota.
"Bu, Belia pamit pulang ya. Ca, teteh pulang ya, jagain Ibu," pamit Belia seraya mencium tangan Bu Enok.
"Assalamualaikum! Ca, jangan lupa seblaknya habiskan, tapi sisain buat Bapak," teriak Belia sambil berjalan menjauh dari rumah orang tuanya.
"Waalaikumsalam, hati-hati Teh!" balas Bu Enok dan Cica sembari melambaikan tangan mengantar kepulangan Belia.
Lima belas menit kemudian Belia tiba di rumah. Rumah masih sepi, artinya Muntaz belum pulang, padahal tadinya Belia berharap Muntaz sudah pulang dan sedang menunggunya. Harapan yang tidak sesuai, Belia hanya bisa menelan ludah tanda kecewa. "Kemana kamu Bang? Semoga kamu baik-baik saja." Belia berdoa dalam hati untuk keselamatan suaminya. Bagaimanapun juga Belia memang menyimpan rasa cinta pada Muntaz.
Belia segera masuk rumah, sebelum masuk entah kebetulan atau sengaja, temannya Merry datang dan menghampiri Belia. Motor maticnya langsung berhenti di depan rumah Belia.
"Assalamualaikum!" salam Mery sembari turun dari motor. Belia langsung menoleh dan sedikit terkejut.
"Yuk Mery, waalaikumsalam! Masuk Yuk, tumben nih sampai bertamu ke rumah? Apakah ada apa-apa sampai Ayuk menghampiri Belia ke rumah?" Belia terheran-heran dengan kedatangan Mery yang tiba-tiba.
"Ah, kau ini, aku nih macam jelangkung saja jika kau bilang tumben. Aku kepengen saja ke rumah kau. Kebetulan anak lanangku latihan karate di gedung olah raga Sekojo, aku tinggal dulu, biar nanti baliknya aku samperin lagi ke sana," ujar Mery.
"Ya, udah masuk, Yuk, Belia punya oleh-oleh nih dari rumah Ibu."
"Lah, kau habis dari rumah Mamak kau? Wah, untung aku datang ke rumah kau pas kau sudah pulang dari rumah Mamak kau." Mery masuk mengikuti Belia.
__ADS_1
"Langsung ke dapur saja, Yuk!" ajak Belia seraya meletakkan kantong kresek yang tadi dibawanya dari rumah Ibunya.
"Siapa yang buat seblak, kau atau Mamak kau?"
"Belia, Yuk. Ayo cicip Yuk! Mau dikasih nasi juga enak kok."
"Wahhh, harumnya enak Bel, *caknya* enak nih seblak buatan kau, tidak kalah dari seblak buatan kedai-kedai makan di pinggir jalan *caknya*," puji Mery sembari menghirup harum seblak yang baru dikeluarkan dari plastik transparan.
Belia dan Mery mulai menikmati seblak buatan Belia. Isi seblaknya macam-macam, ada telur, tahu, siomay, ceker ayam juga sayuran.
"Wahhh, ini nih namanya seblak macam-macam isi," ujar Mery sembari mulai menyeruput kuah seblak.
"Wah, segar banget dan enak Bel. Pandai kau buat," puji Mery seraya menikmati seblak buatan Belia dengan senangnya.
"Sudah, Bel, aku kenyang, apalagi pakai nasi, perutku sampai gembung begini." Mery memegangi perutnya yang mendadak buncit gara-gara makan seblak buatan Belia.
Akhirnya Belia dan Mery selesai makan seblak. Mery belum mau pergi dari rumah Belia untuk menjemput anak lanangnya karate karena belum waktunya pulang.
Obrolanpun berlanjut di meja makan. Ngalor ngidul apa saja dibahas. Ketiadaan Muntaz di rumah juga jadi bahan obrolan Mery.
"Ngomong-ngomong suami kau tidak kelihatan, kemana Bel?" Mery penasaran sambil meneliti seluruh ruangan rumah Belia.
"Bang Muntaz ada kepentingan di luar, Yuk. Tadi dia bilangnya begitu," jawab Belia seadanya.
__ADS_1
"Ohhhhh, tapi tadi siang kayaknya aku melihat motor suami kau di Kalidoni. Sepertinya masuk ke dalam warung tenda hotpop dan yang paling kaget dia bersama seorang perempuan," ujar Mery berubah kesal.
Mendengar itu, Belia duduk terdiam belum berani menyahut apa-apa cerita Mery, yang ada kepalanya kini seakan pusing dan tubuhnya tiba-tiba lemas. Berarti firasatnya benar tentang Muntaz. Muntaz ternyata pergi menemui mantan pacarnya itu.
"Bel, kau tidak apo-apo?" Mery nampak khawatir melihat Belia diam tidak bergerak atau membalas ucapan Mery tadi.
"Tidak, Yuk. Belia hanya tiba-tiba sakit kepala," jawab Belia dengan tatapan sedih. Tadi saat makan seblak masih ceria dan menikmati.
"Aduh maaf deh Bel, gara-gara aku bilang melihat Muntaz di mana, kau malah jadi sedih. Aku minta maaf, ya!" sesal Mery seraya memegang tangan Belia.
Belia menggelengkan kepalanya tanda tidak kenapa-kenapa. "Tidak apa-apa, Yuk," jawab Belia berbohong padahal dia sakit banget mendengar pengakuan Mery barusan. Belia merasa dibohongi oleh Muntaz. Padahal baru beberapa hari ini Muntaz seolah memberi harapan padanya, tapi rupanya membohonginya. Belia sangat sedih, namun dia berusaha menahan tangis di depan Mery.
"Wahhh, aku lima menit lagi harus jemput anakku nih, Bel. Aku minta maaf tidak bisa temani kau. Soal kabar Muntaz laki kau, aku juga minta maaf bukan bermaksud membuat kau sedih. Kau sabar ya, Bel," ujar Mery mencoba menegarkan kesedihan Belia.
"Sudah tidak apa-apa, Yuk. Jangan merasa bersalah telah mengatakan penemuannya tentang Bang Muntaz. Belia justru terimakasih sama Yuk Mery karena memberitahu Belia," tutur Belia menahan sedih.
"Ya sudah kalau begitu, aku pamit ya. Baik-baik di rumah. Assalamualaikum!" pamit Mery menyisakan kesedihan yang mendalam.
Belia segera menutup pintu dan mengunci pintu setelah kepergian Mery dari rumahnya. "*Rupanya* *Abang bohongi Belia, Abang tega*." Belia berkata-kata di dalam hatinya seraya berurai air mata. Hilang sudah rasa percaya dan harapannya yang tadi sempat ada untuk Muntaz.
__ADS_1
caknya \= kayaknya, sepertinya