
Muntaz terpaksa membawa Belia pulang, padahal dia masih ingin memutari kawasan Benteng Kuto Besak ini lebih lama. Namun, tidak. disangka dia justru malah bertemu Novi dan suaminya yang sangat memuakkan bagi Muntaz.
Saat motor melaju dan Belia duduk di belakangnya, sejak itulah sepatah katapun tidak keluar dari mulut Belia. Muntaz sadar, sikap Belia ini dipicu oleh perlakuan Novi tadi di BKB. Muntaz merasa sangat kesal dan kecewa dengan Novi. Kini baru disadarinya bahwa Novi begitu menyebalkan, yang Muntaz sesalkan kenapa dia baru sadar sekarang setelah sikap Belia malah berubah dingin padanya.
"Bel, aku minta maaf ya, atas kejadian yang tidak kita duga tadi. Aku tidak tahu akan bertemu Novi. Kalau kamu masih mau jalan-jalan, kita terus ke Jakabaring saja habis ini."
"Tidak usah, Belia lelah ingin istirahat," tolak Belia cepat. Muntaz sedikit terhenyak dengan balasan Belia. Dia sadar Belia pasti kecewa dengan kejadian tadi di Benteng Kuto Besak.
Akhirnya Muntaz melajukan motor menuju kediamannya, walaupun hatinya diliputi rasa tidak enak pada Belia. Sebelum motor sampai rumah, Muntaz berhenti sejenak tepat di belokan menuju rumahnya. Dia berhenti tepat di depan penjual bakso dan makanan-makanan lainnya yang berjejer di sana.
"Sebentar ya, aku beli bakso dulu. Kamu mau beli apa saja, Bel?" tanya Muntaz pada Belia yang sepertinya sedang melamun. Namun Belia langsung menggeleng. Muntaz jadi bingung dengan sikap Belia, dia jadi serba salah dibuatnya. Namun kali ini Muntaz akan bersabar menghadapi sikap dingin Belia demi meraih hati Belia kembali yang sempat hancur.
Beberapa menit kemudian Muntaz selesai berbelanja makanan. Dia tidak peduli Belia nanti akan memakannya atau tidak, yang jelas dia membelikannya.
"Ayo, kita pulang!" ajak Muntaz. Belia patuh dan menaiki motor Muntaz di belakangnya, tanpa sepatah katapun. "Bel, maafkan aku telah berulang kali mengecewakanmu. Dulu aku kecewakan kamu dengan aku jalan bersama Novi, sekarang aku kecewakan kamu dengan kehadiran Novi dan suaminya yang tidak aku duga," batin Muntaz meminta maaf penuh sesal.
Tiba di depan rumah, Belia segera turun menuju pintu. Sejenak dia berdiri menunggu Muntaz membuka pintu, sebab kali ini Muntaz membawa kunci rumahnya digantung dan disatukan dengan kunci motornya, Belia juga sama, sekarang dia memiliki kunci rumah yang digantung di lehernya.
Setelah pintu sibuka, Belia langsung masuk rumah, dia tidak peduli Muntaz yang masih di belakangnya.
Jam di dinding masih menunjukkan pukul 11.00 pagi menjelang siang. Belia yang merasa kesal pada Muntaz sejak di BKB tadi, terlebih dirinya malah bertemu Novi mantan Muntaz yang tidak segan mengatainya cemen.
"Bel, ayo kita makan dulu. Aku tadi beli banyak makanan buat kita," ajak Muntaz pada Belia yang terlihat masih cuek dan tidak peduli dengan ajakan Muntaz.
__ADS_1
"Bel, ayo duduklah, kita makan bersama dan menikmati jajanan ini," ulang Muntaz seraya menunjuk kursi makan di sampingnya. Lagi-lagi Belia tidak menyahut dan hanya diam. Muntaz hatinya sedikit kesal, ingin rasanya dia berteriak memanggil Belia supaya Belia bicara padanya, namun Muntaz harus berusaha sabar dan bertahan, mungkin ini ujian baginya untuk meraih cinta Belia.
Muntaz kini berusaha memposisikan dirinya sebagaimana Belia dulu yang pernah di posisinya, dicuekin dan tidak dianggap.
"Bel, aku wadahi ya, baksonya. Kau mau apa, bakso atau seblak?" tawar Muntaz. Perlahan Belia mendongak dan menatap Muntaz.
"Abang tidak perlu repot-repot membelikan makanan buat Belia, nanti mubazir," ujar Belia membuat Muntaz terhenyak.
"Kenapa mubazir? Ini aku belikan untuk kau untuk kita makan, Bel."
"Tidak usah beli-belikan lagi Belia makanan, Belia tidak ingin Abang rugi," ujar Belia sembari beranjak menuju ruang tengah menyisakan beribu tanya di hati Muntaz.
"Bel, tunggu! Apa maksudmu? Aku tidak merasa rugi belikan makanan yang tidak seberapa ini buat kau, kau jangan katakan yang tidak-tidak."
"*Aku paham, Bel, kau patut marah dan cemburu. Tapi uang yang aku pinjamkan ke Novi, terpaksa aku ikhlaskan dengan tujuan aku sudah tidak ingin lagi ada urusannya dengan Novi*." Hati Muntaz berbicara, dia sadar apa yang dirasakan Belia kini. Dan kini dirinya yang harus berusaha memahaminya, bukan memarahinya.
Muntaz kini duduk termenung di ruang tamu, sejak pulang dari BKB tadi, Belia belum keluar kamar. Mungkin Belia butuh waktu sendiri. Muntaz kali ini akan terus berusaha bersabar menghadapi Belia.
__ADS_1
Muntaz meraih Hp dan mengapit rokok dengan sela jemarinya, kemudian dia utak-atik pada sebuah halaman kontak. Saat matanya sudah menemukan sebuah nama yang dulu sempat mengisi hari-harinya sebelum menikah dengan Belia. Namun kini dengan mantap dan yakin, Muntaz dengan tegas menghapus dan memblokir nama Novi. "*Bye, bye, Novi, kenangan terburukku*,"
Sebulan kemudian, sikap Belia masih dingin dan datar. Muntaz hampir putus harapan, akan tetapi Mak Susi selalu memberi Muntaz semangat, sebab Mak Susi kini melihat kesungguhan Muntaz untuk berubah dan berusaha mencintai Belia.
Pagi ini sebelum Muntaz pergi bekerja, setelah sarapan pagi yang disiapkan Belia. Muntaz merasa heran dengan keadaan Belia yang sudah hampir dua bulan ini setelah tidak '*pakai jarak* *aman*' saat hubungan, akan tetapi sepertinya belum ada tanda-tanda Belia berbadan dua.
Muntaz menghela nafas berat, seumpama Belia sudah hamil, maka dia yakin Belia tidak akan lagi menghindari dirinya dan pernikahan ini tentunya akan terus kekal.
"Bel, apakah belum ada tanda-tanda kau hamil?" tanya Muntaz pagi itu setelah dia sarapan pagi. Belia sejenak terlihat bingung dan kecewa, namun dengan cepat dia kembali seperti biasa.
"Kenapa Abang tanyakan itu? Bukankah selama ini cinta Abang bukan untuk Belia, lantas kenapa mengharapkan Belia hamil?" Pertanyaan balik Belia ini langsung seakan menghujam jantung Muntaz. Di
__ADS_1