Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 51 Membuat Novi Cemburu


__ADS_3

Besoknya, Belia bangun seperti biasa. Setelah kumandang azan Subuh terdengar dia langsung bangkit untuk menunaikan kewajiban umat Muslim. Belia tidak berinisiatif untuk membangunkan Muntaz suaminya, karena setahunya Muntaz hanya akan bangun jika alarm Hpnya berbunyi tepat jam 5.30 pagi.



Namun hal yang tidak disangka terjadi, Muntaz tiba-tiba menarik tangan Belia. Belia tersentak, kemudian dia melihat dengan jelas Muntaz benar-benar menahan tangannya lalu bangkit dan duduk di kasur. Kini Muntaz melilit pinggang Belia dengan tangan kekarnya. Dengan sikap yang manja menenggelamkan kepalanya di leher Belia. Dengan cepat Muntaz mencium pipi Belia gemas sambil menahan perut Belia yang ingin bangkit.



"Bel biarkan seperti ini, aku rindu bermanja denganmu," mohon Muntaz lagi seraya masih mencium pipi Belia yang kini mulai kegelian akibat ulah Muntaz. Belia tidak berusaha berontak karena tangan Muntaz melilit erat di pinggangnya.



"Bel, sekali saja. Sebelum kita sholat Subuh bersama," mohon Muntaz dengan mata yang sendu. Belia menghindar saat wajahnya diciumi Muntaz, ingin menolak tapi dia susah untuk berontak. Sedangkan untuk menerima ajakannya, jujur saja Belia masih merasakan kecewa karena Muntaz.



"Ini sudah azan Subuh, Bang. Harusnya kita sudah siap melaksanakan Subuh. Ini bukan waktu yang tepat," ucap Belia berusaha menolak. Namun lagi-lagi cengkraman Muntaz tidak mampu membuat Belia bisa lepas.


__ADS_1


"Sekali saja Bel, tolonglah! Abang nggak kuat," mohonnya memelas. Belia rasanya tidak tega. Dia sebetulnya bukan perempuan gampangan. Namun yang dia hadapi di sini adalah seorang suami yang kini masih belum sepenuhnya Belia maafkan, tapi untuk gampangan kali ini untuk suaminya.



Akhirnya dengan terpaksa, Belia Subuh ini mencari pahala lewat Muntaz, yaitu melayani Muntaz yang nampak sangat merindukannya.


"Cupppp." Lagi-lagi kecupan itu Muntaz daratkan di sekitar wajah Belia, termasuk bibir Belia yang kini irit bicara terhadap Muntaz.


Akhirnya, keinginan Muntaz terlaksana jua, meskipun wajah Belia tidak sepenuhnya menikmati. Muntaz memahami apa yang Belia rasa. Dia tahu Belia masih marah gara-gara omongan Novi.




Seminggu kemudian hubungan Belia dan Muntaz masih kaku dan dingin. Hari ini tepat dengan hari Minggu, Muntaz berusaha mengajak Belia jalan-jalan. Walaupun Belia sempat menolak, namun Muntaz kali ini memaksa dan tidak berhenti untuk merayu Belia untuk percaya padanya. Dan bukan isapan jempol belaka, kini Muntaz memperlihatkan sikap gigihnya untuk terus berusaha meraih hati Belia.



"Bel, siap-siaplah hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Tolong, jangan tolak ya!" Muntaz memohon dengan sungguh-sungguh. Wajahnya serius dan sepertinya enggan untuk ditolak. Belia menatap wajah Muntaz sekilas tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1



Akhirnya mereka berduapun pergi. Muntaz berhasil membawa Belia jalan-jalan pagi ini. Hari ini Muntaz ingin membahagiakan Belia dengan sepenuh hatinya dan mengembalikan kepercayaan Belia padanya.



Muntaz membawa motornya membelah kota pempek dengan perasaan bahagia. Dia sangat bahagia telah berhasil membawa Belia jalan.



Muntaz turun dan berhenti menempatkan motornya diparkiran Benteng Kuto Besak. Lalu dengan sigap meraih jemari Belia dan merematnya. Jadilah mereka seakan pasangan yang benar-benar saling mencintai dan mengasihi.



Tanpa mereka sadari, dari arah yang berlawanan, nampak Novi tengah berjalan dengan seseorang. Muntaz dan Belia tidak melihat Novi sama sekali, mereka berdua asik dengan pikirannya masing-masing.



Saat Muntaz dan Belia tepat berada di samping Novi, dengan dada yang tiba-tiba bergemuruh Novi merasa cemburu melihat Muntaz saling remat jemari dengan Belia. Novi nampak kesal, padahal dia kini sama-sama dengan pasangannya.

__ADS_1


__ADS_2