Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Kecewa Belia


__ADS_3

Sore menjelang, Belia kini berada di belakang rumahnya mengangkat jemuran yang telah kering. Perempuan muda itu sudah terlatih perihal pekerjaan rumah. Memasak, dan beres-beres rumah sudah sangat cekatan. Pantas saja Mak Susi selalu memuji Belia, dia memang rajin dan cekatan. Setelah mengangkat jemuran, sejenak dia duduk di bangku belakang rumah sembari menatap cahaya senja yang semburat dari ufuk barat.



Angin sore yang menerpa wajah, membuat Belia memaksa dirinya segera masuk rumah. Belia membawa jemuran keringnya ke ruang tengah kemudian dilipatnya. Karena baru diangkat langsung dilipat, hasil lipatannya nyaris seperti habis disetrika. Sungguh tidak diragukan lagi kemahiran Belia dalam urusan rumah tangga. Lantas keraguan apa lagi yang membuat Muntaz masih belum bisa mencintai Belia?



Muntaz keluar dari kamar dengan dandanan yang sudah rapi, wangi dan tampan. Belia menduga Muntaz akan mengajaknya jalan sore seperti yang Mak Susi suruh tadi siang. Hati Belia mendadak bahagia dan berharap Muntaz mengajaknya ke BKB atau Jaka Baring. Wangi parfum maskulin menyuruk lubang hidung Belia saat itu juga.



"Aku pergi dulu, ada urusan!" ucapnya memberi tahu. Belia terpana dengan apa yang didengarnya, seketika dia kecewa seakan dihempas ke jurang paling dalam. Padahal tadi hatinya sudah bahagia dan percaya diri membayangkan akan diajak *healing* oleh Muntaz seperti yang Mak Susi katakan tadi. Belia menatap Muntaz kecewa. Kali ini entah kenapa Belia berharap suaminya mengajak jalan-jalan.



"Abang mau ke mana?"


"Aku ada urusan sebentar."


"Bukan mau ketemu Novi mantan pacar Abang?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja dari bibir Belia disertai mata yang berkaca-kaca. Muntaz menatap aneh Belia, tidak biasanya Belia sebegitu ingin tahunya kemana Muntaz pergi.


"Tidak perlu tahu kemana aku pergi, ini urusan lelaki," ujarnya.


"Urusan lelaki atau birahi? Jika Abang mau mengejar-ngejar mantan pacar Abang, bereskan dulu urusan Abang sama Belia," ucap Belia bercucuran air mata. Entah kenapa Belia begitu kecewa saat Muntaz tidak jadi mengajaknya pergi. Padahal Muntaz sama sekali tidak menjanjikan untuk mengajaknya jalan-jalan.


Muntaz menatap lekat wajah Belia yang sudah bercucuran air mata, rasa kecewa dan sakit hati itu jelas terpancar dari sorot matanya. Muntaz menduga Belia cemburu pada Novi, namun kenapa kali ini Belia terlihat begitu lemah, menunjukkan rasa kecewanya di depan Muntaz dengan menangis.


__ADS_1


"Aku benar-benar ada urusan. Aku tidak bisa membawamu jalan-jalan seperti yang dikatakan Mak tadi siang," ucap Muntaz menjawab rasa penasaran Belia.



"Pergilah Bang, tidak usah memikirkan perasaan Belia lagi," ucapnya sembari mendorong tubuh Muntaz keluar pintu dan membanting pintu dengan keras sampai tertutup kencang. Benda-benda di atas ventilasi yang kebetulan berada di situ ikut berjatuhan. Korek api, lilin dan penitik, terjun bebas beserta debu-debunya.



Belia menangis menumpahkan rasa kecewanya di bawah pintu yang sudah terkunci. Sementara Muntaz menahan tubuhnya sembari menatap pintu yang dibanting Belia. Dia menarik nafasnya dalam, baru kali ini Belia memperlihatkan rasa kecewanya begitu frontal. "*Maaf, Bel. Aku* *benar-benar ada urusan*," bisiknya dalam hati. Deru motor N-MIX pun terdengar dan berlalu dari halaman rumah mereka.



Isak tangis Belia kini terdengar setelah Muntaz pergi. Kali ini Belia tidak bisa menahan rasa kecewa dengan menangis diam-diam menahan sesak di dadanya. Butuh waktu setengah jam untuk Belia mengembalikan kewarasannya, dia bangkit dan menuju kamar mandi, membersihkan diri.



Tiba-tiba bunyi notifikasi WA terdengar. Belia meraih Hpnya dan penasaran siapa yang mengirimkan pesan. Rupanya Mery yang mengirimkan pesan disertai sebuah foto yang mencengangkan. Mery mengirimkan foto Muntaz bersama seorang perempuan yang diduga Novi. Belia seperti kenal dengan wajah itu setelah dia menilik-nilik foto perempuan di sebelah suaminya.




"Tega kamu Bang membohongi Belia. Ada urusan, tapi rupanya urusan birahi. Belia tidak tahan dicuekkan Abang lagi, Belia kecewa," hempasnya menjatuhkan HP di kasur.



Besok menjelang, seperti biasa rutinitas pagi dijalankan Belia. Setelah semua siap, Belia segera ke kamar mandi membersihkan diri. Bersiap dan berdandan alakadarnya. Sejenak Belia menatap pantulan dirinya dalam cermin, secara fisik dia memang tidak jelek. Tapi kenapa suaminya tidak pernah merasa mengagumi dirinya.


__ADS_1


Belia mengakui dia memang tidak semenor mantan pacar suaminya, seperti yang pernah dia dengar dari perdebatan Mak Susi dan suaminya tempo hari. Belia menarik laci lemari meja riasnya, bukan perhiasan atau harta karun yang ada di sana. Melainkan lipstik warna merah marun yang pernah dia beli tempo hari saat dirinya mendengar perdebatan Mak Susi dan suaminya.



Besoknya Belia membeli lipstik merah cerah, dan SPG menunjukkan merek ternama, halal dan tidak kering di bibir. Harganya juga lumayan lebih mahal dari merek pionir kayak Vivu. Sayangnya lipstik merek Vivu efeknya selalu kering di bibir Belia, jadi dia beralih ke merek lain yang harganya lumayan mahal bagi kantongnya sebagai pelayan toko buku yang gajinya dibawah 1,5 juta.



Belia meraih lipstik itu dan menaruhnya di kantong. Padahal dia sudah membawa lipbalm di kantong bersama bedak padat merek Vivu andalannya. Dia selalu gunakan setelah habis sholat Zuhur di toko tempat dia bekerja. Entah kenapa, sejak mendengar Muntaz menyebut dirinya berdandan cuma sisiran dan berlipstik warna hambar, besoknya Belia membeli lipstik itu. Tapi sampai sekarang belum dipakainya.



Bisa saja Belia memakai lipstik warna cerah, akan tetapi Belia merasa kurang pas pergi bekerja ke toko buku dengan dandanan yang terlihat wah.



Belia keluar kamar, dan segera bersiap berangkat kerja. Padahal biasanya dia pergi setelah suaminya pergi bekerja.


"Belia, pergi Bang! Assalamu'alaikum," ujarnya pamit, tidak lupa mengucap salam. Muntaz melongo, biasanya dia dulu yang pergi dan ditunggui saat makan, tapi kini Belia pergi duluan.


"Bela, kamu mau ke mana?" tanyanya dengan kening mengkerut. Belia menoleh dan menatap suaminya.


"Pergi kerja, Bang. Belia duluan. Maaf, Belia tidak bisa menemani Abang sarapan," ujarnya seraya berlalu.


"Tunggu dulu, tidak biasanya kau duluan. Mau ke mana?" tahannya.


"Kenapa Abang mau tahu urusan Belia? Belia mau kerja Bang." Belia menepis cekalan tangan Muntaz.


"Tapi tidak sepagi ini, tumben? Kamu mau ke mana dulu?"

__ADS_1


"Jangan ikut campur, ini urusan perempuan!" ketusnya seraya berlalu. Muntaz terpana, jawaban Belia persis seperti apa yang dia ucapkan kemarin sore. Ada apa dengan Belia?


__ADS_2