Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 57 Muntaz Menyadari Ketulusan Belia


__ADS_3

Tiba di rumah, Belia segera membawa belanjaan ke dapar dan diletak untuk sementara di atas meja, lalu Belia kembali menghampiri Muntaz dan membantunya duduk. Belia membantu Muntaz menyelonjorkan kakinya supaya lurus. Dengan segera Belia mengambil baskom kecil yang diisi air hangat dan ditaburi garam. Kemudian air larutan garam yang masih hangat itu ia basuhkan di bagian tubuh yang luka.



Sesekali Muntaz meringis saat lukanya dibersihkan Belia. Muntaz melihat betapa telaten dan luwesnya Belia merawatnya. Padahal Belia masih sangat muda, usia 20 tahun terbilang usia yang masih ingin bermain dan ngumpul-ngumpul bersama teman-temannya, tapi tidak dengan Belia. Sepertinya Belia sudah tertempa dan terbiasa oleh kerasnya hidup, sehingga dia mandiri dan tidak manja. Nilai plus di balik kecantikannya begitu banyak, Muntaz kini menyadarinya dan dia berguman bangga memiliki Belia.



"Ternyata aku beruntung memiliki kau, Bel. Aku menyesal dulu saat pertama nikah menyia-nyiakan kau dan memperlakukan kau tidak baik. Kini aku sadari, kau begitu berarti dan berjasanya bagi diriku, Bel," guman Muntaz bangga memiliki Belia.



Setelah selesai membasuh luka dengan air hangat, lalu Belia menempelkan kain kasa dan plester di tumit dan lutut yang luka tadi. Dan rasa sakit Muntaz kini sedikit berkurang setelah ditutup kasa dan plester.



"Sudah," ujar Belia seraya berdiri hendak meletakkan kembali kotak P3K. Muntaz dengan cepat meraih lengan Belia sehingga langkahnya terhenti.


__ADS_1


"Bel, terimakasih, ya. Kau merawat aku dengan baik," ucap Muntaz sambil ingin mencium pipi Belia yang merona merah. Belia sedikit malu dengan menundukkan pandangan mata. Muntaz semakin terpesona dan gemas dibuatnya. Dia dan Belia seperti masih membina hubungan pacaran yang malu-malu padahal telah menikah.



"Bel, bagaimana telor-telor yang sudah pecah itu? Harusnya tadi kau buang saja langsung di tong sampah dekat ruko samping jalan. Nanti aku belikan deh, di toko sembako ujung jalan," ujar Muntaz sungguh-sungguh.



"Tidak apa-apa, tidak perlu dibuang. Telurnya mau Belia pisahkan dari semua cangkang, lalu Belia goreng untuk dikasihkan ke si **Tido** kucing tetangga, kebetulan Tido suka nian telur goreng. Atau sebagiannya mau Belia jadikan orek telur dicampur cabe dan bawang, lumayan buat lauk nasi," papar Belia jelas. Muntaz tersentak saat Belia bilang akan dijadikan orek telur dicampur cabe dan bawang, kesannya jorok sebab pecahan telur itu bercampur dengan cangkang telur.



"Jangan kau jadikan orek telur lalu dijadikan lauk makan, itu jorok Bel, jiji. Sebab cangkang telur itu kotor," cegah Muntaz terlihat ngeri.


"Ya, sudahlah Bel kalau macam itu, asal tidak beracun bagi tubuh kau, terserah kau mau dijadikan orek telur atau digoreng buat si Tido atau kucing-kucing tetangga yang lainnya," usul Muntaz. Belia tersenyum penuh arti sambil meninggalkan Muntaz ke dapur. Tidak berapa lama Belia muncul dengan membawa sepiring kue-kue yang tadi sempat dibelinya di pasar.



Belia kembali lagi ke dapur untuk memasak dan mempersiapkan sarapan pagi kali ini. Hatinya kini kembali menghangat seiring sikap Muntaz yang mulai menghangat juga.

__ADS_1



Sarapan pagipun telah siap, Belia dengan cepat dan sigap menyelesaikan masaknya. Sehingga tidak butuh waktu lama selesai dan siap dihidangkan untuknya dan Muntaz.



Setelah sarapan pagi berdua selesai, Muntaz menghubungi seseorang. Sepertinya dia mengajak janjian dengan seseorang. Dengan cepat dan tergesa Muntaz berganti pakaian, kini penampilannya secepat kilat telah berubah. Berjaket dan celana jeans lalu berkacamata hitam. Muntaz terlihat sangat tampan, Belia akui itu.



Ketika Muntaz menyadari bahwa dirinya sedang jadi pusat perhatian Belia, secepat tupai melompat Muntaz menangkap pinggang Belia lalu dihadapkannya tubuh Belia ke hadapan Muntaz. Muntaz meraih dagu Belia perlahan yang selalu menunduk malu, lalu dikecupnya bibir Belia yang kini seringnya terkatup. Kecupan cinta yang kini dirasakan Muntaz yang menggebu. Namun dia tidak bisa lama-lama melakukannya sebab dia ada janji dengan Sabqi.



"Aku pergi dulu ya, ada urusan penting bersama Sabqi perihal betina itu, jangan khawatirkan aku. Kau baik-baik di rumah ya," ujar Muntaz seraya beranjak. Meskipun kakinya masih terlihat tertatih tapi Muntaz memaksa untuk pergi.



Saat motor Muntaz mulai menjauh Belia seakan tersadar, siapa yang akan dijumpai Muntaz. "Abanggg, jangan bertindak yang tidak-tidak. Jangan berurusan dengan Novi lagi," teriak Belia khawatir sebab kali ini Muntaz sepertinya menaruh dendam pada Novi terutama perlakuan Novi. Percuma teriakan Belia tidak terdengar lagi oleh Muntaz.

__ADS_1



"Semoga Abang selalu dalam lindungan-Nya," harap Belia was-was.


__ADS_2