Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 41 Ngertiin Aku, Bel


__ADS_3

"Assalamualaikum!" ucap Belia memberi salam. Mak Susi dan Muntaz sontak menatap ke arah datangnya suara. Muntaz dan Mak Susi terkejut seketika. Terlebih Muntaz yang memang mengharapkan Belia sejak kemarin.


"Bela," gumannya bahagia.


"Waalaikumsalam," sahut keduanya nampak bahagia meskipun awalnya kaget.


"Bela!" seri Mak Susi masih kaget dan seakan tidak percaya.


"Mak," Belia menghampiri Mak Susi lalu menyalami tangan Mak Susi dengan takzim. Lalu beralih pada tangan Muntaz dan menyalami Muntaz seperti apa yang Belia lakukan pada Mak Susi.



Belia tidak berani menatap Muntaz, dia kembali mangalihkan wajahnya ke samping, namun Muntaz menarik tangan Belia sehingga tubuh Belia tertahan di sana. Terpaksa Belia berdiri di samping ranjang pembaringan pasien.



"Mak, ini Belia bawakan makanan. Mamak pasti lapar seharian nungguin Bang Muntaz. Makanlah dulu, Mak," ujar Belia seraya melepaskan perlahan cengkraman tangan Muntaz. Belia menunjukkan dan meletakkan rantang berisi nasi beserta lauknya. Tadi sore setelah pulang kerja dan sholat Asar, Belia langsung memasak. Walaupun hatinya masih sakit karena ulah Muntaz, namun di sisi lain dia ingat akan kewajibannya sebagai seorang istri. Untuk sementara Belia menurunkan egonya dan malam harinya ba'da Isya Belia melangkahkan kakiny ke RS.



"Bel, Mamak ke mesjid dulu yo. Mamak mau melaksanakan sholat Isya di Mesjid. Mamak titip Muntaz, dulu," ujar Mak Susi sengaja memberi luang dan waktu untuk anak dan menantunya yang kino terlihat kaku.

__ADS_1



Belia menghampiri Mak Susi yang masih bersiap, Mak Susi meraih asoy mukenanya yang tadi bekas sholat Maghrib.



"Terimakasih Bela, kau baik banget bawakan Mamak makanan. Nanti setelah shalat Isya, aku makan ya. Tunggulah sejenak kita aplusan jagain Muntaz," ujar Mak Susi seraya bersiap dan beranjak dari kamar pasien Muntaz.



Kini tinggal mereka berdua di dalam kamar pasien. Muntaz menatap punggung Belia yang sengaja memunggunginya. Muntaz tahu, akibat ulahnya Belia pasti sangat marah padanya, buktinya saat tadi Belia menyalami tangannya, Belia sama sekali tidak berani menatap mata Muntaz.



"Bukankah Bang Muntaz masih suamiku, tidak ada salahnya." Belia berkata di dalam hatinya.


Belia kini mendekat dan duduk di samping ranjang pasien dengan tubuh menghadap Muntaz, akan tetapi Belia tidak berani menatap Muntaz.



"Bela, terimakasih kau telah datang. Aku senang. Abang minta maaf telah membatalkan janji denganmu," ucap Muntaz. Kata maaf Muntaz barusan sontak membuat kecewa Belia kembali merekah. Demi menemui Novi, Muntaz rela membatalkan janjinya dan akibatnya seperti ini. Setelah dipukuli suami orang, Muntaz masih mengharapkan Belia untuk menjaganya bukan Novi yang dibela-belain dijumpainya.

__ADS_1



Belia melepaskan tangan Muntaz secara paksa. Rasa kecewa semakin membuncah dan kesal, ingin rasanya muka Muntaz yang masih lebam lebam itu ia tonjok saja supaya lebih sakit.



"Kenapa Abang mengharapkan kedatangan Belia, sedangkan perempuan yang Abang harapkan Novi?" Akhirnya Belia memberanikan diri mengungkap isi hati yang sebenarnya. Pegangan tangan Muntaz kini seakan tidak lagi dia rasakan getarannya. Padahal dulu begitu dia harapkan.



"Bel, maafkan aku. Kau tahu kenapa hari itu aku membatalkan janji dengan kau? Iya benar, aku menemui Novi, namun saat itu aku menagih duit yang pernah dia pinjam sebesar lima juta. Itu alasannya, Bel. Aku mohon percaya sama aku. Sesungguhnya hari itu aku tidak berniat membatalkan janji aku mengajakmu jalan. Percayalah, Bel." Muntaz menjelaskan seolah ingin meyakinkan Belia dan ingin Belia percaya padanya.



"Setelah, Abang dipukuli suaminya, Abang baru menyesal? Baru Belia sadari, ternyata Abang lebih sayang dan perhitungan memberi duit sebesar dua juta sebulan pada Belia, dibandingkan memberi pinjaman pada mantan pacar Abang sebesar lima juta rupiah," tandas Belia membuat Muntaz membeku.



Belia kini semakin kecewa mendengar pengakuan jujur Muntaz. Dia seakan disisihkan dan dimainkan hati dan perasaannya oleh Muntaz.


Belia berlalu dan beranjak darj hadapan Muntaz menuju kamar mandi pasien, lalu menumpahkan semua kekecewaannya di sana.

__ADS_1


"Bel, tolong ngertiin aku. Aku mohon maafkan aku. Bela, kembalilah Bel." Muntaz berteriak dengan suara yang sedih, bagaimanapun juga dia sangat sedih jika Belia tidak mempercayainya.


__ADS_2