
Seminggu setelah kesembuhan Muntaz, hari ini bertepatan dengan pernikahan Zikri. Zikri merupakan anak Wa Hera dan juga tetangga dekat Bu Enok, cuma beda beberapa rumah. Kebetulan Belia dan Muntaz diundang dalam pernikahan Zikri ini.
"Abang, siang ini kita ada undangan pernikahan anak tetangganya Ibu. Kita sama Mamak saja datangnya," ujarku memberi tahu.
"Siapa?"
"Anak Wak Hera, Kak Zikri," ujarku.
"Ya sudah, kau siapkan saja bajuku," sahut Muntaz seraya mengutak-atik HP. Belia patuh dan memasuki kamar untuk mempersiapkan baju yang akan mereka pakai nanti ke pernikahan Zikri.
Siang tiba, Belia mempersiapkan diri untuk ke pesta pernikahan anak Wa Hera, yaitu Zikri. Baju Muntaz juga telah dipersiapkan.
"Abang, ini bajunya." Belia menyodorkan baju untuk Muntaz. Baju batik warna krem senada dengan dress yang dikenakan Belia. Dress warna krem bermotif bunga yang sangat cocok dikenakannya. Muntaz dan Belia nampak serasi saat disandingkan, seperti pasangan yang saling mencintai satu sama lain.
__ADS_1
Muntaz sejenak melihat Belia yang kini sudah berbalut dress warna krem senada dengan kemejanya. Dilihatnya Belia sudah pandai bermake up, terlihat dari riasan wajahnya yang sedikit beda dari biasanya. Belia sangat fresh dan masih muda sesuai usianya, tapi mampu mengimbangi Muntaz yang kadang-kadang kelihatan sikap manja.
Muntaz menatap Belia kagum, entah mengapa Belia semakin hari semakin memperlihatkan pesonanya, terlebih saat Muntaz menerima perlakuan Belia saat di rumah sakit. Walaupun Belia selalu menjaga sikap dan selalu menghindar, namun Belia mampu merawat Muntaz dengan baik dan telaten. Saat itulah Muntaz tersentuh dasar hatinya dan mulai merasakan getaran cinta yang hebat.
"Ku akui kau begitu cantik Bel, wajah dan hatimu sama cantiknya." Muntaz berguman di dalam hatinya mengagumi kecantikan Belia. Sementara Belia yang sadar telah diperhatikan Muntaz, dia bersikap pura-pura tidak tahu, Belia tidak ingin terlalu memperlihatkan rasa cintanya pada Muntaz, sebab Belia takut kecewa yang berulang kali.
Motorpun berlalu pelan menuju kediaman Mak Susi. Saat tiba di rumah Mak Susi, rupanya Mak Susi sudah siap. Muntaz memarkirkan motornya di depan halaman rumah Mak Susi.
"Wah, cantik benar mantu Mamak," ujar Mak Susi kagum melihat kecantikan menantunya. Mak Susi memperhatikan Belia dari atas sampai ke bawah, sehingga membuat Belia tersipu malu.
__ADS_1
"Ayo, Mak! Kita berangkat sekarang saja. Sebentar lagi acara intinya akan segera dimulai," ajak Belia yang diikuti Mak Susi. Mereka bertiga akhirnya melanjutkan perjalanan menuju rumah Bu Enok. Tiba di depan rumah Bu Enok, rupanya Bu Enok sudah siap di depan rumahnya.
"Belia segera menghampiri Ibunya da menyalaminya. Disusul Muntaz mengikuti apa yang Belia lakukan.
" Besannn," ujar Mak Susi, mereka nampak bahagia meskipun baru saja kemarin mereka saling bertemu saat menjenguk Muntaz di rumah. Mereka pun berpelukan, tanda kasih sayang sesama besan.
Meraka segera menuju rumah Wak Hera diadakan, hanya butuh jalan kaki lima menit, akhirnya mereka sampai di depan tenda besar tempat dihelatnya acara pernikahan Zikri dan pasangannya.
Rangkaian acara pun mulai digelar, saweran juga tradisi pernikahan yang lainnya telah dilewati. Kini acara pengambilan foto antara pengantin dan yang para tamu. Nampak sekilas Zikri yang sempat naksir Belia dan sempat Belia taksir juga melihat kedatangan Belia dengan raut bahagia. Dan itu semua diawasi Muntaz. Muntaz merasa aneh dan berpikir ada apa di antara mereka?
__ADS_1