Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Pertengkaran


__ADS_3

Jam 9 malam Muntaz pulang seperti biasa tanpa salam, membuat Belia yang tengah duduk menunggu di ruang tamu terkejut. Kali ini ingin rasanya protes dan bicara sama Muntaz. Entah kenapa sejak Belia mendengar perdebatan Muntaz dengan Mak Susi tempo hari, naluri berontaknya muncul, akan tetapi masih batas yang sangat wajar, masih batas protes biasa. Tidak ingin diam terus-terusan, Belia kini sedikit demi sedikit mulai mengeluarkan unek-uneknya. Lama-lama dia merasa cape diam terus.



"Abang baru pulang? Kenapa tidak pernah sekali saja ngucap salam ke Belia, Bang? Belia kaget tahu, Bang. Bukankah mengucap salam wajib bagi kita umat Muslim?" tegur Belia seraya memegangi dadanya yang masih kaget atas kedatangan Muntaz.



"Kelihatannya bagaimana? Kalau aku datang, ya jelas aku sudah baliklah, pakai nanya segala. Ngucap salam tidak perlu keras-keras kali, dalam hati saja bisa. Kenapa kau protes, biasanyo juga diam bae?" sentaknya ketus membuat Belia tertohok sampai ulu hati.



Sikap dingin Muntaz sudah sering ia terima, namun kali ini Muntaz nampak uring-uringan dan kesal, tidak seperti biasanya. Ini lebih menusuk ke dalam hati Belia. Pulang-pulang sikapnya ketus tanpa tahu sebabnya. Belia mengusap dadanya yang kini sesak meminta diberi kesabaran oleh Sang Maha Pemilik jiwa dan raga.



Tanpa menoleh lagi Belia, Muntaz langsung memasukkan motornya ke dalam, lalu membanting pintu, Belia terkejut setengah mati mendengar dentuman pintu dibanting. Ada masalah apa dengan suaminya, ini pasti ada hubungannya dengan kedatangan Muntaz ke rumah Mak Susi, mertuanya. Belia menduga Muntaz pasti sudah kena marah atau kena tegur oleh Haraz Kakak tertuanya. Masalahnya apa, Belia tidak tahu.



Belia menatap nanar ke arah Muntaz, ingin protes lagi tapi dia takut kali ini Muntaz ngamuk. Sebab Belia melihat Muntaz sedang digelayuti rasa kesal yang menggebu dalam dadanya. Kali ini Belia diam, dan tidak mau mengganggu harimau yang marah.



Muntaz keluar dari kamar mandi membersihkan diri, setelah tadi membanting pintu dan masuk kamar. Belia berharap setelah mandi, pikiran Muntaz kembali jernih dan tidak uring-uringan lagi.



Belia menuju dapur dan segera menyiapkan makan malam untuk Muntaz. "Abang makan dulu!" tawar Belia berdiri dekat meja makan. Muntaz hanya menatapnya sekilas lalu masuk kamar seraya memegangi sikunya. Saat memegangi siku, Muntaz nampak meringis. "Abang!" panggil Belia sambil melangkah menyusul Muntaz.


__ADS_1


Tiba di kamar, Belia melihat Muntaz tengah meringis mengobati sikunya yang sakit. Belia heran dan bermaksud membantu Muntaz mengobati lukanya.


"Siku Abang kenapa?" tanyanya sambil berjongkok bermaksud membantu mengobati luka suaminya. Namun baru saja tangan Muntaz diraba Belia, Muntaz seketika menepis tangan Belia dengan kasar.


"Kalau bukan karena kau, aku tidak akan terluka begini, dasar bikin orang susah saja," tunjuknya ke muka Belia. Belia memundurkan tubuhnya satu langkah dari Muntaz.



"Kenapa dengan Belia, Bang? Apa salah Belia?" tanya Belia mulai bergetar. Muntaz berdiri dan menatap Belia tajam.


"Tahu tidak, aku terluka begini karena siapa? Bang Haraz ngamuk karena mendengar kabar kedekatan aku dengan Novi mantan pacar aku. Semua mendukung dan membela kau, kalau bukan karena membela kau, aku tidak akan babak belur begini," tandasnya menuding Belia.


"Kenapa Abang tuduh Belia, sedangkan Belia tidak pernah mengatakan pada siapa-siapa Abang dekat dengan mantan pacar Abang?" sangkal Belia mulai terisak.



"Iya memang bukan kau yang cerita, tapi Mamakku. Mereka semua mendukung kau dan marah sama aku sampai Bang Haraz membogem aku. Kau puas kan melihat aku luka-luka seperti ini?" tudingnya lagi berang.




"Jelas aku menyalahkan kau, sebab mereka sayang dan selalu membela kau. Padahal yang anak dan saudaranya adalah aku, bukan kau. Dasar kau pandai mencari muka," tudingnya lagi semakin membuat Belia sedih.



"Kalau begitu posisi kita sama, kalau bukan karena Mamak atau saudara-saudara Abang yang paksa Belia untuk menerima Abang, Belia tidak sudi menjadi istri Abang. Asal Abang tahu, Belia bertahan hanya karena desakan dan kasih sayang mereka. Belia bukan mencintai Abang," balas Belia sembari keluar kamar dengan cucuran air mata, lalu masuk ke kamar satunya lagi. Dengan segera dia masuk dan mengunci kamar rapat-rapat.



Muntaz mengejar Belia, namun Belia sudah masuk kamar lain dan mengunci pintu. "Kau itu salah, aku tahu kau itu mencintai aku. Apakah kau tidak tahu saat kau demam tinggi, nama aku yang kau sebut dan berulang-ulang kau bilang bahwa kau mencintaiku, akui saja. Kau itu cinta aku, kan?" Teriak Muntaz sambil menggedor pintu.

__ADS_1



Belia yang ada di dalam semakin sedih mendengar omongan Muntaz barusan. Dia sedih kenapa dia harus mencintai lelaki keras kepala dan dingin itu? Juga sedih kenapa dia harus mengigau menyebut nama Muntaz dan bilang mencintainya disaat dia sakit demam saat itu? Semuanya sungguh diluar kehendaknya. Tapi, hatinya mengakui bahwa Belia memang mencintai Muntaz sejak dua bulan usia pernikahannya.


"Abang benar, Belia mencintai Abang. Tapi, jika memang Abang masih menolak dan membenci Belia, maka mulai sekarang Belia akan berusaha menghapus rasa cinta Belia ke Abang, dan mengubur rasa cinta Belia ke Abang dalam-dalam," tekadnya sambil mengusap air matanya perlahan-lahan sampai airnya kering.


Muntaz kembali ke kamarnya setelah tidak berhasil menyusul Belia ke dalam kamar yang Belia kunci. Dia meringis dan kembali mengobati sikunya yang sakit. Kalau bukan karena Haraz, Abangnya, mungkin saja dia tidak akan terluka seperti ini.



Muntaz kembali mengingat saat tadi dirinya harus menerima kemarahan Haraz. Tiba di rumah Mak Susi dia masuk seperti biasa dan mengucap salam. Dia juga awalnya ngobrol terlebih dahulu dengan Haraz dan bercengkrama sejenak dengan Rasya keponakannya. Bahwa kedatangan Haraz ke Palembang ini untuk mengajak Mamak dan dirinya beserta Belia jalan-jalan besok.



"Kau tu, cepatlah punya anak biar bisa bercengkrama dengan anak sendiri, jangan menunda-nunda," ujar Haraz saat melihat kedekatan adiknya bersama anak semata wayangnya.



"Mano biso *uwong rumahnyo* cepat hamil, kalau adik kau cuma menggaulinya sekali-kali, tanpa cinta pula. Apalagi saat digauli dio pakai pengaman, takkan jadi. Terlebih si Muntaz kini berhubungan kembali samo mantan pacarnya, si Novi," celetuk Mak Susi tanpa tedeng aling-aling.



Mendengar itu Muntaz langsung terhenyak, dia tidak menyangka Mak Susi bakal secelupar itu mengungkap masalah yang terjadi dalam rumah tangganya bersama Belia. "*Duhhh, Mamak nih*, *mulutnya ember bocor nian*," dumel Muntaz dalam hati kesal.



Haraz yang mendengar omongan Mak Susi, langsung terbakar emosi, dia langsung berdiri dan menghampiri Muntaz. Dengan cepat meraih kerah baju Muntaz kemudian diangkatnya.


Bersambung


Uwong rumah \= istri (beberapa tempat di Sumsel

__ADS_1


menggunakan istilah ini untuk menyebutkan pasangannya atau istrinya.


__ADS_2