Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 18 Membiarkan Muntaz Memohon


__ADS_3

Belia terheran dan meraih handuk itu, lalu ke kamar mandi untuk membuka bajunya yang basah dan diganti dengan handuk. Setelah menggunakan handuk dan mengeringkan rambut, Belia segera keluar dan berharap Muntaz tidak ada di dalam kamar.



Namun alangkah terkejutnya, baru satu langkah meninggalkan kamar mandi, Muntaz sudah berdiri di samping jendela yang dibukanya, hembusan angin seketika menyeruak masuk ke dalam kamar. Dan hawa sejuk langsung terasa menerpa pori-pori kulit.



Belia segera mencari baju di lemarinya seraya memegangi handuk oleh sebelah tangannya. Muntaz dengan cepat menghampiri Belia dan sudah berada di belakang Belia. Ditatapnya tubuh sempurna Belia, kuning langsat, bersih dan mulus, nyaris tidak ada minus. Muntaz berdecak menahan sebuah hasrat yang tiba-tiba menjalar.



"Bela, pakailah baju yang aku pilihkan di kasur ini. Hari ini kita akan diajak jalan-jalan sama Bang Haraz, dan kita harus ikut," kata Muntaz bernada perintah. Belia tidak mengacuhkan perintah Muntaz, dia melanjutkan mengubek lemarinya mencari baju yang dia inginkan.



"Sudahlah Bela! Untuk kali ini kumohon maafkan aku, jadi pakailah baju ini dan kita akan bersiap pergi bersama mereka." Belia tidak menyahut dia masih sibuk mencari baju yang dia inginkan.



"Bela, ayolah pakai baju yang sudah aku siapkan." Muntaz merangkul belia dengan tangan kanan yang siap menarik handuk yang dipakai Belia. Sekali tarik maka handuk itu akan terbuka dan mempertontonkan keindahan tubuh Belia. Belia gemetar ketakutan, rasa emosi dan takut campur jadi satu. Yang mampu dia lakukan hanya menahan tangan Muntaz agar dia tidak sampai menarik ujung handuk yang diselipkan ke dalam pintalan handuk yang menutupi tubuhnya.



Tangan Belia menahan tangan Muntaz dan berusaha ditepisnya, lalu Belia menatap Muntaz dengan marah, dia semakin sedih diperlakukan Muntaz seperti itu. Bukannya dirayu hatinya supaya rasa sakit hatinya hilang, ini malah memberikan lelucon yang memaksa dia harus mengikuti kemauannya.



Tiba-tiba bulir bening di sudut matanya luruh, Belia tidak kuat menatap tajam mata Muntaz. Matanya pedih dan hatinya sakit, ingin rasanya saat itu dia menjerit dan memukul-mukul Muntaz, menumpahkan rasa kesal dan kecewa yang bergelayut dalam dada.


__ADS_1


Belia menangis saat itu juga, perlahan Muntaz melepaskan rangkulannya dan melepaskan Belia, dia menyadari telah menyakiti Belia, sehingga membuat perempuan muda di hadapannya tidak mampu berkata-kata lagi.



Setelah lepas dari cengkraman Muntaz, Belia segera mencari bajunya di lemari sesuai keinginannya. Celana jeans, kemeja lengan pendek serta cardigan panjang selutut dia ambil. Tidak lupa bra, kaos dalam, dan \*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\* serta celana pendek sebagai dalaman, kumplit dibawanya ke kamar sebelah.



Belia keluar melewati Muntaz yang menatapnya. Muntaz tidak berani mengganggu Belia lagi, sebab dia takut Belia tidak mau diajak jalan-jalan sama keluarganya. Terlebih mata bengkak Belia sisa tangis semalam masih kelihatan. Jika ditambah lagi dengan tangisan barusan bisa jadi makin bengkak. Bagaimana Muntaz bisa mengajak Belia jika kondisi mata Belia bengkak begitu?



Tiba di kamar sebelah, Belia segera memakai pakaian yang tadi diambilnya dari kamar sebelah. Tiba-tiba bunyi Hp mengejutkan dirinya, ada pesan WA masuk dari Mak Susi dan Yuk Salfina.



"Assalamu'alaikum, Bel, siap-siaplah kami sebentar lagi jemput kalian jam 8." Bunyi WA dari Mak Susi.




Belia menatap hampa layar Hpnya setelah membaca semua pesan WA dari Mak Susi maupun Yuk Salfina. Mereka berlomba-lomba ingin menyenangkan hati Belia, namun tidak dengan Muntaz. Rasanya jika mengingat rasa sakit hati yang ditorehkan Muntaz kembali, dia ingin menolak permintaan kedua orang yang dia hormati itu. Tapi apa boleh buat, Belia terpaksa harus mengalah, mengikuti ajakan mertua dan iparnya.



Belia segera memakai baju yang dia pilih tadi, lalu duduk di ranjang. Rasa lapar yang terasa sejak subuh tadi kini menyeruak kembali, dia lapar sebab tadi malam tidak sempat makan karena keburu bertengkar dengan Muntaz. Beruntung Belia ingat, kemarin saat di toko pada jam istirahat, dia sempat membeli roti dua bungkus. Satu bungkus dimakannya, satunya lagi setelah ditawarkan pada Sela tapi Sela menolak, akhirnya roti itu dia bekal ke rumah. Dan sekarang bisa buat ganjal perut Belia sarapan pagi.



Belia keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air bening hangat di dispenser. Rupanya di meja makan sudah ada Muntaz menunggu. Muntaz menyodorkan teh hangat ke hadapan Belia beserta pempek goreng kriuk kesukaannya. Belia hanya menatap sekilas, meskipun hatinya tergiur ingin menyantap pempek goreng kriuk kesukaannya, rasa kecewa terhadap Muntaz ternyata lebih menguasai.

__ADS_1



Belia beranjak meninggalkan meja menuju dispenser. Lalu menuangkan air panas dan dingin di cangkirnya.


"Glek, glek, glek." Suara air sudah masuk ke tenggorokan Belia. Setelah itu Belia langsung berjingkat meninggalkan meja makan menuju kamar kembali. Kali ini dia akan bersiap dan sedikit berdandan. Muntaz yang dilewatinya terbengong dan mengejarnya.


"Bel, Belaaaa, kau makanlah pempeknya dulu, ini pemberian Mamak buat kau. Dari semalam kau belum makan, apakah kau tidak lapar?" Bela yang disusul sudah terlanjur masuk kamar dan mengunci pintu.



"Bel, Bela, bersiaplah! Sebentar lagi mobil Bang Haraz tiba!" teriak Muntaz putus asa. Belia enggan menyahut dia terlanjur sakit hati.



Belia menatap wajahnya di cermin, betapa menyedihkan. Bengkak di matanya tidak mungkin bisa ditutupinya dengan seoles bedak. Kecuali dengan alat tempur yang sempat ia kumpulkan seminggu yang lalu bersama Mery sahabatnya.



Mery membantu menunjukkan alat tempur yang ramah di kantong Belia, lagipula Belia cocoknya dengan merek Vivu yang sudah pioner sejak dulu, selain halal, dan BPOM, juga ramah kantong. Pilihan variannya banyak, buat kulit yang masih remaja seperti Belia juga ada.



Dengan bantuan Mery perlahan namun pasti Belia belajar make up, selain dari Mery, Belia memperdalam ilmu bermake-upnya dari chanel-chanel YouTube, baik artis terkenal maupun Yutuber.



Tap, tap, tap, alat tempur mulai berpindah ke wajah Belia yang dasarnya sudah cantik. Kemudian diaplikasikan ke wajahnya. Belia sudah pandai menyiasati mata bengkak menjadi sirna. Tidak perlu tebal, cukup sekali touch up, wajah Belia tampak sempurna, cantik dan mempesona.



Belia memastikan tampilannya di cermin berulang-ulang takutnya kemenoran. Namun yang ada Belia malah semakin menyukai tampilannya, terlihat natural dan tidak menor. Cantik seperti dandanan ABG dan memang betul usia Belia saja baru 20 tahun.

__ADS_1



"Bel, Belaaa, bersiap-siaplah, mobil Bang Haraz sebentar lagi datang. Aku mohon bersiaplah Bela! Kalau tidak maka Bang Haraz akan memarahiku," mohon Muntaz nampak putus asa. Belia yang mendengar Muntaz memohon nampak puas, biarlah kali ini Muntaz memohon kepadanya, bukan memberikan rasa kecewa terus untuknya. Belia tersenyum sambil menatap penampilannya yang nampak segar dan makin menggemaskan.


__ADS_2