Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 37 Kena Bogem Mentah


__ADS_3

Azan Maghrib berkumandang, Belia masih menunggu Muntaz pulang. Perasaannya kini berubah cemas. Belia ingin rasanya menghubungi Muntaz, namun ketakutannya lebih menguasai. Walaupun Muntaz tidak mencintainya, namun rasa khawatir itu ada. Dan Belia masih berharap, bukan Novi yang Muntaz temui, walaupun dua kabar dari Wak Hera dan Mery memberi gambaran nyata bahwa Muntaz pergi dengan seorang perempuan.



Belia segera menutup seluruh pintu dan jendela rumah, kemudian dikuncinya. Dia segera menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mendirikan sholat Magrib. "Ya Allah, sebagai ikhtiar hamba umatMu yang lemah ini yang selalu berharap cinta dari sesama manusia, maka sehina apapun hamba, mohon selamatkan di manapun suami hamba berada. Dan jika dia berada dalam jalan yang salah, maka beri kesadaran pada suami hamba, aamiin!" Belia berdoa dengan khusu dipenghujung sholatnya, memohon keselamatan dan pengampunan untuk Muntaz suaminya.



Semakin malam Muntaz belum muncul juga, dan jam di dinding sudah hampir jam sembilan malam. Kali ini Belia mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Muntaz, karena perasaan Belia tidak biasanya sangat khawatir. Akan tetapi nomer Muntaz tidak aktif. Berulang kali dihubungi pun tidak aktif juga. Sampai Belia datang rasa kantuk, Muntaz belum pulang juga. Akhirnya saking ngantuknya Belia tertidur di sofa ruang tamu begitu nyenyak, mungkin karena lelah fisik dan pikiran.



Pagi menjelang, Belia sudah siap akan bekerja. Muntaz yang diharapkannya pulang ternyata tidak datang juga, padahal kunci rumah sudah ia letakkan di atas ventilasi. Namun kekecewaan yang Belia dapat. Belia kembali sedih dan murung. Rasa sakit ini malah kian bertambah.



Belia segera berangkat kerja dan berusaha mengubur rasa sedih dalam-dalam. Sejenak dia melihat HPnya, siapa tahu Muntaz ada menghubunginya. Belia heran kenapa Muntaz belum pulang padahal hari ini dia harus bekerja.


"Kemana perginya Bang Muntaz? Padahal hari ini dia kerja, masa iya demi seorang perempuan, Bang Muntaz rela bolos kerja, padahal Bang Muntaz paling disiplin dan semangat kalau kerja. Ada apa dengan Bang Muntaz?" Sepanjang perjalanan ke toko buku tempatnya bekerja, Belia berbicara di dalam hatinya sendiri memikirkan ketidakpulangan Muntaz.


Tiba di toko, Belia disambut Sela teman seperjuangan di toko itu. Melihat Belia murung, jiwa kepo Sela muncul. Mulailah dia mengorek informasi apa gerangan yang membuat Belia murung.



"Bela, datang-datang kau murung dan tidak bersemangat begitu, kenapa? Teman menyambut kau malah diam-diam bae. Ado masalah apo? Coba cerita sama aku!" paksa Sela mencoba mengorek keterangan Belia.



"Tidak apa-apa Sel, aku sedang datang bulan. Bisa jadi pengaruh dari datang bulan," jawab jawab Belia tidak sepenuhnya benar atau salah, memang pada kenyataannya dia tengah datang bulan.



"Oalah, kau lagi datang bulan rupanya. Pantas PMS. Sakit tidak Bel datang bulannyo? Biar aku belikan minuman pereda nyeri bulanan."

__ADS_1


"Tidak perlu Sel, aku tidak pernah diobatin pakai minuman begituan, aku nunggu sembuh dewe bae," Ujar Belia.


"Ya sudah kalau tidak mau, lebib baik kita mulai bekerja saja," ujar Sela seraya bersih-bersih debu yang menempel di meja etalase toko menggunakan kemoceng.


Jam delapan tiba, Belia dan Sela memulai pekerjaannya, pembelipun makin siang makin ramai, Belia dan Sela pun sama-sama sibuk.



"Bel, aku duluan ya istirahatnya, nanti kamu setelah aku saja," ujar Sela seraya menatap Belia. Belia mengangguk, lagipula saat ini toko sedang tidak terlalu ramai, jadi Belia sedikit santai.



"Ok deh Sel, kau duluan bae," ujar Belia. Selapun pergi meninggalkan toko sembari menenteng tas jinjingnya.



"Bel, Bela!" Tiba-tiba Mery datang berlari kecil menghampiri Belia yang sedang tidak sibuk dengan nafas ngos-ngosan. Belia heran dengan Mery yang tiba-tiba datang seperti orang yang ingin menyampaikan sesuatu yang mengkhawatirkan.



"Ada kabar buruk, Bel," ujar Mery sambil matanya melirik kanan dan kiri merasa takut ucapannya ada yang mendengar selain dia dan Belia. Melihat reaksi Mery seperti itu, Belia jadi semakin cemas, belum lagi selesai memikirkan tentang Muntaz, tiba-tiba Mery datang membawa kabar buruk.


"Tenang dulu, Yuk. Belia jadi takut kalau Ayuk bicaranya tidak tenang. Coba pelan-pelan, lalu Ayuk ceritakan dengan tenang berita buruk tentang apa?" tanya Belia seraya mencoba menenangkan Mery sahabatnya.



"Begini, Bel. Berita buruk ini justru tentang laki kau, si Muntaz." Mery menjeda sejenak bicaranya, sontak Belia mengerutkan kening kaget.



"Tentang Bang Muntaz? Bang Muntaz kenapa, Yuk?" tanya Belia mulai was-was.


"Laki kau kena musibah, dia ada yang ngebogem sampai bonyok mukanya," berita Mery setengah berbisik.

__ADS_1


"Benarkah, Yuk?"


"Sutttt, kau ini jangan keras-keras bicaranya. Aku takut terdengar samo yang lain. Yang lain mano tahu puas dengarnyo," kata Mery sambil memberi peringatan di mulutnya dengan telunjuk supaya Belia tidak keras-keras bicara.


"Laki kau kena bogem uwong, uwong itu adalah lakinyo si Novi. Laki kau kepergok tengah bersamo si Novi di warung makan. Lakinyo ngamuk tanpa mau mendengar penjelasan si Muntaz. Laki kau kena tuduh jadi selingkuhan si Novi betino satu itu. Ohhhh geram aku dengan kelakuan laki kau. Masih saja mau diajak jalan samo bini uwong."



Belia tidak berkata-kita, dia shock mendengar berita buruk dari Mery barusan. Bukan saja buruk bagi Muntaz atau keluarganya saja, akan tetapi lebih buruk buat Belia, hatinya benar-benar hancur saat mendengar Muntaz dibogem suaminya Novi selingkuhannya. Belia gelang-gelang kepala, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Muntaz. Rupanya firasatnya benar, ternyata Muntaz rela membatalkan janjinya mengajak jalan-jalan demi perempuan itu. Dan kini dia mendapatkan bogem mentah dari suami selingkuhannya.



"Bel, Bela! Aduuh, macam mana nih. Bel, jangan nangis di sini, hapuslah dulu air mata kau, nanti dilihat uwong lain. Ayo, hapuslah dulu air matanya," Mery mencoba menguatkan Belia yang kini sudah meneteskan air mata.



Belia tiba-tiba menangis suara isaknya mulai terdengar. Mery menjadi panik, dia bingung melihat Belia justru tidak bisa mengendalikan diri.


"Bel, sudah jangan nangis di sini, lebih baik hapus cepat air mata kau, aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku cuma mau sampaikan itu. Oh ya, laki kau sudah dibawa ke RS Kita Sehat kabarnya," bujuk Mery menenangkan Belia.


Perlahan tangis Belia mulai reda dan Belia berusaha menghapus air matanya. Sebab Belia tidak ingin kesedihan dan luka hatinya diketahui orang lain termasuk Sela.



"Yuk, dari mano Ayuk tahu kabar Bang Muntaz dipukuli lakinya si Novi?" Belia mencoba mencari tahu dengan isak tangis yang masih terdengar.



"Dari Serena, sebab dio yang melihat langsung kejadian. Kau tahu sendiri Serena merupakan penyuplai makanan di warung makan dekat Kalidoni. Mungkin saat itu Serena tengah masukin barang ke warung makan di sano. Tahunya dio malah mergoki laki kau dipukuli uwong." Mery menjeda sejenak bicaranya.



"Kau yang sabar, ya, Bel. Aku tidak ada maksud membuat kau terpuruk dengan berita ini. Aku cuma tidak ingin kau cemas menunggu kabar laki kau. Kalau kau sudah kuat hati, kau bisa jenguk laki kau di RS. Ya sudah aku pergi dulu, aku cuma mau sampaikan itu bae, supaya kau tidak bingung dengan kabarnya laki kau," tutur Mery sembari berpamitan dan pergi buru-buru meninggalkan Belia yang masih shock. Belia menatap kepergian Mery dengan hati yang sedih dan kalut.

__ADS_1


__ADS_2