
Kini Belia sudah pulang ke rumah. Kondisinya sudah benar-benar pulih. Bayinya yang masih belum diberi nama nampak anteng dan sehat dalam gendongan Mak Susi. Kadang bergantian dengan Bu Enok. Mereka berdua kompak dalam memberikan perhatian. Padahal Mak Susi bukan kali ini mempunyai cucu. Cucu dari anak yang pertama dan kedua, dua-duanya laki-laki. Akan tetapi Mak Susi tidak pernah pilih kasih dalam memberikan kasih sayang pada cucu-cucunya.
"Jadi, akan dikasih nama siapa anakmu ini Taz?" Muntaz nampak merenung memikirkan sebuah nama bagi bayi laki-lakinya.
"Ratazka Aliandra," ucap Muntaz yakin, setelah berpikir beberapa menit.
"Wahhh, nama yang bagus." Bu Enok bergembira menyambut baby Ratazka yang kini sedang ditidurkan di dalam boks bayi.
"Apa panggilan yang tepat buat baby Ratazka, ya?" tanya Mak Susi.
"Azka lebih bagus, atau Ali juga bagus," usul Belia menimpali yang tiba-tiba menghampiri dari arah kamar. Nampaknya Belia sudah mulai pulih pasca melahirkan. Belia duduk di samping Muntaz yang masih memikirkan nama panggilan bayinya.
"Wahh, benar katamu Bel, Azka saja panggilan nama anak kita," ujar Muntaz setuju. Semua gembira. Kehadiran bayi Azka membawa kegembiraan baru buat keluarga kecil Muntaz Belia maupun keluarga besan kedua belah pihak. Terlebih buat Bu Enok dan Pak Deden, bagi mereka ini cucu perdana yang sangat membahagiakan.
"Alangkah baiknya bayi Azka ditidurkan di ruang tengah sebelum usianya tujuh hari. Biarpun bayi Azka sudah punya kamar sendiri, tapi untuk sementara dekatkan dia sama kita dulu, biar nanti bayi Azka tidak kaget jika bertemu kita-kita yang banyak ini," tukas Pak Deden memberi usul. Gayung bersambut, usul Pak Deden diterima dengan baik oleh Muntaz dan Belia maupun Bu Enok dan Pak Deny.
Tujuh hari kemudian tepat diusia bayi Azka yang ke tujuh, acara aqeqahan diadakan. Acara yang dilaksanakan lancar tanpa hambatan yang berarti. Bayi Azka nampak anteng saat mengikuti beberapa rangkaian acara.
__ADS_1
Para tamu undangan yang kebanyakan tetangga dekat dan teman kerja Muntaz berdatangan memenuhi undangan. Mereka memberi ucapan selamat pada Muntaz dan Belia. Kebahagiaanpun mengiringi keluarga Muntaz.
"Selamat ya Bel, sekarang kau sudah menjadi seorang ibu," ucap Mery memberi selamat.
"Terimakasih banyak Yuk Mery," balas Belia seraya menyambut kedatangan Mery dengan sebuah pelukan. Setelah Mery, kemudian Sela datang bersama Najid. Mereka sangat kompak dan serasi. Saat Belia menatap keduanya, terpancar bahagia yang mendalam dari mata Belia.
"Belaaa, selamat, ya. Kau sudah jadi Mamak sekarang ya. Mana bayi kau Bel?" Sela menghampiri Belia dan merangkulnya bahagia.
"Bayi Azka sedang tidur dulu di ayunan, sepertinya dia lelah dan ngantuk."
"Selamat ya, Sel. Kau sudah menikah sekarang dengan Bang Najid. Aku ikut bahagia," sambung Belia memberi selamat atas pernikahan Sela dan Najid, laki-laki yang sempat naksir sama Belia.
"Aduhhh, Bel. Aku sekalian mau minta maaf, sebab aku tidak undang kau saat pernikahan aku waktu itu. Tahu sendiri, aku menikahnya kan di kampung. Jadi, teman yang dekat rumah saja tidak aku undang karena tidak sempat," tukas Sela meminta maaf karena tidak bisa mengundang Belia saat itu.
"Tidak apa-apa Sel, aku juga saat itu sepertinya tidak bisa sebab Bang Muntaz kerja siang, dan tidak ada yang mengantar aku. Yang penting pernikahan kalian selamat dan lancar ya," ucap Belia teriring doa. Tidak berapa lama Najid diiringi Muntaz menghampiri Belia. Dengan senyum bahagia Najid mengucapkan selamat atas kelahiran dan suksesnya acara aqeqah bayi Azka. Diantara keduanya nampak binar bahagia, tidak ada rasa canggung atau marah.
"Selamat, ya, Bel. Sekarang kamu sudah jadi Ibu," ucap Najid memberi ucapan selamat seraya menyalami Belia.
__ADS_1
"Terimakasih Bang Najid. Ngomong-ngomong kapan kalian nyusul punya yang seperti kami?"
"Tenang saja, lagi diusahakan," jawab Sela yang sama-sama diaminkan semua yang di sana. Mereka semuapun nampak bahagia diacara aqeqahan bayi Azka. Di akhir acara, semua tamu yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan yang tersaji secara prasmanan.
Akhirnya acara aqeqahan bayi Azka selasai. Para tamu undanganpun pulang dengan rona bahagia. Semua bahagia termasuk Muntaz dan Belia.
"Satu, dua, tiga, klik." Kebahagian mereka terdokumentasi di dalam sebuah jepretan foto, oleh seorang Fotografer setempat yang handal membidik foto. Semua senyum bahagia terpancar di sana, seperti senyum bahagia yang terpancar dari penulis yang akhirnya bisa menyelesaikan karya ini dengan lelehan ngantuk dan kehilangan ide yang hampir mendera.
T a m a t
Terimakasih untuk semua yang telah setia mengikuti karya Author yang sederhana ini. Alangkah kecilnya saya tanpa kalian. Like dan komen kalian yang sangat berarti akhirnya membuat Author bisa sampai menamatkan karya ini.
Terimakasih juga buat sesama Penulis yang sudi mampir ke karya sederhana ini. Saya tidak bisa tuliskan satu per satu siapa kalian, yang penting jejak kalian di karya saya akan selalu saya kenang dan akan menjadikan ladang pahala yang akan terus mengalir buat kalian. Terimakasih banyak atas kebesaran hati kalian. Saya sangat terharu atas dukungan kalian.
Salam terhangat buat kalian semua pembaca maupun sesama penulis, semoga selalu dalam lindunganNya, serta dilimpahkan rezekinya. Aamiin... Yaa Robbal alamin....
__ADS_1
Tammat