Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 31 Mengakhiri Rumah Tangga


__ADS_3

Belia terbangun setelah tubuhnya terasa digoyang-goyang oleh tangan seseorang. Sebelum matanya betul-betul terbuka, dia perlahan menggeliatkan badannya meregangkan otot-ototnya yang masih kaku. Setelah lelah menangis dan kesal karena Muntaz mengunci dirinya di kamar, akhirnya rasa kesal dan sedih menguap bersama kantuk. Sehingga sampai subuh hampir terlewat, Belia bangun kesiangan.



"Bela, bangunlah! Kau kesiangan. Subuh hampir habis!" ujar Muntaz mengingatkan. Belia tidak menyahut, rasa kesal di dada masih memenuhi rongga dadanya. Belia masih merasakan matanya yang rapat oleh air mata yang mengeras seperti kristal. Andai saja sisa air mata yang mengeras ini berubah menjadi kristal yang berharga, maka ketika mengingat kesedihan itu, Belia tidak akan terlalu sesakit ini.



Belia bangkit, namun dia hanya duduk di atas ranjang. Waktu subuh yang kata Muntaz akan segera habis, tidak digubrisnya. Hatinya mengeras karena kesedihan masih menyelimuti dirinya. Yang ada dalam otaknya kini, rasanya ingin mengakhiri rumah tangga dengan Muntaz. Dia tidak ingin lagi mencintai yang tidak berbalas, dan ini sangat menyakitkan saat Muntaz masih kepergok jalan bersama dengan perempuan lain.



Perlahan Belia bangun dan menuju kamar mandi, Muntaz yang dilewatinya menatap Belia sampai Belia masuk kamar. Tidak berapa lama, Belia keluar dari kamar mandi. Dengan rambut dililit handuk dan tubuh dibalut baju semalam. Belia menuju lemari dan meraih baju yang akan dipakainya hari ini. Lalu Belia menuju meja rias meraih pembalut. Saat mau mandi tadi Belia mendapati dirinya datang bulan. Setelah mengambil pembalut, Belia segera beranjak menuju kamar sebelah dan menggunakan baju serta berias di sana.



Muntaz keluar kamar dengan mata yang masih menatap Belia, lalu menuju ruang tamu. Untuk menghilangkan kebisuan antara dirinya dan Belia, Muntaz menyalakan rokok dan menghisapnya. Tiba-tiba bayang-bayang Ridwan saat kemarin sore mengingatkan dirinya supaya menjauhi Novi terngiang kembali. Mungkin Ridwan benar dia harus melupakan Novi, tapi tentu saja setelah urusan dengan Novi kelar.



"Bela, kesinilah aku mau bicara!" ajak Muntaz menatap Belia yang kini sudah cantik dengan celana kain standard dipadu kardigan lengan panjang yang menutupi pantatnya. Kepalanya dibalut kerudung merah marun yang semakin menambah kecantikannya. Walaupun sederhana akan tetapi modis. Warna lipstik cerah yang kini selalu nempel di bibirnya, membuat Belia semakin terlihat bersinar, seakan keluar aura kecantikannya. Muntaz menelan ludahnya, mengagumi kecantikan istri yang selama ini dia sia-siakan perasaannya.



Belia tidak menjawab, dia beranjak ke dapur lalu menuangkan air bening dari dispenser dan meneguknya sampai tandas, seakan kerongkongannya sudah tidak dimasuki air sebulan lamanya. Setelah meletakkan gelas di meja, Belia kembali memasuki kamar sebelah lalu meraih tas kerjanya dan disampirkannya di bahu.



"Bela, aku mau bicara!" ulang Muntaz sedikit kencang. Belia menghentikan langkahnya. Namun beberapa detik kemudian dia berjalan menuju pintu keluar. "Bela, stop di situ! Dengar tidak ucapanku?" Muntaz menyentak lalu menghampiri Belia dan meraih tangannya dan menarik Belia ke ruang tamu, Belia dipaksa duduk di kursi tamu.



Sejenak Belia merasakan tarikan tangan Muntaz terasa menyakitinya. Tidak ada kelembutan dalam tindakan Muntaz kepadanya, sehingga emosi Belia terasa memuncak dan naik ke ubun-ubun. Apapun keputusannya, Belia akan mengakhiri hubungan rumah tangga yang sejak awal tidak sehat ini.

__ADS_1



"Duduklah, aku mau bicara sebentar. Tolong dengar aku dan percayai aku sekali saja." Muntaz terlihat seperti memohon untuk dipercayai kata-katanya kali ini.


"Dengarkan aku, tentang foto yang kau dapatkan dari seseorang, aku mohon jangan salah paham dan jangan salah mengartikan, sebab antara aku dan Novi sungguh tidak terjalin hubungan apa-apa selain .... "


"Sia-sia kalau Abang mengajak Belia ngobrol di sini hanya untuk membicarakan mantan Abang yang sebentar lagi akan Abang dapatkan kembali. Apakah Abang belum puas menyakiti hati Belia dengan memperlihatkan kebersamaan Abang dengan wanita lain? Di mana hati nurani Abang? Jika seperti itu, lepaskan dulu Belia, Bang. Dan mulai detik ini, Belia juga sudah bulat untuk mengakhiri hubungan rumah tangga kita," ucap Belia lantang namun bergetar menahan tangis yang ingin keluar.



Seketika Muntaz melotot, menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir Belia.



"Bela, apa-apaan kau ini! Bicara jangan sembarangan! Aku tidak sedang membahas perpisahan. Tolong percaya padaku sekali ini saja," mohonnya terlihat serius. Namun bagi Belia semua permohonan Muntaz hanyalah isapan jempol belaka, dia sudah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Muntaz.



Belia tidak menyahut lagi, dia berdiri dari kursi ruang tamunya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Maka jatuh talak Abang pada Belia, itu kan maksud Abang?" potong Belia dengan nada yang menantang, kini dia sudah tidak takut lagi menghadapi Muntaz. Apalagi dalam benaknya sudah bulat ingin mengakhiri hubungan rumah tangga ini yang tidak didasari oleh cinta.



Muntaz seketika melotot dan terkejut dengan apa yang diucapkan Belia, dia sama sekali tidak menyangka Belia berani bicara lantang seperti itu.



"Apa yang kau katakan? Coba ulangi lagi?" Muntaz menatap tajam ke arah Belia yang kini sudah berani menantangnya.



"Belia ulang sekali lagi, bahwa Belia ingin mengakhiri hubungan rumah tangga kita. Apakah sudah jelas?" Ucapan Belia lantang dan menusuk hati Muntaz. Tidak biasanya Belia berani berbicara selantang itu di hadapannya. Malah kini Belia berani membantah dan keluar rumah meskipun Muntaz sudah mencegahnya.

__ADS_1



Belia pergi dan keluar dari rumah tanpa mempedulikan Muntaz lagi. Dia terlanjur kecewa dengan Muntaz. Air mata Belia jatuh seiring langkah kaki yang semakin menjauh dari kediaman Muntaz. Muntaz menatap Belia dengan kecewa. Padahal dia memang benar-benar berkata jujur, bahwa dia dengan Novi tidak sedang terjalin hubungan apa-apa, selain satu urusan yang yang tidak bisa Muntaz katakan pada Belia.



Setelah perdebatan tadi pagi dengan Belia, Muntaz pergi bekerja namun tanpa sarapan yang selalu Belia buat. Ada perasaan hampa yang mendera saat tadi mendengar Belia bicara ingin mengakhiri hubungan rumah tangga dengannya, sungguh itu tidak terpikir olehnya.



Di PT, Muntaz nampak tidak fokus dalam bekerja. Pikirannya selalu tertuju pada ucapan Belia. Tiba-tiba saat sedang melamun, Muntaz dikejutkan dengan bunyi pesan WA masuk ke HPnya, segera Muntaz membuka HPnya dan membaca dari siapa WA itu.



"Taz, pulang kerja langsung ke rumahku. Bini kau ado di sini, kau jemputlah dia sekalian." Pesan WA dari Mak Susi baru saja dibaca Muntaz. Hati Muntaz mendadak dag dig dug, mendengar Belia ada di rumah Mamaknya, Muntaz khawatir Belia bicara yang tidak-tidak pada Mak Susi.



Jam pulang tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 Wib, Muntaz dan kawan-kawannya bersiap untuk pulang. Sesuai pesanan Mak Susi tadi di WA, kini Muntaz akan pulang langsung ke rumah Mak Susi, menjemput Belia yang kini ada di sana.



Setengah jam kemudian, Muntaz tiba di rumah Mak Susi. Sebelum bibirnya mengucap salam, Muntaz mendengar obrolan Mak Susi dengan Belia.



"Belia tidak kuat Mak, Belia ingin mengakhiri hubungan rumah tangga ini dengan Bang Muntaz." Obrolan itu lansung menancap ke ulu hati Muntaz, bagai petir di siang bolong, kata-kata Belia mampu membuat Muntaz ternganga.



Tiba-tiba bersamaan dengan itu, Mak Susi terlihat lemah dan seperti tidak sadarkan diri.


__ADS_1


"Mak, Mamak, bangun Mak!" seketika Muntaz dan orang-orang yang berada di sana berhamburan menghampiri Mak Susi yang tiba-tiba ambruk sesaat setelah Belia mengungkapkan keinginan hatinya.


__ADS_2