
"Kau tuh tidak tahu diri, Taz. Umur lah tuo tapi masih memikirkan cinta perempuan tak tahu diri itu, dio tuh tak baik buat kau, makanya dio lari sama lanang yang lain. Awas yo, jika kau berani menyakiti Belia, babak belur kau kena tinju aku ini," ancam Haraz marah sambil menghempas tubuh Muntaz ke dinding. Tubuh Muntaz terhuyung dan membentur tembok, sikunya menggores kuat pegangan pintu sampai terluka dan berdarah.
Pak Deny sebagai Bapak dari kedua anak lanangnya itu, langsung menghalangi niat Haraz yang ingin meninju perut Muntaz. Sedangkan Muntaz dihalangi Mak Susi. Sementara Salfina yang tengah menidurkan Rasya, berdebar-debar jantungnya saat mendengar keributan di luar kamar.
"Berhenti, hentikan, Nak, jangan kau sakiti adikmu dengan kekerasan fisik, itu tidak baik!" cegah Pak Deny menahan tangan Haraz yang kekar. "Sudah, lebih baik kita omongi saja, jangan pakai kekerasan!" bujuk Pak Deny menengahi. Haraz diam dan membuang nafas dalam-dalam mengatur emosinya yang memuncak.
Nasib baik bagi Muntaz, Pak Deng menghalangi Haraz, kalau tidak dia pasti babak belur kena tinju Haraz.
"Kau masih selamat karena aku ditahan Bapak, tapi lihat kagek, kalau kau masih perlakukan wong rumah kau tidak baik, maka aku tak segan layangkan tinju ini di muka kau!" ancam Haraz serius dengan muka yang merah padam.
Muntaz yang tadi tubuhnya terhuyung kini sudah didudukan kembali di kursi oleh Mak Susi. Deru nafasnya turun naik menahan ketegangan yang baru saja terjadi.
"Kau baleklah dulu Taz, besok kau bersiaplah dengan bini kau untuk pergi jalan-jalan samo kami. Abang kau kesini ingin mengajak kita semua jalan-jalan," ujar Pak Deny menenangkan Muntaz. Kebiasaan keluarga ini memang selalu begitu, setiap ada waktu luang atau libur panjang, mereka akan mengajak keluarga berlibur. Menghabiskan waktu bersama keluarga. Siapa yang sedang ada duit, maka dengan senang hati mengajak keluarga jalan-jalan, walaupun ke tempat yang dekat-dekat saja.
Dulu ketika Muntaz masih bujangan pun, kebersamaan keluarga saat liburan selalu dilakukan. Saat itu masih lengkap, ada Hana, Kakak perempuan Muntaz dan adik dibawah Haraz. Namun sejak Hana menikah dan menjadi seorang Guru, serta diajak pindah oleh suaminya ke daerah Kayu Agung, kini kebersamaan itu jarang dilakukan. Kecuali jika Hana berkunjung ke Palembang, maka dia dan suaminya yang selalu ngajak jalan-jalan menikmati kebersamaan keluarga. Dan keluarga ini wajib kompak, kecuali jika ada halangan.
__ADS_1
Akhirnya Muntaz pulang dengan membawa kemarahan ke rumah yang diakibatkan Kakaknya, Haraz. Jika Mak Susi tidak berbicara di depan Haraz tentang keadaan rumah tangganya, mungkin Muntaz tidak akan kena bogem Haraz. Nasi sudah jadi bubur, mau buat apa lagi? Kini Muntaz memendam kesal pada Belia di rumah, karena menurutnya dialah penyebab semua ini. Dan saat sampai rumah, Muntaz meluapkan emosinya pada Belia dengan uring-uringan di depan Belia.
Muntaz kembali ke kamarnya setelah Belia sudah tidak lagi menyahutnya. Dia masuk dan menutup pintu kamar, duduk di atas dipan dan merenung. Belia yang dulu selalu menunduk dan cuma bisa diam jika dia kesal, kini mulai berontak dan protes.
Perkataan Belia yang mengatakan bahwa dia terpaksa bertahan hidup berumah tangga bersamanya karena desakan dan kebaikan keluarganya yang menyambut Belia dan selalu mendukung Belia, bukan karena cinta padanya, kini masih terngiang-ngiang di telinga Muntaz.
"Tidak, Bel, kau masih mencintai aku. Kau tadi sedang berbohong demi menutupi kesedihanmu karena sikap aku. Aku juga terpaksa bertahan karena desakan wong tuo untuk menerimamu. Jadi kita sama-sama terpaksa menjalani rumah tangga ini." Muntaz berkata-kata di dalam hatinya sampai matanya mulai mengantuk Muntaz membaringkan diri di ranjang, tidak lama dari itu Muntaz tertidur sampai Subuh menjelang.
Muntaz segera ke kamar mandi membersihkan diri lalu melaksanakan kewajibannya sebagai umat Muslim. Setelah itu Muntaz keluar kamar, pandangannya mengedar ke seluruh ruangan mencari pergerakan Belia. Namun yang dicari belum kelihatan batang hidungnya. Mungkinkah Belia masih tidur? Biasanya dia paling duluan bangun Subuh. Setelah itu sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Menunggunya sarapan sampai dia pergi bekerja.
Apakah Belia belum bangun tidur? Benak Muntaz bertanya-tanya. Lantas ia menghampiri pintu kamar yang ditempati Belia, dan mengetuknya. "Tok, tok, tok ....!" Pintu diketuk tiga kali, namun belum ada sahutan dari dalam.
__ADS_1
"Bel, Belaaa, apakah kau belum bangun? Bela, kau belum sholat subuh, bangunlah!" teriak Muntaz sembari terus mengetuk pintu. Belum ada jawaban, Muntaz jadi khawatir.
Sementara Belia yang ada di dalam, masih tertidur nyenyak. Dia sama sekali tidak terganggu dengan ketikan pintu Muntaz. Tidurnya semalam sangat larut. Setelah puas menangis semalam, akhirnya Belia lelah dan tertidur juga. Jam 6 pagi, Belia baru tersadar dari mimpinya. Dia menggeliat merenggangkan otot tubuhnya yang kaku.
Alangkah terkejutnya Belia, saat melihat jam dinding di kamar itu, waktu sudah menunjukkan pukul 6.00 tepat. Belia bangun tergesa dan membuka pintu kamar yang dikuncinya semalam.
"Ya ampun, belum sholat Subuh," gumannya resah seraya keluar kamar bermaksud membersihkan diri di kamar mandi dekat dapur.
Belia berdiri mematung, dia baru ingat semua perlengkapan mandinya ada di kamar mandi di kamar tempat mereka tidur. Belia berjalan mengendap, namun urung. Akhirnya Belia memutuskan mandi di kamar mandi dekat dapur, dengan alat mandi seadanya, yang penting dia harus gosok gigi. Beruntung sikat gigi dan odol cadangan miliknya ada di kamar mandi itu.
Gemericik air dari dalam kamar mandi menandakan Belia sedang mandi, Muntaz lega itu tandanya Belia sudah bangun. Muntaz berdiri menuju dapur dia bermaksud membuat teh panas untuk Belia dan pempek goreng pemberian Mamaknya. Muntaz tahu, pempek kesukaan Belia hanya digoreng sampai terasa kriuk lalu dicocol kuah cuka.
"Ini sebagai permintaan maaf aku semalam padamu Bel, dan lagi sebagai tanda bujukku untuk mengajakmu jalan-jalan sama Mamak, Bapak dan keluarga Bang Haraz. Kalau kau tidak ikut maka celakalah aku, bakal dibogem nih muka oleh Bang Haraz." Muntaz berkata kecil sembari menuangkan teh celup ke dalam gelas bertelinga kesukaan Belia.
Belia keluar dari kamar mandi berhandukkan baju yang semalam dia pakai tidur. Dia berjalan mengendap menuju kamar berdua. Hati Belia berharap Muntaz sudah pergi dari kamar. Dan setelah pintu kamar itu terbuka, ternyata Muntaz tidak ada di dalam. Segera Belia mencari handuk yang akan dia gunakan untuk mengeringkan badan dan kepalanya yang masih basah. Sementara Muntaz tersenyum kecil melihat kelakuan Belia barusan di balik pintu ruang tengah.
__ADS_1
Sebelum Belia mencari handuknya, mata Belia memicing ke atas ranjang. Di sana ada handuknya yang masih bersih kumplit dengan baju setelan yang sudah disediakan. "Siapa yang menyiapkan, Bang Muntazkah?" Kening Belia mengkerut heran.
kagek \= nanti