Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 42 Menjaga Muntaz


__ADS_3

Setelah menumpahkan kesedihan dan kekecewaannya terhadap Muntaz, Belia segera keluar dari kamar mandi pasien dan bersikap biasa lagi karena Mak Susi sudah berada di sana.



"Bela, kau Isyalah dulu, biar tenang. Setelah sholat Isya kita makan sama-sama masakan buatan kau," ujar Mak Susi.


"Iya, Mak. Kalau begitu Belia ke mesjid dulu." Belia pamit tanpa menoleh pada Muntaz.


Ketika Belia pergi Mak Susi dan Muntaz terlibat percakapan. "Kau lihat Bela, dia masih mau menganggap kau. Aku tahu Bela sudah mengetahui kau berado di RS ini gara-gara apo?Kau dibogem suami orang karena terlibat perselingkuhan," cetus Mak Susi geram.



"Mak, sudahlah Mak, Taz tahu Taz salah karena sudah menemui Novi. Tapi aku bersumpah nih Mak, aku tidak berselingkuh samo dio, aku ketemu dia cuma pinjamin duit, kasihan dia melas-melas minta dipinjami duit sama Muntaz, Dio bilang suaminya tidak kasih duit selama beberapa bulan." Muntaz memberi alasan.



"Nah ini nih bodohnya kau, kau itu mau dibodoh-bodohi bini uwong dengan dicekoki cerita sedih si Novi lalu kau terharu dan kasihan dan minjamin duit sebesar lima juta. Kau ini benar-benar bodoh, Taz," hardik Mak Susi kesal.



"Tega kau jadi suami, Bela yang sudah berbakti dan mencintai kau, tapi kau sia-siakan. Kau lebih kasihan samo bini uwong dengan mudahnya kau pinjamin duit lima juta, sedangkan Bela kau kasih cuma dua juta sebulan, tapi sikap kau tidak pernah baik, kau abai dan tidak peduli perasaannya," lanjut Mak Susi dengan suara yang sangat kesal.



Belia yang belum jauh dari pintu ruangan pasien, mendengar dengan jelas semua perkataan Mak Susi. Mertuanya itu memang ada dipihaknya, selalu membelanya. Di situlah kenapa Belia sanggup bertahan, bertahan karena mertua yang baik, juga bertahan karena kedua orang tuanya yang masih menghargai janji suci pernikahan yang sakral.



"Neng pernikahan itu sakral, tentang janji dua hati di depan Yang Maha Kuasa. Jika salah satu dari pasangan berbuat salah dan kesalahannya masih bisa dimaafkan, maka maafkanlah. Namun jika salah satu tidak rido, maka jalan keluarnya adalah perpisahan. Tapi ingat, perpisahan memang dibolehkan dalam agama kita tapi dibenci oleh Allah," jelas Pak Deden suatu hari.


__ADS_1


Di mana-mana memang tidak ada orang tua yang mau rumah tangga anaknya runtuh, terlebih runtuhnya oleh orang ketiga. Semua menginginkan kebahagiaan. Pernikahan itu tentang komitmen, jika salah satunya mengingkari, maka keutuhan rumah tangga itu bisa terusik. Tinggal pandai-pandai kita mengatasinya, mau lanjut atau tidak.



Semua wejangan dulu saat awal menikah kini seakan terngiang di telinga Belia. Dan semua itu benar-benar membuat dirinya dalam dilema, yang akhirnya Belia kembali terpaksa bertahan, demi kedua orang tuanya.



Belia segera meninggalkan balik pintu ruangan pasein itu untuk ke mushola dan melaksanakan sholat isya. Saat kembali dari mushola, rupanya perbincangan antara Mak Susi dan suaminya masih belum berhenti. Sengaja menguping atau tidak, nyatanya suara Mak Susi yang lagi bicara jelas terdengar.



"Aku tak tahu lagi harus ngomong apo samo Mamak dan Bapaknya Bela. Aku ini malu jika bertemu mereka, gara-gara kelakuan kau." Mak Susi masih belum berhenti kegeramannya pada Muntaz, sehingga Belia yang mau masuk ruanganpun urung, sebab dia tidak ingin dianggap mergoki Mak Susi dan Muntaz tengah berdebat.



Belia tidak mendengar suara Muntaz menyela atau di dalam sana, Belia tahu, Muntaz memang bukan tipe anak yang suka melawan, jadi apabila diceramahi maka reaksinya diam, sesekali membantah namun tidak keras.




"Jangan Mak, Taz bukan ingin berpisah!" Muntaz menyela, rasa sedih tiba-tiba mendera ketika mendengar Mak Susi berbicara seperti itu. Untuk beberapa saat perdebatan mereka usai, baik Muntaz dan Mak Susi seolah sama-sama larut dalam kesedihannya masing-masing.



Belia memberi jeda waktu untuk dirinya kembali ke dalam ruangan pasien. Dia tidak ingin dianggap memergoki perbincangan dua orang beda usia itu.



"Assalamualaikum!" ucapnya sembari mendekat. Belia bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Dia memasang wajah yang ceria di depan Mak Susi.

__ADS_1



"Waalaikumsalam. Bela, sudah datang kau rupanyo. Ayo, kita makan dulu masakan bawa kau tadi, aku sudah lapar," seru Mak Susi menyambut kedatangan Belia dari mushola. Mereka pun kini menikmati makan malam berdua di ruangan Muntaz.



Besoknya, Mak Susi terpaksa harus kembali ke rumah. Dia sebetulnya enggan meninggalkan Belia berdua dengan Muntaz. Tapi karena di rumah ada pesanan pempek yang harus dibuat dan dikirimkan pada si pemesan hari itu juga, Mak Susi akhirnya pulang walau dengan berat hati.



"Belia tidak apa-apa Mak di sini jagain Bang Muntaz, Bang Muntaz kan suami Belia, masa Mamak yang jagain terus?" ucap Belia pada Mak Susi, lagipula menunggui Muntaz di RS memang tanggungjawabnya sebagai istri. Bukan tanggungjawab Mak Susi lagi. Muntaz yang mendengar ucapan Belia, tiba-tiba seperti ada yang menghujam ulu hatinya. Belia dengan jelas masih menganggapnya suami, sedangkan dirinya hanya menyia-nyiakannya saja. Kini penyesalan mulai menyergap dirinya.



"Aku balik yo, kau tidak apo-apo dewean?" Mungkin sore aku datang sini lagi. Taz, aku balik yo." Mak Susi akhirnya berpamitan diantar oleh tatapan sayu Belia.



Sepeninggal Mak Susi, ruangan nampak hening. Baik Belia atau Muntaz tidak ada yang bersuara, hanya deru nafas yang sesekali mereka hela untuk melepaskannya secara kasar.



"Bel, aku mau waslap dan gosok gigi. Maukah kau bantu aku gosok gigi?" Tiba-tiba Muntaz berkata dan meminta tolong Belia untuk membantunya gosok gigi dan diwaslap. Belia tertegun sejenak. Rasanya hati Belia ingin membiarkan Muntaz berusaha sendiri, namun hati kecilnya berkata lain, dia tidak tega, dan Belia masih terikat dengan kewajiban sebagai seorang istri.



Belia bangkit kemudian ke kamar mandi membawa air segayung dan baskom kecil yang sudah disiapkan Suster tadi pagi untuk sikat gigi, bahkan air hangat untuk waslap juga sudah siap di baskom berukuran sedang. Muntaz akhirnya gosok gigi dengan air kotoran mulutnya ditadah baskom kecil yang sudah disediakan. Kemudian dengan perasaan campur aduk, Belia mulai mewaslap wajah, dan sekujur tubuh Muntaz. Awalnya risih namun saat ingat bahwa Muntaz adalah suaminya, dengan bismillah Belia melakukan kewajibannya sebagai istri membersihkan badan Muntaz dengan diseka kain waslap.



Muntaz yang sedang dilayani Belia, merasakan getaran-getaran aneh dalam dirinya terlebih saat wajah Belia dekat dengan wajahnya, Muntaz menikmati dan menatap wajah Belia lekat. "*Ternyata kau itu cantik Bel, kau juga baik. Aku* *salah selama ini telah menyia-nyiakan kau. Aku* *minta maaf, Bel*." Muntaz berkata di dalam hatinya mengagumi keindahan wajah Belia.

__ADS_1


__ADS_2