Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 23 Muntaz Ngamuk


__ADS_3

Besoknya Belia dan Muntaz kembali sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Muntaz telah siap dengan seragam kerjanya yang sudah rapi dan wangi karena hasil setrikaan Belia. Belia selalu tuntas dalam melayani suami meskipun Muntaz belum memperlakukan layaknya seperti istri. Padahal dari segi makan dan dalam hal pakaian, Muntaz masih bergantung pada apa yang disiapkan Belia.



Belia seperti biasa menyiapkan sarapan Muntaz, walaupun dalam suasana yang diam-diaman. Kalau Muntaz tidak berbicara maka Belia tidak akan memulai bicara. Muntaz sarapan dengan lahap, dia memang cocok dengan masakan Belia, hanya sekali-sekali komplen jika hambar atau keasinan rasa masakannya.



"Aku pergi dulu," ucapnya segera berjingkat setelah minum air bening yang disiapkan Belia. Belia dengan cepat menyambar tangan kanan Muntaz, yang sejak tadi sudah jadi ancang-ancangnya. Belia ingin merasakan mencium tangan Muntaz untuk pertama kali sejak serumah dengannya, selain saat ijab qabul. Dan kali ini dia berhasil meraihnya meski dengan hasil mencuri.



Muntaz lantas membalikkan badannya kembali dengan penuh heran. "Kenapa kau?" tanyanya hampir melotot saking terkejutnya.


"Belia hanya ingin mencium tangan Abang," ucapnya jujur sambil segera mencium tangan kekar suaminya yang galak itu. Setelah berhasil diciumnya, perlahan Belia melepaskan dan kembali menuju meja makan dengan wajah menunduk. Belia sibuk membereskan meja.


Muntaz sejenak menatap Belia, kemudian dia membalikkan badan dan pergi. Tidak ada kata-kata lagi dari mulutnya pada Belia. Suara derum motor N-MIX milik Muntaz terdengar, lalu bergemuruh dan melaju pergi meninggalkan halaman rumah kediamannya.



Belia duduk termenung setelah tadi membereskan meja makan. Belia memikirkan sikapnya tadi saat merebut tangan Muntaz secara paksa dan menciumnya. Dirinya merasa kecewa dengan sikap Muntaz yang cuek saat dirinya mencium tangannya. Belia membayangkan jika Muntaz akan sedikit berbelas kasih mengusap kepalanya atau mengulang ucapan pamitnya. "*Aku* *pergi ya*."



Bayangan itu seketika buyar saat Belia tersadar bahwa dirinya juga harus masuk kerja, hanya dengan masuk kerjalah pikiran sedih tentang sikap Muntaz bisa sedikit sirna.



Belia segera membenahi dirinya, dia berdandan dengan dandanan barunya. Belia tiba-tiba memakai kerudung segi empat. Dipadu dengan rok panjang yang selalu dipakainya dengan atasan kaos berkerah. Sebetulnya tidak ada yang berubah banyak dari dandanannya, hanya perubahannya di kepala saja. Dan biasanya Belia selalu menggunakan pakaian yang tertutup, rok panjang dipadu kaos berkerah atau kemeja. Dandanannya bisa dikatakan semi muslimah kali ini, modis tapi masih menutup lekuk tubuhnya.


__ADS_1


Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa pangling dengan perubahan Belia yang semakin cantik, apalagi Belia kini pandai menggunakan make up meskipun hanya tipis. Semakin terpancar saja kecantikan alaminya Belia.



Setelah siap dengan dandanannya, Belia segera beranjak meninggalkan rumah untuk pergi bekerja. Diusianya yang masih sangat muda, dengan dandanannya begitu semakin menambah muda dan cantik penampilannya, walaupun tidak glamor tapi tetap terpancar aura kecantikannya.



Di sepanjang jalan yang dia lewati, ada saja para lelaki yang sekedar menatap mengaguminya. Bahkan sebelum sampai di toko buku tempatnya bekerja, Belia dicegat Najid sang Bos Showroom di ruko itu. Namun karena mau bekerja dan hanya dengan alasan bekerjalah Belia berhasil menghindari Najid yang notabene memang naksir Belia sejak pertama kali bertemu. Dan Najid belum tahu jika Belia sudah menikah.



Sore menjelang, kini tiba waktunya Belia pulang dari toko. "Aku duluan Bel, aku dijemput Kakakku," pamit Sela duluan. Sementara Belia melanjutkan perjalanan kembali menyusuri jalanan samping ruko sepanjang jalan itu. Tumben hari itu Mery tidak ada di kios kemplangnya, yang ada hanya seorang pegawainya berjaga di kios.



"*Yuk Mery pasti sedang pergi dengan* *suaminya, alangkah bahagianya pasangan suami* *istri itu, meskipun sudah punya anak masih* *sangat* *romantis dan akur*," pujinya dalam hati sedikit iri dengan keharmonisan keluarga Mery sahabatnya itu.




"Belia, tunggu!" cegatnya dengan suara tertahan. Otomatis langkah Belia terhenti. Najid berhenti seraya memegang tangan Belia yang sontak ditepis Belia. Belia terkejut mendapati Najid memegang tangannya. Najid juga sontak kaget melihat reaksi Belia.



"Aduh maaf Bel, Bang Najid tadi tidak sengaja memegang tangan kamu," ucap Najid menyesal. "Kamu hari ini sangat cantik, Bel. Biar Abang antar ya baliknya," tawar Najid. Belia menggeleng segan. "Kenapa Bel, apakah kamu sudah punya tambatan hati?" Belum juga pertanyaan Najid dijawab, tiba-tiba telpon WA Belia berdering. Namun sebelum diangkatnya Belia segera berpamitan terlebih dahulu sama Najid yang masih penasaran dengan jawaban Belia. Najid nampak kecewa melihat Belia pergi.



Setelah beberapa langkah meninggalkan Najid, Belia segera mengangkat telpon itu, yang ternyata dari Muntaz. "*Tumben*?" tanya hati Belia heran. "Halo, Assalamu'alaikum, Bang!"

__ADS_1


"Balik kerja cepat pulang, jangan keganjenan di depan lelaki lain!" serobot suara Muntaz di sana tanpa basa basi. Sejenak Belia mematung menahan Hpnya di dekat telinga, dia tidak paham maksud suaminya. Tanpa pikir panjang Belia segera pulang menuju rumah dengan hati penuh tanya.


Tiba di rumah Belia membersihkan diri, sholat Asar lalu memasak untuk menyiapkan kepulangan Muntaz nanti. Sampai tiba waktunya Muntaz pulang, Belia menyambut kedatangan Muntaz dengan membuka pintu rumah lebar-lebar. Karena Belia tahu motor Muntaz juga ikut masuk jika tuannya pulang. Muntaz segera memasukkan motornya dengan cepat dan menutup pintu rumah lalu menguncinya.



"Bela, apa yang kau lakukan di luar sana dengan lanang lain? Tak pantas kau ya sudah bersuami tapi masih melayani lanang lain, apa karena dandanan kau ini?" ujarnya kasar seraya merebut kerudung segi empat yang digunakan Belia.



"Abang, aduhhh, sakittt!" jerit Belia karena rambutnya ikut terjambak.


"Jangan teriak sakit, jadi selama ini dandanan kau berubah itu cuma gara-gara lanang lain. Mana semua make up sialan itu?" teriak Muntaz marah, sementara Belia masih kaget dengan kemarahan Muntaz yang tiba-tiba.


"Semua gara-gara make up yang kau pakai ini, semua lanang melirik dan menyukai kau, kau juga senang menggoda lanang lain, kau mau jadi betina binal, yo rupanyo!" tudingnya marah sambil ngeloyor ke arah kamar sebelah untuk menghancurkan make up Belia.



Muntaz mengobrak-abrik meja rias di kamar itu dan melemparkan semua alat make up Belia yang ada di sana sampai terhambur ke mana-mana.



"Abang jangan, Belia mohon jangan. Ini hasil keringat Belia," isaknya memohon. Muntaz tidak peduli dia terus melempar bahkan ada yang sampai pecah.


"Jangan, Belia mohon jangan dilempar. Itu hasil keringat Belia," mohonnya lagi menangis.


"Jangan Abang, Belia mohon!" ucapnya lagi memelas. Muntaz tidak peduli dia masih ngamuk dan tidak mau mendengar.


"Katakan, kenapa Abang tiba-tiba pulang kerja ngamuk memarahi Belia, salah Belia apa?" Belia memberanikan diri berbicara dengan lantang saking tidak tahan diamuk Muntaz.


"Kau lihat foto ini, lihat baik-baik dengan mata kau. Apa kau masih mau menyangkal!" tuduhnya memperlihatkan sebuah foto Belia dengan seseorang yaitu Najid.

__ADS_1


"Bang Najid?" herannya yang tiba-tiba termenung.


Bersambung.....


__ADS_2