
Mak Susi masih menatap Muntaz yang masih terlelap dalam tidurnya. Setidaknya dengan tidur rasa sakit akibat lebam dan memar di tubuh Muntaz untuk sementara tidak dia rasakan.
Mak Susi meraih HPnya saat ada telpon masuk. Tertera nama Pak Deny suaminya memanggil. Mak Susi segera mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum, Pak. Iyo, Muntaz dirawat di ruang Rajawali kamar nomer 3. Bapak langsung masuk bae," jawab Mak Susi dan langsung menutup panggilan dari suaminya itu.
Tidak berapa lama Pak Deny yang tadi menghubungi sudah datang dan masuk ke ruangan Muntaz. Mak Susi menyambut kedatangan suaminya.
"Bagaimana Mak, Muntaz sudah siuman?" Pak Deny langsung bertanya dengan raut muka yang khawatir.
"Sejak tadi sore sudah siuman, Pak. Ini masih tidur, mungkin Muntaz ada dalam pengaruh obat tidur. Tadi sore dokter memberi obat pereda nyeri, terus setelah itu Muntaz tertidur pulas," terang Mak Susi seraya menatap asoy yang dibawa Pak Deny yang diletakkan di meja pasien.
"Makanlah dulu, Mak, kau pasti lapar. Ini Bapak bawakan nasi samo lauk dari rumah yang tadi siang kau masak." Pak Deny menyodorkan asoy yang berisi nasi yang dibawanya dari rumah.
"Letaklah dulu di meja, nanti aku makan," seru Mak Susi terlihat malas. Mungkin saking memikirkan Muntaz dan lain sebagainya.
"Kau, jangan tidak makan gara-gara memikirkan anak kita. Nanti kau pula yang sakit, repot jadinya kita. Ayolah, makan, Mak." Pak Deny masih membujuk Mak Susi makan. Pak Deny takut Mak Susi ikut sakit gara-gara memikirkan dan menunggu Muntaz. Akhirnya Mak Susi memaksakan untuk makan, lagipula benar kata suaminya, jika dia ikut sakit maka akan repot.
"Bagaimana ini, Pak. Apakah kasih tahu Bela atau jangan dulu? Aku bingung mau kasih tahu mantu kita, apalagi kalau Bela tahu Muntaz kena pukul *uwong*, gara-gara dio kepergok bersamo bini uwong. Malu aku, Pak. Mau ditaruh di mana muka ini di hadapan Bela dan *wong tuonyo*?" keluh Mak Susi sedih. Pak Deny mendongak, diapun sama. Sama malunya mendengar penyebab Muntaz kena musibah karena dipukuli suami orang yang kepergok bininya sedang bersama Muntaz.
"Akupun sama, Mak. Malu dan entah apa yang mau aku bilang pada wong tuo mantu kito. Hanya minta maaf yang harus kita lakukan. Dimaafkan atau tidak, itu kita lihat nanti. Kito berharap saja, semoga Bela maupun wong tuonyo mau memaafkan kesalahan anak kito," tukas Pak Deny menenangkan Mak Susi.
__ADS_1
Jam sembilan malam tiba, Muntaz mulai melakukan pergerakan. Tangannya meraba dan menggapai sepre kemudian mencengkramnya.
"Bela, maafkan aku, Bel!" igaunya sembari meringis. Sepertinya luka-luka di wajah dan tangannya terasa sakit lagi saat dia sadar.
"Taz, kau *lah* sadar?" Mak Susi sedikit senang melihat Muntaz bergerak dan mengigau meminta maaf pada Belia.
Mak Susi meraih tangan Muntaz yang tidak diinfus, memberi kekuatan padanya. "Mak, mana Bela?" Tiba-tiba Muntaz menanyakan lagi Belia. Mak Susi tidak menjawab, yang paling penting sekarang adalah kesehatan Muntaz.
"Sudahlah, Taz, kau jangan pikirkan dulu kehadiran Bela. Sekarang kau pikirkan kesehatan kau dulu," ucap Pak Deny memberi saran.
"Tapi, Taz pengen Bela, Pak. Taz, mau meluruskan kesalahpahaman ini. Taz, pengen Bela di sini," ujarnya berharap.
"Buat apa, Taz. Kau mau menyakitinyo lagi dengan keadaan kau seperti ini?" Mak Susi mendadak terpancing emosinya mendengar Muntaz yang mengharapkan Belia ada di sini saat dia tengah berbaring di RS akibat dipukuli suami orang. Mak Susi emosi, sebab Muntaz seperti menganggap perkara ini enteng dan mengharapkan Belia ada di sisinya yang terbaring akibat dipukuli suami orang.
"Aduuhh, aduh Mak, sakit, Mak!" ringis Muntaz saat itu juga. Untung Pak Deny segera turun tangan.
"Mak, sudah, jangan kau marah dulu anak kito. Dia belum sembuh benar." Pak Deny yang biasanya marah melihat tingkah Muntaz yang bikin kesal, malam ini mengalah karena sudah ada wakilnya yang melampiaskan kemarahannya yaitu Mak Susi.
"Geram aku, anak lanang satu ini bikin aku naik darah dan serasa ingin membunuhnya."
"Ya, ampun Mak, jangan emosi begitu. Istighfar, itu tidak baik. Kata-kata barusan tidak boleh diucapkan, itu kata-kata setan!" peringat Pak Deny menahan tangan Mak Susi yang sepertinya ingin menghempas lagi tangan Muntaz. Muntaz meringis melihat kemarahan Mak Susi. Dia sadar Mak Susi marah karena kebodohan dirinya.
__ADS_1
"Coba, Mak hubungi Bela. Aku mau katakan sesuatu padanya. Taz, merindukan Bela," ucap Muntaz tidak segan. Mak Susi membelalakkan matanya tidak percaya.
"Apo kau kata, merindukan Bela? Dasar tak tahu malu. Sudah menyakitinya, tapi masih menggombal bilang merindukannya. Kemarin-kemarin kemano? Kau ngumpet di balik ketiak bini uwong?" hardik Mak Susi sangat geram. Rasanya Mak Susi ingin menghajar muka Muntaz yang masih lebam itu dengan tinjunya.
"Sudah, Mak. Jangan terlalu emosi. Tahan dan tenangkan dirimu!" ujar Pak Deny menahan tubuh Mak Susi yang gemetaran ingin melampiaskan kekesalannya pada Muntaz.
"Aku begini, biso jadi karena ucapan Mamak tempo hari yang jewer aku sampai hampir terjungkal, Mamak bilang biarkan Muntaz terjungkal biar muka Taz ini jelek supaya tidak ada betina yang suka termasuk Bela." Muntaz mengungkit ucapan Mak Susi tempo hari yang menjewer telinganya sampai hampir terjungkal.
"Kau ini malah mendongkel kesalahan wong tuo, dosa kau, Taz. Bukannya koreksi diri, malah mendongkel ucapan Mamak kau. Kau itu tidak tahu diri. Kesal aku punya *budak* macam kau, kau itu udah dewasa tapi macam *budak-budak*." Mak Susi balik kesal dan rasanya otaknya kian panas menanggapi Muntaz si anak bungsu yang dulu begitu lucu dan penurut.
"Mak, Mak, sudah, Mak. Tahan emosi. Dan kau Muntaz, jangan banyak bicara dulu. Benar *uji* (kata) Mamak kau, Bela mana mau temani kau jika sakit yang kau derita akibat kepergok bersama bini uwong. Sudah sekarang istirahatlah, sudah malam," ujar Pak Deny menengahi perdebatan antara anak dan istrinya. Muntaz merengut sedih, terlebih sedih dengan kata-kata Mak dan Bapaknya bahwa Belia tidak mungkin mau menemaninya karena sakitnya dipukuli suami orang.
"*Padahal aku belum menceritakan hal yang* *sebenarnya pada Mamak dan Bapak, tapi Mamak sudah nyerocos dan kesal duluan. Bela, andai kau tahu dan percaya apa yang sebenarnya terjadi, mungkin aku akan bahagia akan kehadiran kau di sisi aku*." Muntaz berharap Belia datang menemuinya dan menemaninya.
"*Bela datanglah, temani aku, aku mohon. Aku mau katakan sesuatu. Aku merindukanmu*." Muntaz berkata dalam hatinya diiringi wajah yang kian sendu.
uwong \= orang
Wong tuo \= Orang tua
__ADS_1
budak \= anak
budak-budak \= anak-anak