
Muntaz menatap Belia heran, dari mana Belia malam-malam begini dengan dandanan yang sedikit berbeda dari biasanya. Sebetulnya tidak ada yang mencolok dari dandanan Belia, tadi saat di rumah Mery, dia diajarkan bermake-up dan memakai lipstik cerah. Ini merupakan bagian dari rencana Belia atas saran Mery.
Saat Mery mengajarkan dan mentouch-up muka Belia dengan sedikit *skincare*, Belia sebenarnya ogah-ogahan, karena dia tidak biasa.
"Ini tipis saja Bel, kulit kau masih bagus dan tidak perlu memakai make up tebal macam artis. Lagipula kulit kau masih terbilang kulit remaja. Tapi jika tidak dirawat, kerutan dini akan cepat muncul."
"Tapi, Yuk, jadinya kan ribet."
"Jangan tapi-tapian, demi kebaikan kau dan hubungan rumah tangga bersama suami kau, mulailah dari hal kecil, contohnya bermake-up. Kau bilang si Muntaz mengagumi dandanan si Novi, nah kalau sudah tahu kau jangan mau kalah dari pelakor," omel Mery sambil memoleskan tipis-tipis skincare ke muka Belia.
"Setiap malam sebelum tidur dan pagi sebelum bermake-up, kulit kau ini harus rajin dicuci pakai susu pembersih dan toner. Besok pulang kerja aku antar ke konter kecantikan untuk membeli peralatan make up kau. Beli yang murah *bae*, yang khusus kulit remaja, lengkap kok. Merek pioner juga ramah kantong dan banyak pilihan buat kulit remaja," sambung Mery tidak bosan-bosan menyemangati Belia.
Sejenak Belia menatap Mery haru, lantas memeluk Mery sambil menangis. Dia benar-benar terharu dengan kebaikan Mery yang sudah dia anggap kakak sendiri. "Terimakasih ya Yuk, selalu support Belia. Ayuklah tempat mengadu Belia selain Allah. Belia tidak tahu harus dengan apa Belia membalas budi baik Yuk Mery," tutur Belia diiringi isak tangis.
"Sudah, tidak usah menangis. Kau tidak harus membalas budi aku yang tidak seberapa. Kau adik bagiku, jadi aku lakukan ini anggap saja dari seorang kakak yang sayang sama adiknya," ujar Mery sambil melepas rangkulan Belia.
"Sekarang siap-siaplah balik rumah. Aku takut suami kau sudah kembali," suruh Mery seraya berdiri mengantar Belia di muka pintu untuk pulang.
Sadar dari lamunannya saat membayangkan tadi di rumah Mery yang dipaksa berdandan, Belia melihat Muntaz melongo melihat dirinya. Belia menduga bahwa Muntaz terpesona melihat perubahan dirinya. "Dari mana kau, malam-malam begini?" tanya Muntaz tiba-tiba tanpa lemah lembut.
"Baru balek main Bang, memangnya kenapa? Kan, cuma keluyuran sebentar." Belia menjawab dengan muka datar.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan dengan dandanan kau ini, apakah tadi kau di luar sana bertemu seseorang untuk kau rayu?" Belia mengerutkan keningnya dengan pertanyaan nyeleneh suaminya. Dugaan Belia salah, Muntaz bukan senang dan menyambut baik perubahan dandanannya, melainkan malah menudingnya tidak benar.
"Apa maksud Abang, jangan tuding Belia yang tidak-tidak ya! Lagipula apa hak Abang mengatakan hal itu pada Belia, bukankah selama ini Abang tidak pernah peduli dengan Belia dan apa yang dilakukan Belia?" sungut Belia mendadak emosi. Niat hati ingin meraih simpatik Muntaz, akan tetapi malah tudingan negatif yang dia terima.
"Aku hanya heran melihat kau berdandan seperti itu, biasanya kau cuma berbedak bayi dan berlipstik warna hambar. Apa yang membuat kau berubah?" tanyanya tanpa terlihat sedikitpun rasa tertarik.
Mendapat respon datar seperti itu, membuat Belia kecewa. Tidak dia sangka respon suaminya hanya datar saja, malah kesannya menghina. Tidak terima dengan semua ucapan Muntaz yang dia anggap hinaan, Belia menangis seketika dan bercucuran air mata. Sudah berjuang keras dan berusaha ingin mendapatkan perhatian Muntaz, akan tetapi perkiraannya salah. Muntaz tidak merespon dengan baik.
Belia berlari menuju kamar, membuka pintu dengan kasar, lalu membantingnya dengan keras. Tujuannya kini meja rias yang tersimpan beberapa biji alat make upnya, yang biasa dia pakai. Dengan kasar Belia menghamburkan semua skincare murahnya sehingga berhamburan kemana-mana. Rasa sakit hati karena respon datar dan hinaan Muntaz kini menusuk ulu hati seperti sembilu yang menghunus.
"Abang setidaknya tidak perlu ngomong apa-apa terhadap Belia, bukankah Abang tidak pernah sedikitpun mengharapkan Belia, tapi omongan dan tudingan miring Abang tadi sangat menyakiti hati Belia. Belia sudah berusaha berubah dengan sedikit berdandan di hadapan Abang, sebab perempuan yang Abang suka adalah perempuan yang menor dan berbibir merah. Tapi apa reaksi Abang? Abang malah seakan sengaja ingin merendahkan Belia dengan tudingan miring Abang." Belia berbicara keras diiringi dengan cucuran air mata.
Sakit rasanya dituding miring oleh suaminya, sedangkan niatnya hanya ingin mencuri perhatian suami.
Mendengar itu, Muntaz terhenyak dengan pengakuan Belia, bahwa dia melakukan itu hanya karena ingin mendapat perhatiannya. Yang lebih terhenyaknya lagi, Belia rupanya telah mendengar semua perdebatannya dengan Mak Susi tempo hari.
Muntaz mendekati Belia yang kini menangis pilu. Isak tangis itu kini terdengar begitu menyayat. Muntaz sadar dia telah menyakiti hati Belia.
__ADS_1
"Pergiiiii!" usir Belia menepis sentuhan Muntaz yang kini nampak menyesal. Muntaz tersentak, perempuan yang sudah dia nikahi setengah tahun itu begitu marah dan kecewa.
"Kalau bukan karena paksaan Mamak dan kasih sayangnya, Belia tidak sudi untuk hidup menjadi suami istri sama Abang. Belia baru sadar, Abang rupanya tidak pantas Belia cintai. Belia menyesal mencintai Abang," tandas Belia lantang walaupun diiringi isak tangis. Muntaz terhenyak dengan pengakuan Belia, rupanya Belia mencintainya.
Muntaz telah menyadari bahwa Belia mulai mencintainya sejak pernikahannya berjalan sebulan. Namun Muntaz tidak mau meresponnya. Dia masih memikirkan trauma dan rasa cintanya pada Novi.
Guna mendinginkan kemarahan Belia, Muntaz pergi keluar rumah dan duduk nongkrong di pos ronda bersama tetangganya.
Malam menjelang, jam di tangan Muntaz menunjukkan pukul 10 malam, dia rasa sudah cukup membiarkan Belia tenang, kini saatnya dia pulang ke rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Ketika pulang, rupanya pintu belum terkunci. Muntaz perlahan membukanya dan memasukkan motor yang sejak tadi masih di luar. Muntaz mengendap masuk kamar, dilihatnya Belia duduk berselonjor bersandarkan dipan. Rupanya Belia tertidur dengan sisa isak tangis yang masih terdengar.
Mata bengkak dan suhu tubuh yang panas membuat Muntaz kaget, diangkatnya Belia dari bawah dipan, kemudian ditidurkannya Belia di ranjang. "Abang minta maaf, Bel. Sudah menyakitimu," ucapnya pelan dan lirih. Ditatapnya tubuh yang terbujur kaku itu. Mata yang sembab dan kesedihan yang mendalam yang terpancar dalam tidurnya, membuat Muntaz terenyuh. Dia menyesali perlakuan buruknya pada Belia.
"Maafkan Abang, Bel. Abang terlalu bodoh membiarkan kau mencintai Abang sebelah tangan," lirihnya seraya mengecup kening Belia penuh rasa sesal.
Bersambung
__ADS_1