
Setelah kepergian mobil Haraz, Muntaz cepat-cepat mengunci pintu. Rasa emosi yang sejak di Pulau Kemaro masih dia simpan untuk dilepaskan pada Belia.
Muntaz masuk ke kamar, akan tetapi Belia tidak ada. Rupanya Belia ada di kamar mandi dekat dapur, sepertinya dia sedang membersihkan diri. Muntaz menunggu dengan tidak sabar Belia keluar dari kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Belia keluar dengan handuk di badan dan rambut yang masih basah tergerai. Badan dan rambutnya yang basah membuat mata Muntaz tidak berhenti berkedip, hawa marah sekaligus gairah tidak luput dari wajahnya.
Belia segera menuju kamarnya untuk mengambil baju, Muntaz dengan cepat meraih tangan Belia lalu ditariknya ke dalam kamar.
"Kau itu, tidak tahu malu. Sudah membuat keluargaku menunggu lama, ini malah ngobrol dengan lelaki lain, apa kau tidak ingat kau pergi ke sana dengan siapa? Kau itu pergi bareng keluarga suami kau. Rupanya kau mau main-main di belakangku, ya?"
"Ampun Bang, Belia tidak berani main-main di belakang Abang. Tadi itu hanya kebetulan bertemu, kami tidak pernah merencanakannya. Kami bertemu tidak sengaja. Demi Tuhan," jelas Belia disertai isak tangis.
"Bohong," ucapnya sambil menghempas tubuh Belia ke atas ranjang, sehingga handuk yang melilit Belia terlepas begitu saja. Belia panik dan segera ingin meraih handuk itu, namun Muntaz mencegahnya dan menjauhkan handuk itu ke lantai.
"Jangan kau tutupi tubuhmu, itu milikku dan aku berhak melihatnya," teriaknya seraya membuka baju yang melekat di tubuh kekarnya. Rasa emosi dan gairah kini menyatu padu dalam diri Muntaz, sehingga saat melihat tubuh tak berbaju Belia, Muntaz langsung menginginkan sesuatu dalam dirinya yang harus dituntaskan.
Belia menangis karena Muntaz bermain kasar. Saat keduanya masih dalam pertautan yang hanya dinikmati Muntaz. Tiba-tiba pintu diketuk, akhirnya Muntaz dengan segera menyelesaikan aksinya.
"Cepat pakai handuk dan segera bersihkan dirimu," ujarnya seraya berjingkat menuju pintu. Belia masih terisak dengan perlakuan Muntaz padanya. Dia sedih karena Muntaz bersikap kasar, seumpama Muntaz tidak kasar maka diapun tidak sesedih ini.
Muntaz segera keluar kamar dan membuka pintu yang diketuk. Ternyata Mak Susi membawa beberapa *asoy* oleh-oleh buat Muntaz dan Belia.
__ADS_1
"Mana bini kau?" tanya Mak Susi sambil meneliti keadaan Muntaz yang hanya memakai celana kolor pendek dan bertelanjang dada. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Belia keluar dari kamar hanya memakai handuk dan menenteng baju. Belia bermaksud ke kamar mandi yang dekat dapur, namun balik lagi setelah melihat Mak Susi.
Mak Susi tersenyum paham apa yang dilakukan Belia, sekaligus heran kenapa Belia hendak ke kamar mandi yang dekat dapur? Mak Susi jadi khawatir Belia dikasari Muntaz, karena setahunya setelah menjemput Belia dari toilet di Pulau Kemaro tadi, Muntaz terlihat marah pada Belia.
"Kenapa bini kau balik lagi ke kamar, aku rasa dia mau mandi di kamar mandi dekat dapur. Kau tadi habis marahi Bela, yo?"
"Tidak, Mak!" sanggahnya.
"Ngaku kau, jangan sekali-kali kasar pada Bela, karena kalau kau kasar maka tinjuku akan terbang di kepala kau ini," ancam Mak Susi marah.
"Tidak, Mak. Taz, hanya marah sedikit samo Bela."
"Kau jangan marahi dia terus, kalau tidak Bela akan kabur dengan laki-laki lain. Kau tidak lihat tadi di sepanjang jalan di Pulau Kemaro, banyak lanang yang memperhatikan Bela, mereka mengagumi kecantikan Bela. *Lanang* lain asik mengagumi Bela, kau *dewe* malah mengagumi kecantikan *betino* lain," tukas Mak Susi geram.
"Taz, tidak marahi Bela, Mak. Taz, hanya menegurnya saja," alasannya.
"Mamak tuh tahu apo? Taz, tidak kasari Bela," sangkalnya menunduk.
"Cepat berikan Mamak cucu, kau itu lah tuo, sebentar lagi 28 tahun. Beda dengan Bela dia masih mudo, dia mau kabur dari kau saja gampang, untung saja dia tidak pernah kabur atau ngadu ke wong tuonyo, kalau dia sudah berani ngadu maka aku tak tahu lagi, terserahlah apa yang akan kau lakukan, aku terlanjur malu nanti di depan wong tuo Bela," tandas Mak Susi membuat Muntaz sedikit gentar. Dia memang tidak ada niat untuk berpisah dari Belia meskipun hatinya belum sepenuhnya ada cinta.
Sementara Belia setelah keluar dari kamar, tadinya mau langsung ke dapur untuk membawakan Mak Susi air, namun saat itu tidak sengaja telinganya mendengar percakapan Muntaz dan Mak Susi, langkah Belia terpaksa terhenti dan akhirnya mendengar semua percakapan Mak Susi dan suaminya itu.
"Kau sudah ada cinta pada Bela atau belum, jujur?" tanya Mak Susi memaksa, menatap wajah Muntaz tajam.
"Ado Mak. Apalagi setelah melihat Bela tadi jalan dengan seorang lanang saat keluar dari toilet," jujur Muntaz sambil matanya menerawang.
"Tuh kan, apo aku kata, Bela itu di luaran sana banyak yang suka. Tapi sampai kini kenapa dia masih bertahan sama kau? Karena dia mencintai kau. Maka kau cepat-cepatlah beri aku cucu, biar Bela tidak mudah pergi dari hidup kau. Tapi kalau kau masih menyakiti Bela, maka aku tidak peduli kalau Bela pergi meninggalkan kau," tukas Mak Susi masih geram terhadap Muntaz.
__ADS_1
"Iyo Mak, Taz akan berusaha."
"Janji kau yo, berusaha mencintai Bela. Aku percayakan sama kau bahwa aku tidak akan pernah kehilangan menantu seperti Bela," tandas Mak Susi penuh penekanan. Muntaz hanya mengangguk.
Akhirnya Belia keluar dengan wajah dan tubuh yang sudah segar. Dia langsung ke dapur dan membuatkan teh manis dan secangkir kopi untuk Muntaz, kemudian dibawanya ke depan.
"Mak, maaf, Belia lama. Tadi habis mandi karena gerah," ucapnya seraya menyimpan gelas masing-masing di hadapan Mak Susi dan Muntaz.
"Tidak apo-apolah Bela, kalian tuh memang harus mandi besar setelah hubungan. Nanti kalau terlewat, sholat kalian tidak sah," celetuk Mak Susi membuat Belia dan Muntaz menunduk malu.
"Mamak nih, selalu celetak celetuk," gerutu Muntaz dalam hati.
"Silahkan Mak diminum banyu tehnya. Apa nih yang Mamak bawa?" Tidak mau malu berkepanjangan Belia mengalihkan fokus Mak Susi.
"Ini, kemplang yang tadi Yuk Salfina beli di simpang Jembatan Ampera, tadi lupa kasih kau."
"Banyak nian, Mak. Mamak sudah kebagian?"
"Sudah Bel, Mamak lah banyak. Malah buat Ibu kau jugo ado. Tadi kan Ayuk kau beli banyak."
"Ya sudah, makasih Mak, Belia simpan dulu di dapur," ujarnya sambil berjingkat menuju dapur.
"Nah, giliran kau pulo, Taz. Cepatlah mandi wajib, sebentar lagi datang waktu Zuhur," ucap Mak Susi membuat Muntaz malu setengah mati. Belia yang menuju dapur juga tidak kalah tengsinnya mendengar Mak Susi berkata seperti itu.
"Mamak ini. Kalau ngomong asal celetuk saja," keluh Muntaz seraya berdiri menuju kamarnya berniat mandi. Sementara Mak Susi hanya tersenyum penuh kemenangan melihat anak menantunya malu-malu begitu.
Lanang \= laki-laki
dewe \= sendiri
betino \= perempuan
lah \= sudah
pulo \= pula
__ADS_1
asoy \= kantong kresek