
Kehamilan Belia kini sudah memasuki usia empat bulan. Dan untungnya kehamilan Belia tidak mengalami mual muntah parah dan tidak rewel. Ngidam sesekali saja, akan tetapi tidak menyusahkan Muntaz. Muntaz semakin hari semakin perhatian dan khawatir akan keadaan Belia. Namun Belia selalu meyakinkan Muntaz bahwa kondisinya baik-baik saja.
Seperti hari ini Muntaz memaksa untuk mengantar Belia ke Bidan Naura. Namun Belia menolaknya dengan alasan dia masih sehat dan tidak mengkhawatirkan. Sebenarnya Belia tidak ingin merepotkan Muntaz. Lagipula Belia tidak ingin mengganggu kerja Muntaz yang disiplin.
"Abang, Belia baik-baik saja, Abang pergilah." Belia memaksa Muntaz untuk bekerja.
"Tapi Bel, mulai hari ini kau janganlah bekerja. Ini permintaan aku," mohon Muntaz dengan wajah memelas.
"Tapi, Belia masih baik-baik saja. Belia mohon jangan meminta Belia untuk berhenti bekerja saat ini. Nanti saat usia kehamilan Belia 8 bulan, Belia akan berhenti," janji Belia sungguh-sungguh.
Karena Belia memaksa akhirnya Muntaz mengalah. "Bel, jaga diri kamu ya. Aku pergi dulu." Muntaz pamit dan pergi bekerja. Ciuman di tangan Muntaz kini dilabuhkan. Dan kebiasaan ini sudah berlangsung sejak Belia hamil. Muntaz yang semakin sayang dan perhatian pada Belia, jadi terlihat bucin. Belia semakin yakin saja bahwa cinta Muntaz kini sudah tidak diragukan lagi.
Setengah jam kemudian Belia pergi bekerja. Sebetulnya dia menolak untuk berhenti bekerja bukan tanpa alasan. Melainkan hitung-hitung sekalian berolahraga supaya nanti lancar saat menjelang kehamilan.
Di pertengahan jalan Belia mendadak dicegat Najid. Najid yang dulu pernah suka sama belia. Belia berhenti dan menyapa Najid seperti biasa, karena selama ini dirinya tidak pernah merasa punya masalah dengan Najid.
__ADS_1
"Bel, apakabar?" tanya Najid dengan senyum ramah yang tersungging.
"Baik Bang, Abang bagaimana, baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah Bel. Aku sekalian mau kasih tahu kamu mungpung aku ketemu kamu. Bahwasanya aku sebentar lagi akan bertunangan," beritanya membuat Belia terhenyak juga gembira.
"Alhamdulillah, kapan Bang? Siapa calonnya, apakah Se ...." ucapan Belia terputus saat seseorang tiba-tiba menyapa Belia.
"Kabarku baik Bel. Gimana kabar kamu, apakah kamu sudah hamil?" tanya Mery penasaran. Dia sangat antusias ketika ingin tahu kabar Belia.
"Alhamdulillah Yuk, sekarang Belia sedang hamil," ucap Belia girang.
"Benaran Bel, wahhh sepertinya hubungan kamu sama Muntaz sudah baikan ya?"
"Alhamdulillah Yuk, Bang Muntaz kini sudah berubah. Kami sekarang sudah layaknya suami istri sebagaimana mestinya," ujar Belia bercerita dengan girangnya.
"Aku ikut bahagia Bel. Rupanya Muntaz kini sudah berubah. Dan sebentar lagi kamu akan segera menjadi Mama. Selamat Bel," ujar Mery merasa bahagia.
__ADS_1
Najid yang tadi berada dekat sana kini sudah tidak ada. Najid rupanya masuk ke dalam rukonya.
"Yuk, kalau begitu Belia masuk dulu ya. Ini hampir mau masuk kerja soalnya." Belia minta ijin untuk masuk ke toko.
"Kamu belum berhenti bekerja, Bel? Hati-hati lho jangan terlalu kecapean. Kamu kan hamil pertama." Mery mencoba mengingatkan.
"Iya Yuk terimakasih atas perhatiannya. Tapi Belia kayaknya akan berhenti bekerja saat usia kandungan Belia menginjak delapan bulan."
"Ya sudah deh Bel, kau masuklah. Semoga kau sehat-sehat saja." Mery pun pergi dan berpamitan pada Belia. Belia melihat kepergian Mery dengan senyum bahagia.
"Bel, Bela. Aku ada kabar gembira lho." Tiba-tiba Sela datang dan mengejutkan Belia setelah Mery pergi.
"Wahh ... kabar gembira apaan Sel?" Belia penasaran.
"Aku tunangan Bel. Kamu mau tahu aku tunangan dengan siapa?" Belia langsung menggeleng.
"Aku tunangan sama Bang Najib dan satu bulan lagi kami akan menikah," ujar Sela bahagia. Belia terbelalak tidak percaya.
"Benarkah Sel? Wah, pantas tadi Bang Najid mencegat aku dan sepertinya Bang Najid ingin menyampaikan sesuatu yang sama denganmu Sel," ujar Belia merasa ikut bahagia akan kabar pertunangan juga pernikahan Sela yang akan digelar sebulan lagi.
__ADS_1