
"Abang, Belia pengen makan Seblak yang ada di Jakabaring. Nanti Abang belikan ya!" Satu pesan WA masuk ke HP Muntaz, saat ini dia sedang berada di kantin bersama teman-temannya. Karena ini jam istirahat.
"Ok, tapi nanti ya saat Abang pulang kerja," balas Muntaz. Beberapa saat kemudian balasan dari Belia datang lagi.
"Ok, nanti Belia tunggu ya."
Tiba waktu bubaran kerja, Muntaz tidak lupa ke Jakabaring karena ingat akan pesanan Belia. Mencari seblak yang dipesan Belia. Namun alangkah susahnya, sebab di jam delapan malam ini penjual seblak sudah pada habis dan bubaran.
Muntaz melajukan kembali motornya, mencari lagi penjual seblak di sekitar Jakabaring, namun semuanya sudah tutup. Muntaz hampir putus asa dan duduk sejenak di atas motornya yang dia tepikan di pinggir jalan. "Kemana lagi harus mencari?" ujarnya bernada bingung.
Sejenak Muntaz mengarahkan pandangan ke kiri dan kanan jalan yang kebetulan dipadati penjual jajanan. Siapa tahu salah satunya ada penjual seblak. Namun sayang, yang dia cari tidak ada alias nihil.
"Ini kemauan Bela yang pertama kali sejak menikah dan hamil, bisa jadi Bela ngidam. Apa boleh beli di tempat lain seblaknya, lalu saat di rumah nanti bilang saja beli di Jakabaring," ucapnya berkata kecil, menyusun rencana jika tidak mendapat seblak di Jakabaring maka dia akan beli di tempat lalu bilang ke Belia bahwa seblaknya dapat di Jakabaring.
Namun demi menghabiskan rasa penasarannya, Muntaz perlahan melajukan kembali motornya dengan perlahan, sembari mencari di kiri kanan jalan siapa tahu bertemu penjual seblak.
__ADS_1
Muntaz menghentikan motornya sejenak untuk sekedar bertanya pada orang yang kebetulan sedang membeli jajanan lain. Namun sayang, orang itu sepertinya buru-buru dan segera beranjak. Akhirnya Muntaz kembali melajukan NMIXnya dengan kecepatan sedang, sembari masih belum menyerah mencari seblak pesanan Belia istrinya yang sepertinya sedang ngidam.
Beberapa meter lagi ke depan saat Muntaz melihat sebuah plang yang bertuliskan '**seblak** **marahmay**', hati Muntaz langsung girang dan berharap penjual seblak itu masih ada jualannya.
Muntaz permisi dan memasuki kedai seblak marahmay yang rupanya kedai seblak ini langsung menyatu dengan rumah yang punyanya.
"Permisi Bu, seblaknya masih ada?" tanyanya yang berharap dijawab masih ada.
"Oh, masih Kak. Buat berapa asoy?" tanya si penjual seblak dari dalam kedai dengan senang.
"Siko bae, Bu." Ibu penjual seblakpun segera mewadahi seblak pesanan Muntaz.
"15 ribu, Kak," ujarnya seraya memberikan asoy seblak yang dibeli Muntaz. Muntaz meraih asoy seblak itu dengan hati gembira. Kali ini Muntaz begitu bahagia mendapatkan apa yang diminta Belia. Dengan wajah penuh senyum Muntaz kembali melajukan motornya ke arah rumahnya.
Tiba di depan rumahnya, Muntaz tidak melihat Belia yang biasa menyambutnya dan membuka pintu lebar-lebar sebab Belia tahu motor juga ikut masuk ke dalam.
Muntaz memasukkan motornya seraya mengucap salam. Hal ini kebiasaan baru baginya mengucap salam dengan suara lantang dan penuh senyum terukir di bibirnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum .... "
"Bel, Bela, Abang datang bawa pesananmu," ujar Muntaz berteriak. Rupanya Belia sedang di kamar mandi, entah apa yang dilakukan. Namun tidak lama dari itu Belia muncul seraya mengusap bibirnya, sepertinya Bela sedang membuang rasa mual di kamar mandi tadi.
"Bel, ayo ke dapur. Aku bawakan pesanan seblakmu. Cepat dicicip mungpung masih panas seblaknya. Sepertinya kamu ngidam ya, Bel?" ajak Muntaz seraya menarik lengan Belia ke dapur. Wajah Belia berbinar, dia begitu bahagia terlebih perlakuan Muntaz sangat perhatian kini.
Seblak pesanan Belia dengan cekatan Muntaz wadahi dengan mangkok lalu disodorkan ke arah Belia yang nampak sudah ngiler.
Perlahan-lahan Belia menyantap seblak itu dengan rasa bahagia. "Ini belinya di mana, Abang, enak banget?" tanya Belia seraya menyuapkan kembali seblak kesukaannya.
"Beli di Jakabaring," jawab Muntaz seraya ikut menatap haru pada Belia yang sedang menikmati semangkuk seblak.
Setelah Belia tuntas menyantap seblaknya, Belia berdiri dan menghampiri Muntaz. Tiba-tiba Belia merangkul Muntaz dan berkata dengan penuh haru.
"Abang, terimakasih untuk perhatiannya hari ini. Abang sungguh suami yang hebat." Setelah mengucapkan itu Belia menangis haru, sebab ini adalah untuk pertama kalinya Muntaz menyiapkan makanan untuknya. Belia benar-benar yakin kali ini Muntaz sudah berubah dan telah mencintainya.
Siko Bae \= satu saja
__ADS_1