
Belia shock mendengar semua perbincangan antara Mak Susi dan Muntaz, tepatnya ketegangan bukan perbincangan. Hatinya teriris terutama mendengar pengakuan lantang Muntaz. Muntaz lebih memilih dan memuji Novi mantan pacarnya yang kini kembali ke kampung ini.
"Kalau kau benar-benar tidak menginginkan Bela, ceraikan saja dia, balekkan dia ke rumah wong tuonyo," tandas Mak Susi sambil berdiri dan berkacak pinggang. Muntaz terperangah mendengar perkataan Mak Susi barusan. Dia tidak berpikiran sampai bercerai dengan Belia, dan di benaknya tidak kepikiran untuk berpisah.
"Mak, apa yang Mak katakan, Muntaz saja tidak kepikiran sampai di situ?" sergah Muntaz terkejut.
"Lantas apo yang kau pikirkan, kau mau membiarkan Bela terus menderita dengan menjadikan dio bini, tapi kau asik berjalan dengan bini uwong? Di mana perasaanmu, Taz?"
"Taz hanya belum ada cinta, Mak. Sabarlah dulu menunggu. Semua butuh proses, Mak," protes Muntaz sedikit merengut.
"Itulah kau, selalu plin plan. Dulu jika kau menolak perjodohan ini, maka aku jugo tidak akan paksakan untuk menjodohkan kalian. Aku sungguh menyesal menjodohkan Belia dengan kau. Kalau seperti ini, sama saja kau permainkan perasaan Bela. Syukur-syukur dia belum mencintai kau, jika sudah ... aku tidak tahu mau ngomong apo lagi." Ucapan Mak Susi perlahan melemah bersamaan dengan munculnya embun di ujung matanya. Di sana terdapat sebuah penyesalan yang dalam. Sebuah penyesalan mengapa dulu dia menjodohkan Belia pada Muntaz.
Muntaz mendongak menatap wajah Mak Susi, di sana ada embun yang mulai bergumpal dan siap jatuh. Ada perasaan bersalah dalam diri Muntaz. Di sini dia belum bisa menjadi harapan Mak Susi dan keluarganya.
"Benar katamu Mak, Taz plin plan. Dulu kalau Taz tidak memikirkan sakit hati karena Novi, mungkin Taz tidak akan menerima perjodohan ini. Taz menyesal akan sikap plin plan Muntaz."
Muntaz mendesah penuh sesal, dia berdiri dan menatap Mak Susi. Muntaz tidak tega melihat kesedihan di dalam pelupuk mata Mamaknya. "*Kalau seperti ini terpaksa Muntaz harus bertahan* *Mak, sampai rasa itu benar-benar muncul*."
Sampai perdebatan itu terhenti, Belia masih berusaha menenangkan diri. Di balik tembok samping rumah dia mengusap air matanya dan merapikan rambutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tidak mau terlihat sedih ketika memasuki rumah dan bertatap muka dengan Mak Susi. Lima menit kemudian setelah merasa tenang dan membenahi diri, Belia keluar dari balik tembok dan mulai berjalan memasuki mulut pintu.
"Assalamu'alaikum!" ucapnya setenang mungkin, berusaha menyembunyikan kesedihan dan kekalutan yang baru saja terjadi dalam dirinya. Mak Susi dan Muntaz nampak terkejut atas kedatangan Belia yang tidak disangka mereka. Lantas Mak Susi menyambut menantunya itu dengan muka dibuat biasa-biasa saja seakan tidak terjadi perdebatan dengan anaknya baru saja.
__ADS_1
"Waalaikumsalam! Bela, sudah datang kau rupanyo." Mak Susi menyambut Belia dengan senang hati. "Wahhhh, banyak nian kau bawa *asoy*."
"Tadi Belia ke rumah Ibu karena ada Uwak datang dari Bandung. Kebetulan mereka memberi oleh-oleh ini buat Belia," balas Belia sambil menyalami tangan mertuanya. Mak Susi mendongak, sekilas dia menatap wajah Belia, meneliti kemungkinan Belia mendengar perdebatannya tadi dengan Muntaz. Mak Susi takut semua pembicaraannya di dengar Belia.
"Wak Nanang dan Wa Salamah memberitahu, bulan depan anaknya menikah, mereka mengundang kita M qak," berita Belia sembari menyimpan kresek bawaannya di meja makan.
"Amboiii, Wa Nanang dan Wa Salamah bermenantu yo, Insya Allah kita pergi samo-samo kesano, yo!" ucap Mak Susi tersenyum.
"Oh ya Mak, Wak Nanang dan Wak Salamah habis Zuhur mau mampir sebentar ke rumah Mamak, setelah itu mau melanjutkan perjalanan ke Prabumulih," ujar Belia memberitahu.
"Mak balek ya, assalamu'alaikum!" pamit Mak Susi mengucap salam.
"Waalaikumsalam, Mak. Hati-hati, Mak." Belia menyahut sambil melambaikan tangannya mengantar kepergian Mak Susi yang masih lincah. Walaupun usianya sudah 60 tahun, tapi sangat sehat dan lincah serta selalu ceria.
"*Seandainya bukan karena dukungan Mamak*, *Belia sudah pergi jauh meninggalkan Bang* *Muntaz, Belia sebenarnya tidak kuat menahan* *sikap tidak peduli Bang Muntaz, Mak. Kalaupun* *Belia masih berada di samping Bang Muntaz, itu* *karena Belia terpaksa bertahan, Mak*," batin Belia berkata sambil menatap kepergian Mak Susi.
Belia membalikkan badan berniat menuju dapur. Namun Muntaz menahannya. "Bel, tunggu!" tahannya seraya menarik lengan Belia menuju kursi ruang tamu. Belia ingin menolak namun tarikan tangan Muntaz terlanjur kuat.
"Duduklah!" suruhnya. Belia duduk tanpa menatap wajah Muntaz. Dia sudah terlanjur kecewa dengan semua pengakuan Muntaz tadi.
__ADS_1
"Abang mau minta maaf, karena tadi Abang tidak ikut ke rumah Ibu dan Bapak. Abang juga mau mengucapkan terimakasih sama kamu, karena kamu sudah menutupi keadaan Abang yang sebenarnya di hadapan orang tuamu." Belia sedikit mengerutkan keningnya, kali ini Muntaz tidak menyebut Belia 'kau' melainkan 'kamu', dengan nada bicara yang sedikit lembut. Tidak seperti biasanya, dihentak dan keras.
Perlahan Belia mengangkat kepalanya, menatap kaca lemari di samping Muntaz. Muntaz tahu Belia tidak mau melihat ke arahnya.
"Berterimakasih untuk apa Bang, dan menutupi keadaan Abang yang sebenarnya apa?" Belia betul-betul tidak paham dengan arah pembicaraan Muntaz baru saja.
Muntaz menatap Belia yang enggan menatapnya. Muntaz berpikir, jangan-jangan Belia sudah mendengar percakapannya tadi dengan Mamaknya.
"Terimakasih karena kau telah menutupi keadaan Abang yang sebenarnya. Kau bilang ke orang tuamu bahwa Abang sedang sakit, makanya Abang tidak bisa ke rumah orang tuamu," jelas Muntaz. Belia baru paham apa yang dimaksud Muntaz.
"Belia tidak butuh ucapan terimakasih Abang. Maaf, Belia mau ke kamar mandi. Sebentar lagi kumandang azan Zuhur, Belia mau sholat," ucap Belia sambil berdiri dan melangkahkan kaki menuju dapur, meninggalkan Muntaz yang terperangah melihat perubahan sikap Belia.
Belia melangkah menuju dapur dengan gontai. Perbincangan Muntaz dengan Mak Susi tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Terutama pengakuan Muntaz yang menyakiti hatinya. Sebelum ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, Belia mendudukkan tubuhnya di kursi makan. Rasa sedih yang terlanjur menyesakkan dadanya seketika tidak bisa dia tahan. Belia menangis, akan tetapi dengan isak yang ditahan.
Tanpa Belia sadari, diam-diam Muntaz yang sejak tadi mengendap-endap mengikuti di belakang, melihat Belia menangis. Rasa bersalah seketika menyergap dadanya, dia menyesal kenapa dia harus hadir dalam kehidupan Belia jika haras menyakiti perasaan perempuan muda itu.
"Maafkan Abang, Bel," ucapnya lirih.
uwong \= orang
asoy \= kantong kresek
kagek \= nanti
__ADS_1