Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 34 Kecewa Belia


__ADS_3

Pagi yang cerah, hari ini kebetulan hari Minggu. Seperti biasa Belia di hari Minggu selalu sibuk dengan rutinitas dalam rumah. Mencuci baju dan membersihkan rumah. Sementara Muntaz yang tiap hari Minggu tidak lembur, betah juga di rumah. Kadang dia menghabiskan waktu dengan main PB di ruang tengah.



"Bela, kau siap-siaplah, nanti habis Zuhur aku mau ajak kau jalan," seru Muntaz tiba-tiba di sela-sela Belia mencuci piring di wastafel. Belia yang mendengar ajakan Muntaz, sejenak termenung, dia heran sejak kapan suaminya berubah? Tiba-tiba mau mengajak jalan-jalan setelah tadi malam merasa kecewa karena Belia tidak bisa melayaninya sebab datang bulan. Belia masih belum percaya, air keran yang belum dimatikan mengalir begitu saja tanpa dihiraukannya.



"Bela!" gertak Muntaz menyadarkan Belia yang melamun.


"Kau dengar tidak aku bicara?" Muntaz bertanya dengan heran.


"Iya, Bang, Belia dengar," jawab Belia. Hatinya tiba-tiba gembira, baru kali ini sepanjang pernikahan dengan Muntaz, dirinya diajak jalan-jalan. Melihat perubahan sikap Muntaz yang sedikit manis ini, hati Belia mendadak berbunga-bunga, timbul harapan dalam hatinya bahwa Muntaz mulai menyemai benih cinta dalam hatinya.


"Ya sudah, kau siap-siaplah, setelah zuhur," peringatnya lagi. Belia melanjutkan mencuci piring dengan hati yang gembira. Tiba-tiba bunyi pesan WA masuk ke Hpnya. Rupanya dari Mak Susi yang menyuruh Belia datang untuk membawa pempek dan tekwan ke rumahnya untuk sarapan.


"Alhamdulillah Mamak sudah sehat, buktinya pagi ini sudah membuat pempek dan tekwan." Belia merasa lega dan hatinya bertambah senang.


"Abang, Belia minta ijin keluar dulu sebentar. Mamak barusan WA Belia menyuruh Belia ambil pempek dan tekwan," ijin Belia seraya menatap suaminya yang kini asik kembali main game PB. Muntaz hanya menoleh sejenak lalu sibuk lagi dengan gamenya. Mendapati sikap Muntaz yang kembali diam, Belia tidak menunda lagi untuk beranjak dan pergi ke rumah Mak Susi, mertuanya.



Belia segera bergegas dengan hati yang berdebar bahagia. Dia berpikir cintanya pada Muntaz kali ini akan berbalas. Tidak terasa satu lorong terlewati, saat Belia akan menginjakkan kaki di lorong kedua, perlahan langkahnya sedikit pelan saat beberapa meter di depan melihat Novi mantan pacar Muntaz berjalan menaiki motor Scoope merah metalik yang dulu hampir saja menyerempetnya.



Saat jarak motor Novi dengan Belia semakin dekat, tiba-tiba Novi menghentikan motornya seraya merentangkan lengannya menghalangi perjalanan Belia. Sontak Belia kaget dan menghentikan langkahnya. Lantas hatinya bertanya, ada apa dengan Novi menghentikan langkahnya?



"Berhenti kau perebut pacar orang! Ingat ya, tidak akan lama lagi laki kau akan aku rebut kembali," ancamnya lalu segera bergegas melajukan kembali Scoope merah metaliknya. Belia terhenyak, dia berdiri mematung setelah mendengar ucapan Novi barusan. Belia seakan mimpi di siang bolong, dia menepuk-nepuk pipinya dan rupanya sakit. Belia baru tersadar saat dirinya dikejutkan kembali oleh suara motor yang lewat di lorong itu.



Belia segera berjalan kembali menuju tujuannya tadi yaitu ke rumah Mak Susi. Tiba di rumah mertuanya Belia sudah disambut dan dinantikan Mak Susi. Belia segera mencium tangan Mak Susi dengan takzim.

__ADS_1



"Bela, ditunggu rupanya kau baru datang. Ayo, masuklah dulu. Sebentar yo, aku siapkan dulu," ujar Mak Susi seraya beranjak ke dalam. Belia mengikuti Mak Susi dan menunggu di meja makan.



"Mak, jangan repot-repot! Mak belum sehat benar, kan?" cegah Belia ketika melihat Mak Susi sibuk menuangkan pempek dan tekwan ke asoy bening.



"Mak sudah sehat, Bela. Jangan khawatirkan Mak. Ini buat anak mantu Mamak, tidak repot kok," sanggah Mak Susi seraya memasukkan asoy-asoy itu ke dalam asoy hitam.



"Nah ambillah! Cepat balik, Muntaz pasti menunggu," ujar Mak Susi seraya memberikan asoy yang sudah diisi pempek dan tekwan ke tangan Belia. Belia terpaksa menerima asoy itu.



"Terimakasih, Mak. Kalau begitu Belia balik dulu ya, assalamualaikum," ucap Belia segera bergegas dari rumah Mak Susi.


Tidak berapa lama Belia tiba di rumah, saat itu Muntaz sedang menerima telpon entah dari siapa.


"Assalamualaikum!" salam Belia dengan senyum di wajahnya. Muntaz sejenak menoleh ke arah Belia dan nampak membalas salam Belia dengan pelan.


"Waalaikumsalam," ucapnya pelan. Seketika rasa bahagia dalam diri Belia menyeruak, dadanya mendadak berdebar kencang, hatinya juga bahagia. Hanya dijawab salamnya saja oleh Muntaz walaupun pelan, rasa bahagia langsung menyeruak dalam dadanya.



Muntaz nampak mengakhiri komunikasinya di telepon dengan seseorang di sebrang sana yang entah siapa.



"Bang, payo kita sarapan dulu. Ini pempek dan tekwan dari Mamak," ajak Belia seraya menyiapkan pempek dan tekwan di piring. Muntaz segera menghampiri meja makan. Dia memang sudah lapar dan perutnya sudah ingin diisi sarapan pagi.


__ADS_1


Muntaz senang dengan pempek dan tekwan pemberian Mak Susi, dia sarapan pagi ini begitu lahap karena lapar. Begitu juga Belia, dia sarapannya juga lahap karena hatinya berbunga-bunga.



Siang makin menjelang, kini tiba waktu Zuhur. Kumandang azan sudah diperdengarkan di mana-mana. Setiap mushola mengumandangkannya. Belia segera masuk kamar dan membersihkan diri di kamar mandi. Belia kali ini hanya mandi saja karena kegerahan oleh cuaca hari ini yang sangat panas. Belia masih belum sholat sebab baru kemarin datang bulan.



Setelah Belia selesai mandi, Muntaz segera ke kamar mandi. Dia juga terdengar membersihkan diri. Tidak berapa lama, Muntaz keluar kamar mandi dan mendirikan sholat zuhur di kamar itu juga.



Belia kini sedang mempersiapkan diri, seperti apa yang Muntaz katakan tadi pagi. Dia akan diajak Muntaz jalan-jalan, dan kini Belia tengah siap-siap berdandan serta memoles wajahnya dengan sentuhan make up tipis yang menjadikan wajah Belia siang itu fresh dan semakin cantik dengan kerudung segi empat warna coklat.



Tiba-tiba Muntaz menghampiri Belia, dia menatap penuh takjub, Belia begitu cantik di matanya. Namun seketika raut wajahnya berubah mendung lalu berkata, "Bel, aku minta maaf, hari ini aku tidak jadi ajak kamu jalan, soalnya aku tiba-tiba ada janji penting dengan seseorang. Mungkin lain kali, ya. Aku janji nanti ajak kamu jalan, ya. Aku benar-benar minta maaf, ini mendesak dan aku harus temui dia," ujar Muntaz meminta maaf karena harus membatalkan janjinya pada Belia.



Belia nampak murung dan kecewa saat Muntaz mengatakan itu. Hatinya yang tadi berbunga-bunga kini kuncup lagi. Belia benar-benar sedih dan kecewa harus batal diajak Muntaz jalan. Belia menunduk sedih, Muntaz yang melihat sebetulnya tidak enak hati.



"Bel, aku minta maaf ya. Kali ini aku benar-benar ada janji yang mendadak dan penting. Kamu jangan sedih dong," bujuk Muntaz seraya mengusap lengan Belia. Belia yang sedih mendadak hatinya luluh saat sentuhan lembut tangan Muntaz terasa tulus meminta maaf padanya. Selama ini Muntaz jarang memperlakukan Belia selembut hari ini. Dan sejak tadi malam Muntaz memang sedikit lembut padanya dan mau menatapnya.



Hati Belia menghangat, perlahan dia dongakan kepalanya seraya menatap Muntaz. "Abang mau pergi kemana?" tanyanya.


"Ada janji mendadak dan ini penting. Tolong kau ngerti ya, besok-besok aku janji ajak kau jalan. Berhubung aku buru-buru, aku harus segera pamit. Kau baik-baik di rumah ya, Bel," ujarnya seraya melepaskan pegangannya di tangan Belia.


"Aku pergi ya, kau hati-hati di rumah!" ulang Muntaz berpamitan sambil menyalakan motornya.


"Assalamualaikum!" salam Muntaz tidak biasanya. Kali ini Belia merasa terharu dan menatap kepergian Muntaz dengan doa dan haru.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," ujarnya menatap kepergian Muntaz.


__ADS_2