
Jam empat sore tiba, waktunya Belia dan Sela pulang dari toko. Belia berkemas membereskan tasnya yang disampirkan di pundaknya.
"Ayo, Bel!" ajak Sela setelah mereka menutup pintu rolling door toko.
"Kamu masih nunggu yang jemput, Sel?"
"Iya, nih."
"Ya, udah aku duluan, ya." Belia pamit pada Sela dan mulai melangkahkan kakinya.
Sela menatap lekat kepergian Belia. Sela kini sedikit berlega hati, sebab Najid yang dia taksir tidak lagi terlihat mengejar Belia sejak Sela mengirimkan foto kebersamaan Belia dengan Najid pada Muntaz.
Beberapa langkah lagi Belia berada di depan showroom Najid. Saat itu kebetulan Najid ada dan Najid masih menyapa Belia seperti biasa. Sela penasaran apa yang akan Najid katakan pada Belia.
"Belia!"
Belia menoleh, lalu berdiri sejenak menunggu respon dari Najid selanjutnya.
"Aku minta maaf karena selama ini telah mengganggu kamu. Aku tidak tahu jika kamu sudah bersuami. Sampaikan maaf aku pada suami kamu, aku tidak akan ganggu kamu lagi," ucap Najid minta maaf untuk disampaikan pada suaminya. Sejenak Belia melongo dengan apa yang didengarnya barusan, terlebih sebetulnya dia kurang konek dengan perkataan Najid, sebab Belia sejak tadi masih melamunkan keadaan Muntaz.
"Oh, i-iya Bang, Belia juga minta maaf jika selama ini Belia ada salah kata," ucap Belia gelagapan. "Kalau begitu Belia pamit, ya," ujarnya sembari beranjak dari hadapan Najid. Najid mengangguk, sebenarnya dia masih menyimpan cinta pada perempuan muda yang tadinya dia pikir masih gadis, namun kini Najid harus bisa berlapang dada menerima kenyataan bahwa gadis yang diharapkannya milik orang lain. Najid kembali ke dalam rukonya.
__ADS_1
Sementara Sela, walaupun tidak terlalu dekat mendengar pembicaraan Najid dan Belia, dia merasa senang akhirnya Najid kelihatannya tidak terlalu antusias saat berdekatan dengan Belia, mungkin dia kini sudah jaga jarak.
"Maafkan aku Bel, bukan aku culas, tapi aku mau Bang Najid sadar bahwa kau sudah menikah. Dan aku harap Bang Najid mau melirik aku yang menyukainya, semoga kau bahagia bersama suami kau," doa Sela dalam hati.
Belia tiba di rumahnya. Pikirannya menjadi sangat sedih dan kalut saat dia menghempaskan tubuhnya di kursi meja makan. Biasanya datang dari pulang kerja, Belia selalu minum air bening dari dispenser, tapi kini rasa haus itu dia biarkan menjalar di tenggorokannya.
Belia meraih HP dalam tas kerjanya. Melihat apakah ada yang menghubunginya. Tapi saat mengingat kabar dari Mery tadi, rasanya menjadi malas kalau-kalau orang yang menghubunginya hanya akan memberitahukan kabar Muntaz yang dipukuli suami mantan pacarnya.
"Itu ulah Abang sendiri kenapa menemui perempuan itu, sekarang Abang kena balasannya. Minta saja sekalian ditemani sama perempuan itu untuk menjaga Abang di RS." Dan Belia langsung mematikan HPnya tanpa membuka lagi WA yang entah dari siapa.
Meskipun hati sedih dan kalut dan sebagai manusia biasa yang sering disia-siakan, manusiawi banget jika Belia kini sedikit merasa ada perasaan puas mendengar Muntaz kesakitan di RS karena dipukuli suami orang. Meskipun demikian Belia tidak membiarkan perutnya yang lapar. Belia langsung menuangkan air bening untuk minum dan membasahi tenggorokannya yang kering tadi. Lalu makan dengan sayur dan lauk yang tadi pagi sempat dia sediakan sebelum berangkat kerja.
Setelah makan Belia mengunci pintu dan jendela, lagipula sebentar lagi Maghrib menjelang, Belia tidak mau lama-lama membiarkan pintu tidak di kunci. Belia masuk kamar, kamar yang biasa dia dan Muntaz tiduri. Rasa kantuk dan kecewa kini saling berlomba menguasai dirinya, namun karena lelah hati dan badan, akhirnya Belia ketiduran saat leyeh-leyeh yang tadinya hanya mengistirahatkan kaki yang pegal akibat berdiri saat melayani pembeli yang banyak di toko.
*****
__ADS_1
Sementara itu di **RS Kita Sehat** di ruangan rawat Rajawali, kamar nomer 3, Muntaz terbaring lemah dengan infus di tangannya dan luka lebam serta memar di mukanya. Mukanya yang tampan kini berubah mengerikan, tidak tampan lagi.
Tidak berapa lama Mak Susi muncul menenteng asoy yang berisi mukena. Sejenak dia menatap tubuh kaku terbujur anak bungsunya yang berbaring di ranjang pasien, sebelum menghempas tubuhnya di kursi tunggu ruangan rawat itu. Rasa sedih dan kesal langsung timbul seketika. Mengutuk kebodohan anak lelaki bungsunya.
Mak Susi merenung, ingatannya kembali pada kejadian 7 bulan lalu, yang mengantar Muntaz melamar Belia. Sebetulnya lebih kepada mengantar keinginannya untuk bermenantukan Belia, saat itu Mak Susi tahu Muntaz tidak menghendaki lamaran atau perjodohan itu, sebab Muntaz masih kecewa dengan Novi yang meninggalkannya menikah, padahal itu sudah berlalu dua tahun yang lalu.
Akan tetapi firasat Mak Susi yang besar akan harapannya terhadap Belia, bahwa Belia adalah calon istri yang baik bagi Muntaz. Mak Susi berharap pada anaknya maupun Belia, suatu saat akan hadir sebuah cinta dalam rumah tangganya. Namun sampai kini, Mak Susi belum melihat adanya cinta dalam diri Muntaz, Mak Susi jadi meragukan firasatnya. Mak Susi hanya melihat Belialah yang mencintai Muntaz.
"*Aku yang salah telah memaksakan kehendak* *anak-anak. Jika aku saat itu tidak memaksanya*, *maka baik Belia maupun Muntaz pasti bahagia* *dengan pilihan masing-masing. Tapi sekarang* *menyesalpun tiada guna. Aku hanya bisa berdoa* *buat kalian, jika Allah memberi jodoh yang* *panjang buat kalian berdua, maka setelah kejadian* *ini kalian akan tetap bersama. Tapi jika memang* *kalian tidak jodoh dan salah satu diantara kalian* *meminta untuk berpisah, maka Allah pasti* *memberi jalan terbaik untuk perpisahan itu*." Mak Susi berkata-kata di dalam hatinya diiringi matanya yang berkata-kata.
Kini hanya penyesalan yang ada dalam diri Mak Susi, menyesal telah menjodohkan Belia pada Muntaz. Akan tetapi bukan menyesal karena bermenantukan Belia. "*Bel, maafkan aku, Bela*. *Karena aku, kau jadi menderita. Tapi demi Zat* *yang menciptakan langit dan bumi ini, aku* *bersumpah bahagia bermenantukan kau*." Mak Susi menjerit di dalam hatinya, meminta maaf pada Belia.
Mak Susi mendesah lelah, ujung matanya mulai menitikkan bulir bening, bukti jiwa rentanya sudah lelah dengan semua yang menimpa pada dirinya, namun Mak Susi akan berusaha tegar sebab hubungan Belia dan Muntaz masih bisa diperbaiki jika Tuhan menghendaki.
Muntaz masih memejamkan matanya sejak minum obat, tadi sore. Entah obat apa dikasih dokter, yang jelas Muntaz seperti diberi efek obat tidur.
__ADS_1