
Setelah jalan-jalan di taman dan foto-foto, Muntaz segera membawa Belia ke pasar. Hari ini sayuran dan bahan masakan yang lainnya telah habis. Ini pertama kali sepanjang pernikahannya bersama Muntaz, Belia diantar ke pasar. Sebulan terakhir ini memang telah banyak hal yang Muntaz lakukan diluar kebiasaannya. Belia sadar itu dan Muntaz juga sudah mengatakan bahwa dia akan berusaha mencintai Belia. Dan ini salah satu usahanya. Memberi perhatian yang tidak pernah dia lakukan sepanjang pernikahan ini.
Akan tetapi sikap perhatian Muntaz ini tidak serta merta Belia yakini sebagai kesungguhan Muntaz, Belia masih tetap waspada dan tidak mau gede rasa duluan seperti kemarin-kemarin. Dan Belia akan melihat kesungguhan Muntaz.
"Bel, belanja apa lagi?"
"Telor. Abang tunggu saja di sini sambil pegangi belanjaan kita," ujar Belia.
"Oh, ok. Jangan lama ya!" ujar Muntaz. Muntaz melihat belanjaannya hari ini hampir menghabiskan 200 ribu, belum lagi beli telur dan bumbu. Uang yang dia kasih ke Belia dua juta sebulan dia rasa tidak cukup kalau melihat belanjaan segini banyaknya. Belum harga-harga pada mahal, alangkah peningnya Belia sebagai istri mengatur keuangan selama sebulan. Dan Muntaz baru terpikir hari ini, betapa susah payahnya Belia menutupi kekurangannya dari gaji dia yang tidak seberapa dari hasil kerja sebagai pelayan toko.
Tidak berapa lama Belia datang, membawa telur dan satu asoy (kresek) berisi kue-kue untuk sarapan. "Sudah Bel?" Belia mengangguk lalu mengisyaratkan untuk pulang dan menuju parkiran pasar.
Jarak pasar yang lumayan dekat membuat Muntaz tidak ingin segera ke rumah. Ia seakan ingin menikmati waktu di jalan bersama Belia lebih lama, sengaja motor ia pelankan.
"Bel, aku minta maaf ternyata kalau dihitung-hitung uang yang aku berikan dua juta sebulan itu tidak cukup untuk biaya hidup kita, belum lagi bayar banyu dan listrik. Aku selama ini mikirnya uang segitu itu cukup, dan ternyata itu tidak. Pasti kekurangannya kau tutupi dari gajimu, kan Bel?"
Belia mengangguk namum Belia cepat sadar bahwa anggukannya tidak bisa dilihat Muntaz. "Tidak apa-apa Abang, Belia cuma membantu sedikit. Dan belanjaan yang lumayan banyak ini, adalah untuk stok seminggu ke depan. Jadi makan kita tidak sebanyak ini sehari," balas Belia semakin membuat Muntaz bersalah.
"Ya, sudah, nanti aku kasih tambah ya tiap bulannya." Lagi-lagi Belia mengangguk dan itu tidak bisa dilihat Muntaz. Tiba-tiba saat motor akan berbelok ke arah kiri menuju arah rumah Muntaz, sebuah motor merah metalik sengaja menjegal laju motor yang dikendarai Muntaz, sehingga motor Muntaz oleng ke arah kiri dan jatuh.
"Brakkkk."
"Aduhhhh," pekik Belia, untung saja posisi tubuh Belia masih ngangkang antara jok motor dengan kaki yang berhasil menginjak knalpot motor, sebab motor posisinya terbaring ke sisi kiri jalan. Sementara Muntaz memegangi rem stang dan wajahnya menyuruk ke depan serta kaki kirinya tertimpa badan motor. Sepertinya jika dilihat dia memang menahan badan motor supaya tidak menimpa kaki Belia sebelah kiri.
__ADS_1
Orang-orang sekitar yang kebetulan lewat dan melihat berdatangan menghampiri dan membantu mengangkat Muntaz dan motornya. Sementara Belia sudah bisa berdiri sendiri tanpa lecet
apapun.
Sejenak Belia berpikir sepertinya dia kenal dengan motor merah metalik itu. Tidak salah lagi motor yang langsung pergi setelah banyak orang berdatangan menolong, itu jelas motor milik Novi mantan pacar Muntaz.
Orang-orang berhasil menolong Muntaz dan motornya. Muntaz terluka di siku dan tumitnya yang menahan berat badan motor, lututnya juga sepertinya luka, terlihat dari celana trening yang aus tergerus akibat gesekan lutut dan aspal.
"Kurang ajar tuh yang numbur, *dio caknya* *betino*, (dia sepertinya perempuan)," ujar salah satu dari yang menolong.
"Kau ruponyo Taz," seru salah satu dari mereka sepertinya kenal dengan Muntaz. Muntaz menoleh ke arah orang yang sepertinya kenal dengan dirinya. Ahh rupanya dia Sabqi, tetangga rumah mertuanya. Sabqipun ikut menolong.
"Wahhhh, kau *biso nyampak jugo ya* Taz, padahal kau anak *road race* saat sekolah dulu," ucap Sabqi seraya ikut membantu memunguti belanjaan yang juga berjatuhan.
"Aku tidak ngejek, emang kau anak *road race* kan?" kilah Sabqi.
"Wahhh, kam*pang, telok semua hancur gara-gara setan tuh, sudah jalan di jalur yang benar masih saja kena jegal, dasar laknat, mana tumit dan lutut sakit lagi, dasar anjay-anjay," umpat Muntaz kesal.
"Abang, jangan berkata sumpah serapah, tidak baik!" peringat Belia menenangkan Muntaz.
"Terimakasih Mang, terimakasih Wak," ucap Belia. Berterimakasih pada mereka yang menolong. Belia menepikan belanjaan yang tadi sudah dibereskan, nasib baik ayam dan ikan tidak berhamburan keluar kresek.
"Nah, aku tadi kebetulan merekam kejadiannya," seru seseorang yang kebetulan melihat kejadian tadi lalu menyodorkan HPnya ke arah Muntaz.
"Cubo kirim ke Hp aku, Kak," ucap Muntaz.
"Ok, kau kirim dewelah ke Hp kau, aku malas ketik," balas orang yang berhasil merekam kejadian motor Muntaz dijegal tadi.
"*Caknyo* (sepertinya) aku kenal motor merah itu, tidak salah lagi dia itu betina dan dia adalah si Novi," ujar Sabqi merasa geram. Dia juga memang tidak suka sama Novi sebab Novi memang perempuan yang terkenal suka ganggu hubungan rumah tangga orang, sehingga tidak jarang rumah tangga orang itu goyah.
__ADS_1
"Mokasih, Kak," ucap Muntaz pada orang yang berhasil merekam kejadian Muntaz dijegal motor Novi.
"Benar-benar kam\*pang itu betino, dio ruponyo menabuh genderang perang," geram Muntaz seraya mengepalkan tangannya.
"Hancur belanjaan bini aku, telok hancur pecah semua, sayuran koyak semua," omel Muntaz lagi seraya menahan sakit sikunya saat dia memegang stang motor.
"Sudahlah Abang, payo kita balik, biar Belia obati luka Abang," ajak Belia meredakan Muntaz yang masih marah.
"Benar *uji* (kata) bini kau, sekarang kau baliklah dulu. Urusan si Novi, biar kita urus belakangan. Jika kaki dan siku kau sudah sembuh, aku siap antar kau perhitungan sama si Novi," ujar Sabqi memberi provokasi.
"Aku, maunya hari ini juga susul dia, Qi. Aku geram rasanya mengingat dia melakukan ini. Aku sudah berbaik hati tidak memaksa dia mengembalikan duit yang dia pinjam, tapi kini masih saja ganggu, bahkan dia mau celakai kami, kam\*pang," ujar Muntaz dengan kemarahan yang benar-benar nyata.
Melihat Muntaz masih emosi dan marah-marah, Belia segera meraih tangan Muntaz dan memberi kode supaya pulang. Muntaz paham, diapun bersiap menyalakan motor kembali walaupun dengan muka yang meringis menahan sakit di siku, tumit, juga jidat yang kini membiru kena hentakan speedometer.
"Kau kuat *idak*, Taz?" tanya Sabqi khawatir.
"Masih kuat, Qi. Aku balik dulu, Qi." Muntaz pamit seraya membetulkan posisi duduknya di motor. Setelah Belia duduk dengan benar, Muntaz kembali menyalakan motornya dan melajukan perlahan motor NMixnya menuju rumah.
"Terimakasih Bang Sabqi," ucap Belia seiring motor Muntaz melaju. Sabqi tersenyum mengantar kepergian Muntaz dan Belia di atas motornya.
"Baru kau sadar sekarang Taz, bahwa si Novi memang tidak baik buat kau." Sabqipun berlalu dari tempat itu.
Idak \= tidak
Nyampak \= jatuh
Uji \= kata
__ADS_1
Betino \= perempuan