Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 45 Rupa-rupa di Pernikahan Zikri


__ADS_3

Usai acara foto bersama, sejenak Zikri yang notebene tetangga Bu Enok beberapa rumah, memanggil Belia untuk sejenak ngobrol. Kebetulan acara ambil foto sedang dijeda karena para tetamu dipersilahkan menikmati hidangan.



"Bel, sebentar!" tahannya. Belia berhenti dan menoleh ke arah pengantin pria yang tampan, bertubuh atletis, kekar, berambut cepak. Walaupun pakai panca yang diikat di kepalanya, akan tetapi rambut cepaknya masih terlihat dari samping kiri dan kanan. Muntaz yang berada di samping Belia juga ikut berhenti. Dengan jelas Muntaz memperhatikan interaksi keduanya.



"Iya, Kak!" sahut Belia. Mempelai perempuan di samping Zikri juga ikut fokus ke arah Belia. Zikri memperkenalkan Belia pada istrinya sebagai tetangga dekat rumahnya. Mereka terlibat perbincangan, bisa jadi istrinya Zikri tidak tahu masa lalu Zikri yang pernah menaruh hati pada Belia. Yang jelas kini Zikri terlihat sudah ikhlas melepas Belia, terlebih sekarang dia sudah menikah.



"Mana suami kamu?" Zikri bertanya sembari melihat sekeliling mencari Muntaz yang tadi berada di samping Belia tapi sudah tidak ada entah kemana.


"Di sana, Kak. Mungkin sedang bersama teman-temannya," ujar Belia sambil heran padahal tadi Muntaz berada di sampingnya.


"Kamu belum isi Bel?" tanya Zikri lagi sembari melihat ke arah perut Belia sekilas.


"Belum, Kak. Masih belum diberi kepercayaan sama Allah," jawabnya sembari beralih pada pengantin perempuan.


"Yuk Diah, Kak Zikri, Belia ke sana dulu ya, sepertinya suami Belia sedang menunggu Belia. Belia tinggal dulu ya. Semoga kalian bahagia," ucap Belia berpamitan saat melihat Muntaz sepertinya sedang mencarinya.



"Kau ini, asik saja ngobrol sama uwong," protes Muntaz sedikit kesal. Belia merasa bersalah, bukan dia sengaja membiarkan Muntaz, berhubung Zikri tadi memanggil akhirnya terpaksa beberapa menit ngobrol sama Zikri. Bukankah Muntaz tadi juga ikut bersamanya saat Zikri memanggilnya?



"Ayo kita antri ambil makanan prasmanan dulu, aku sudah lapar," ujar Muntaz sambil memasuki antrian stand makanan yang digelar secara prasmanan. Belia tidak bicara apa-apa, dia manut mengikuti Muntaz antri makanan.



Setelah mengambil makanan sesuai porsi, Muntaz mencari tempat duduk. Kebetulan di depan masih ada dua bangku yang masih kosong. Muntaz dan Belia segera menempatinya. Rupanya mereka bersebelahan dengan Serena dan Sabqi tetangga dekat rumah Mak Susi.

__ADS_1



"Taz, rupanya kalian!" Sabqi terkejut saat melihat Muntaz dan Belia duduk dekat bangkunya. Di sebelah Sabqi juga ada Serena, istrinya yang sedang menyuapi anaknya yang masih empat tahun.



"Eh, kau, Bro." Muntaz menatap Sabqi sejenak sebelum dia duduk di bangku.


"Wahhh, pasangan yang serasi," ejeknya, terlihat dari bibir Sabqi yang dimencongkan ke kanan. Sabqi sedikitnya tahu kisah Muntaz yang sempat ketemuan dengan Novi sampai kena bogem sama suaminya Novi.


Muntaz duduk dan masih diajak ngobrol sama Sabqi, sambil menikmati makanannya. Sementara Belia juga ngobrol dengan Serena yang merupakan temannya dahulu saat masih sekolah.



"Ayo Taz, pindah sebelah sini. Aku ada yang mau diomongi," ujar Sabqi sembari membawa piring dan kursinya mojok di ujung tenda, sengaja menjauhi Belia dan anak istrinya. Entah apa yang mau Sabqi omongkan pada Muntaz. Muntaz terpaksa ikut dia penasaran dengan ajakan Sabqi temannya itu.



"Kau ini ada apa, ajak aku makan mojok di sini?" tanya Muntaz sedikit terlihat kesal sambil tetap menyuapkan nasi di piringnya.




Muntaz terlihat mengkerutkan keningnya. Sepertinya omongan Sabqi barusan cukup menyita perhatiannya. "Pantas saja pengantin pria tadi manggil Bela, entah apa yang mereka obrolkan," ujar Muntaz.



"Bisa jadi hati mereka masih ada cinta, sayangnya mereka bukan jodoh," ujar Sabqi seakan memanas-manasi Muntaz.


"Kau ini macam tahu banyak tentang mereka."


"Tahulah, aku ini kan kenal dekat sama keluarga Wak Hera, bahkan aku sebetulnya lebih setuju Bela jadian sama Bang Zikri," ucap Sabqi membuat Muntaz menghentikan makannya.

__ADS_1


"Apa maksud kau?" tanya Muntaz berubah kesal.


"Eits, jangan marah dulu. Maksudku, jika dulu mereka jadian aku setuju nian, sebab mereka sebenarnya sama-sama saling suka," ungkap Sabqi sengaja bikin Muntaz panas, sebab seperti yang Sabqi ketahui bahwa Muntaz memang belum mencintai Belia, terlebih saat Sabqi melihat Muntaz makan berdua sama Novi di warung makan sederhana waktu itu. Sabqi merasa ikut kesal, karena bagaimanapun dia dan keluarga Belia akrab juga. Belia juga kebetulan teman dekat Serena istrinya Sabqi.


Muntaz diam, makanan di piringnya tidak dihabiskannya, kemudian dia geletak piring itu di bawah bangku yang dia duduki.


"Kenapa, Taz? Sedikit nian kau makan? Mubazir buang-buang makanan!" tegur Sabqi diiringi sengeh. Sebenarnya Sabqi tahu apa yang dirasakan Muntaz, Sabqi sengaja membuat Muntaz kepanasan. Sebab Sabqi memang tidak suka dengan sikap Muntaz yang terlalu sombong dengan tidak menghargai perasaan Belia.


"Kau ini ajak aku mojok di sini sengaja bikin hati aku panas? Kau bikin selera makan aku hilang." Muntaz bersungut sangat kesal pada Sabqi.



"Sabarlah dulu Bro, bukankah kau tidak mencintai Bela?" Sabqi malah semakin gila menggoda hati Muntaz supaya panas.


"Tuh lihat ke sana, Bela justru sekarang tengah ngobrol sama si Najid Bos showroom. Aku dengar si Najid juga suka dengan bini kau. Jadi, jika Bela lepas dari kau, maka bini kau tidak akan susah dapat pengganti. Masih banyak lanang lain yang akan mencoba mendapatkan cintanya," ujar Sabqi lagi makin membuat Muntaz bergemuruh.


Saat Muntaz melihat ke arah Belia yang sedang ngobrol dengan Najid, memang tidak sendiri, di sana masih ada Sela, dan Serena. Kata-kata provokasi Sabqilah yang berhasil membuat hati Muntaz bergolak.



"Kau itu lanang, tapi mulut macam betino. Kau pandai sebarkan gosip. Ya, sudah kau jadi Reporter gosip saja," ujar Muntaz kesal sembari meninggalkan Sabqi yang tersenyum gembira melihat Muntaz panas.



"Taz, Muntaz, kau itu perlu aku beginikan, supaya kau sadar diri. Lagipula aku ini tidak tega lihat Bela kau sakiti terus. Kau malah mengejar Novi yang masih bersuami sedangkan bini kau yang macam mutiara, kau siakan," dumel Sabqi menatap Muntaz yang pergi meninggalkannya kesal.



Sementara itu Muntaz yang kesal dengan provokasi Sabqi, dia langsung menghampiri Belia yang masih ngobrol dengan Sela, Serena dan Najid sambil menikmati es krim.



"Ayo, balik sekarang!" ujarnya sembari meraih tangan Belia dan menariknya. Belia terkejut seketika saat Muntaz menarik tangannya. Terpaksa Belia berpamitan pada Sela, Serena dan Najid dengan perasaan tidak enak hati.

__ADS_1



Sementara Najid menatap Belia terhenyak, dia berpikir Muntaz marah melihat Belia ikut ngobrol bersamanya.


__ADS_2