
Pagi tiba, Belia bangun kesiangan. Perlahan dia bangkit, namun rasa berat di kepalanya seakan menghujam jiwa. Membuat Belia malas melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun karena ingat akan kewajiban pada Sang Illahi, Belia memaksakan bangkit tergopoh ke kamar mandi. Sebab rasa berat dan sakit di kepalanya membuat dia tersendat untuk berjalan.
Keluar dari kamar mandi, Belia bersegera mendirikan sholat Subuh yang hampir kesiangan. Setelah melaksanakan kewajibannya sebagai umat Muslim, Belia menuju meja rias dan berdiri di hadapan cermin memandang dirinya yang tidak biasa, dengan mata yang bengkak.
Rasa sakit hati yang dia rasakan akibat perlakuan Muntaz tadi malam, membuat dia tidak kuasa meneteskan kembali air matanya. Namun tidak lama dari itu, Belia segera menyeka air matanya, dia beranjak ke dapur untuk membuat teh hangat dan mengambil obat Paracetamol dari kotak P3K. Belia merasakan tubuhnya demam.
Belia duduk di kursi makan, rasa sakit di kepala dan suhu tubuh yang panas dia harapkan bisa reda dengan meminum obat Paracetamol.
"Glek, glek." Obat beserta air bening telah masuk kerongkongannya. Belia meletakkan gelas bekas dia minum di meja. Matanya kini mulai memendar mencari sosok Muntaz yang sejak di kamar tadi tidak dia temui. Sudahlah, Belia tidak mau lagi memikirkan Muntaz yang tidak pernah mencintai dirinya.
Tiba-tiba pintu rumah terdengar di buka, Muntaz muncul menuju dapur membawa beberapa kresek di tangannya. Seakan merasa disambut, Muntaz segera menghampiri Belia dan sibuk membawakan mangkuk yang dituanginya bubur yang dia beli di belokan depan. Rupanya Muntaz setelah Subuh tadi segera beranjak keluar mencari bubur untuk Belia.
"Bel, sarapan dulu. Badan kamu semalam demam, setelah itu minum Paracetamol penurun panas dan pereda nyeri," ujarnya seraya menyodorkan bubur yang masih sangat panas ke hadapan Belia. Belia menatap mangkok berisi bubur itu dengan nanar. Dia baru sadar, saat minum Paracetamol tadi Belia belum makan apa-apa. Belia berdiri meninggalkan meja makan tanpa menyentuh bubur pemberian Muntaz sama sekali.
Muntaz menatap kepergian Belia dengan kecewa, saat melihat meja makan, Muntaz mendapati sisa cangkang obat Paracetamol yang sudah terkoyak dan gelas bekas minum. Itu artinya Belia sudah minum obat Paracetamol tanpa makan. Muntaz mengejar Belia ke kamar, dia meraih tangan Belia.
"Bel, kamu sudah makan obatnya kan, tapi kamu belum sarapan!" cemas Muntaz menatap punggung Belia.
__ADS_1
"Kenapa, biarkan saja Belia mati. Itu kan mau Abang?" balas Belia seraya masuk kamar dengan gontai.
"Setidaknya kau makanlah dulu, Bel. Supaya tidak terjadi apa-apa sama kau," ujarnya lagi cemas.
"Buat apa, toh Belia sudah minum obatnya. Kalau mau mati tinggal mati saja, toh tidak ada yang mengharapkan Belia," ujarnya ketus sembari merebahkan diri di kasur.
"Bela, kau itu! Jangan kau bicara sembarangan. Aku suamimu, kalau kau mati gara-gara minum obat tidak makan dulu, aku juga yang kena. Aku tidak mau disalahkan gara-gara tidak perhatian sama kau," sentak Muntaz keras.
"Sudahlah Bang, tidak perlu khawatirkan Belia. Pergiiii, pergi kemana Abang suka, Belia sudah tidak peduli Abang mau kemana atau dengan siapa," ucap Belia lemah sembari menyelimuti tubuhnya yang masih terasa menggigil karena demam. Belia merasa tubuh dan kepalanya harus segera diistirahatkan dan sudah tidak sanggup lagi jika harus berdebat lagi dengan Muntaz.
"Kau itu keras kepala Bela. Jangan salahkan aku jika kau kenapa-kenapa." Ucapan Muntaz hanya samar terdengar oleh Belia. Kini dirinya merasa ngantuk kembali setelah minum obat tadi, terlebih demam di tubuhnya memaksa dia untuk berbaring. Dan terpaksa hari ini dia tidak bekerja seperti biasa.
Penyesalan selalu datang belakangan, Muntaz menatap tubuh Belia yang kini tertidur. Deru nafas yang terdengar sangat tidak beraturan menandakan Belia benar-benar sakit. Muntaz khawatir terjadi apa-apa dengan Belia setelah minum obat tadi.
"Kau harus sehat lagi Bel, aku takut disalahkan oleh wong tuo kau dan juga wong tuo aku," harapnya cemas. Rasa khawatir Muntaz hanya sekedar takut disalahkan oleh kedua orang tua mereka, sebab seperti yang Muntaz tahu kedua orang tuanya sangat menyayangi Belia. Sikap kedua orang tuanya juga alasan terbesar dirinya dan Belia terpaksa bertahan mengarungi rumah tangga yang tanpa cinta.
Sebelum bersiap untuk kerja, Muntaz terlebih dahulu menghubungi Mak Susi. Muntaz berharap Mak Susi tidak sedang sibuk.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mak! Taz, boleh minta tolong? Wong rumah sakit, Mamak datang yo. Taz, mau begawe , tidak bisa bolos." Pesan WA terkirim, tapi belum dibaca sama Mak Susi.
Sambil menunggu balasan WA dari Mak Susi. Muntaz sarapan dulu. Kali ini dia sarapannya bubur, dapat beli dari pengkolan depan. Sebetulnya dia tidak biasa sarapan beli di luar, dia selalu sarapan buatan Belia. Berhubung Belia sakit, terpaksa Muntaz beli sarapan di luar. Bagaimanapun juga dia lebih memilih makanan yang dimasak Belia. Tapi kenapa, Muntaz belum mau menerima kehadiran Belia dalam hatinya?
Muntaz gelisah, sebab Mak Susi belum membaca WA darinya. "Aduhh Mak, Taz bisa kesiangan nih," gerutunya. Sesekali Muntaz melihat Belia yang benar-benar tidur. Mungkin karena efek demam dan obat yang Belia minum, Belia tertidur nyenyak.
Saat menatap tubuh Belia yang terbujur tidur, Muntaz sebetulnya begitu khawatir sebab semalaman saat demam Belia tinggi. Belia mengigau menyebut-nyebut nama Muntaz terus. Terlebih saat Belia mengigau mengatakan betapa Belia sangat mencintai Muntaz, Muntaz merasa pedih hatinya. Sebab cinta itu masih belum ada untuk Belia.
Lima belas menit kemudian, Mak Susi akhirnya membalas pesan WA Muntaz dan mengiyakan akan datang ke rumah. "Kau tunggu bae sepuluh menit."
Mendapat balasan dari Mak Susi seperti itu, Muntaz bersiap akan pergi bekerja. Tidak berapa lama, Mak Susi datang dengan membawa jinjingan asoy buah tangan untuk Belia.
"Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam, masuklah Mak!" Mak Susi masuk dihampiri Muntaz yang menyalaminya.
"Kenapo mantu aku sakit, pasti kau yang buat dia sakit kan?" Mak Susi datang-datang langsung menyudutkan Muntaz. Sejujurnya dalam hati, Muntaz mengakui. Muntaz tidak menjawab, daripada melayani Mak Susi yang akan semakin memperkeruh keadaan, Muntaz berpamitan untuk bekerja, karena sudah pasti Mak Susi akan menyalahkannya kenapa Belia sakit.
"Taz, pamit ya, Mak. Taz, janji sore balek, Taz tidak akan lembur." Muntaz berpamitan dan menyalami Mak Susi seperti biasa.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!" ucapnya dijawab Mak Susi.
"Waalaikumsalam," sahut Mak Susi menatap kepergian anak bungsunya.