
Setelah kehangatan pagi itu dilalui beberapa saat oleh keduanya, Muntaz kemudian bersiap berangkat kerja seperti biasanya. Sementara Belia menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya juga. Dia masih melayani Muntaz dengan baik, baik di dapur maupun di kasur.
Di sela-sela Belia sedang menyiapkan sarapannya, Muntaz menatap setiap pergerakan Belia. Belia masih sigap dan lihai menyiapkan sarapan untuknya, meskipun sikap Belia kini nampak datar tidak seperti sebelumnya yang selalu ingin mencuri perhatian Muntaz.
Mungkin rasa kecewa Belia masih terlanjur bersemayam dalam dadanya. Belia masih bisa melayani Muntaz baik lahir dan batin, namun sejak sikap Muntaz kemarin itu rasa kecewa Belia masih belum bisa sirna.
Sarapan Muntaz telah siap beserta air bening di meja makan, Belia langsung beranjak ke kamar untuk menyiapkan diri yang sebentar lagi juga harus pergi bekerja. Belia kembali keluar dengan tampilan anggun dan semakin cantik dengan kerudung segi empat berwarna kuning emasnya.
Dari meja makan Muntaz memperhatikan Belia. Dia berdecak kagum melihat kecantikan wajah Belia yang semakin bersinar. Ingin rasanya dia merangkul Belia dan mencegahnya untuk tidak pergi bekerja.
"Bel, aku sudah mengirimkan kembali uang enam juta itu ke rekening kau," ujar Muntaz setelah barusan terlihat mempermainkan Hpnya. Rupanya Muntaz mentransfer kembali uang yang dikirim Belia ke rekeningnya, dikembalikan ke rekening Belia.
"Kenapa Abang kembalikan, bukankah itu hitungan hutang Belia? Dan bulan depan Belia akan mencicil kembali satu juta." Belia mendongak dan protes.
"Belaaa, tidak ada yang menghitung makan dan kehadiranmu di rumah ini. Tolong lupakan masalah itu, itu sudah berlalu kemarin. Dan aku tidak meminta kau membayar apapun di rumah ini. Bukankah baru tadi pagi kita sehangat itu, tapi kenapa kau masih sedingin ini?" Muntaz tidak senang dengan respon Belia, dia kecewa.
Belia tidak menyahut, dia berjalan melewati Muntaz yang masih di meja makan. Belia meraih gelas dan menuangkan air bening dari dispenser lalu meneguknya. Muntaz masih terus menatapnya. Sikap Belia yang datar ini membuat Muntaz merasa tersiksa, biasanya Belia tidak pernah seperti itu.
__ADS_1
Sampai tiba waktunya Muntaz pergi bekerja, Belia masih bersikap sama, yaitu datar tanpa ekspresi.
"Bela, aku pergi dulu." Muntaz berpamitan dan menyodorkan tangannya ke hadapan Belia. Namun Belia tidak meraihnya, dia pura-pura tidak melihat.
"Bela," ulang Muntaz sedikit kecewa. Namun Belia malah meninggalkan Muntaz yang kaget. Lima menit kemudian Muntaz terpaksa pergi tanpa perhatian lagi dari Belia.
Belia melihat Hpnya dan saldo masuk melalui layanan M-bankingnya, rupanya benar Muntaz mengembalikan uangnya. Belia hanya mampu mendesah, menerima sikap Muntaz yang kini sedikit berubah padanya. Akan tetapi Belia tidak mau terjebak dengan sikap perhatian sesaat Muntaz. Belia yakin Muntaz hanya memanfaatkan kemaafan darinya.
Sepuluh menit kemudian Belia pergi untuk bekerja. Berjalan kaki menyusuri jalanan ruko-ruko untuk menuju ke toko buku tempat dia bekerja.
Sebelum Belia sampai di toko buku Buana tempat dia bekerja, tiba-tiba lelaki yang ingin dia hindari datang berlari kecil menghampirinya.
"Untuk itu mulai sekarang aku tidak akan mengejar kamu lagi, Bel. Karena aku sekarang sudah tahu kamu sudah memiliki suami. Kenapa kamu tidak katakan terus terang bahwa kamu sudah menikah saat Abang tanya kemarin itu?" lanjut Najid sedikit kecewa.
Jantung Belia mendadak berdetak kencang setelah mendengar pengakuan Najid saat itu. Yang ada dalam pikirannya adalah justru tentang Muntaz. "*Benarkah Bang Muntaz tadi malam* *mendatangi Bang Najid*?" hati Belia dipenuhi beribu pertanyaan dan gundah gulana.
"*Apa yang dikatakan Bang Muntaz kepada Bang* *Najid*?" Belia masih terpaku dengan pikiran yang melanglangbuana masih mempertanyakan alasan Muntaz mendatangi Najid.
__ADS_1
"Kalau begitu, Belia pamit ya, Belia mau bekerja." Tanpa banyak kata, Belia berpamitan pada Najid. Namun belum sampai kakinya melangkah, tiba-tiba Sela datang dan menyapa Belia.
"Belia ... tunggu aku," Sela menghentikan langkah Belia. Sejenak Belia tersentak dengan kedatangan Sela yang tiba-tiba.
"Iya, Sel, ayo!" ajak Belia sambil beranjak dari hadapan Najid yang masih berdiri di situ. Sela melihat Najid tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu ingin cari perhatian Belia. Namun hari ini Sela melihat Najid bersikap biasa pada Belia. "*Mungkinkah suami Belia mendatangi Bang Najid*, *dan memberi ancaman supaya menjauhi Belia*?" Hati Sela berkata-kata penasaran dan menduga-duga.
"Maafkan aku Bel, aku hari itu sudah dengan sengaja mengirimkan foto kalian ke suami kamu, supaya suami kamu tahu bahwa ada lanang lain yang memperhatikanmu," sesal Sela dalam hati, akan tetapi dia merasa puas dengan sikap yang ditunjukkan Najid pada Belia yang menurutnya terlihat berbeda.
"Aku melakukan ini tidak lain hanyalah supaya Bang Najid membuka mata, bahwa selain Belia masih ada aku yang masih sendiri," sambung hati Sela. Rupanya Selalah yang mengirimkan foto kebersamaan Belia pada Muntaz hari itu. Ternyata Sela ada hati pada Najid sang bos showroom. Sela berharap setelah ini Najid bisa sedikit luwes terhadap dirinya dan menyadari perasaan Sela yang sering Sela tunjukan pada Najid.
Belia dan Sela kini menuju toko buku tempat mereka bekerja untuk mencari nafkah.
Setelah berkutat dengan pekerjaan di toko buku Buana, jam pulang pun tiba. Jam menunjukan pukul empat sore, kini saatnya Belia pulang. Belia segera membenahi alat-alat kerjanya. Sela juga sang rekan kerja sama-sama membereskan alat kerjanya.
B"Aku duluan ya," pamit Belia pada Sela yang masih menunggu jemputannya. Kebetulan hari ini dia dijemput adiknya. Sementara Belia seperti biasa, berjalan kaki menuju pulang.
Belia kini berjalan melanjutkan kembali perjalanan pulangnya menuju rumah. Kepulangannya kali ini masih diliputi hati yang bertanya-tanya dengan perubahan sikap Najid.
.
__ADS_1
.