
Mereka kini menuju perahu nelayan, yang penumpangnya hanya dibatasi 8 orang. Setelah genap delapan orang penumpang, ditambah seorang penumpang lain, perahu segera berjalan mengarungi arus air sungai Musi. Jarak Pulau Kemaro dari Jembatan Ampera sekitar 6 kilometer, dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit.
Di atas Sungai Musi terbentang Jembatan Ampera sebagai ikon kota Palembang, yang menghubungkan beberapa sebrang 7 Ulu dan 16 Ilir. Selain lekat dengan ikon Jembatan Ampera, tepi Sungai Musi terhampar juga pemandangan rumah-rumah panggung, berjejer terbentang dari Ulu ke Ilir.
Belia yang bersebelahan dengan Muntaz hanya asik sendiri dengan apa yang dia lihat sepanjang Sungai Musi. Sebab sepanjang hidupnya di kota pempek ini, baru kali ini bisa merasakan naik perahu di atas Sungai Musi.
Sementara Muntaz, yang tepat berada di samping Belia tanpa Belia sadari, sejak tadi memperhatikan pergerakan istrinya. Dalam hatinya rasa ingin memeluk dan menggenggam tangan Belia sedekat permainan menghitung jari yang dimainkan Rasya tadi di mobil terulang kembali. Muntaz merasa getaran cinta di dadanya mulai tumbuh.
Celotehan Rasya, tumben tidak terdengar. Mungkin hembusan angin yang kuat membuat bocah 6 tahun itu duduk diam menikmati pemandangan Sungai Musi dengan berselimutkan tangan Bundanya Salfina.
Perahu kadang oleng kanan dan kiri menghindari tumburan antara perahu lain yang kebetulan melakukan perjalanan yang sama, ataupun dari arah sebaliknya.
Saat perahu oleng ke kanan otomatis tubuh Belia yang berada di posisi kiri, ikut oleng ke kanan, hampir menimpa Muntaz. Dengan sigap Muntaz menerima tubuh Belia dengan memegangi tangannya. Untuk beberapa menit tangan mereka saling berpegangan, sehingga terdengar detak jantung Belia yang berpacu dengan cepat. Akhirnya kesampaian juga keinginan Muntaz untuk memegang tangan Belia.
Muntaz merasakan ketegangan yang dirasakan Belia. Namun Belia berusaha menyembunyikannya. Dan Belia tidak berani menatap Muntaz lama-lama. Saat hendak melepas remasan tangan Muntaz, akan tetapi remasan tangan Muntaz begitu erat meremasnya. Akhirnya Belia hanya membiarkan remasan tangan itu dan pura-pura tidak peduli, padahal jantungnya kian berdetak cepat.
Tiga puluh menit kemudian, perahu nelayan yang mereka tumpangi sampai di tepi sungai Musi.
__ADS_1
Sebuah bangunan megah mirip Pagoda berdiri kokoh di sana, konon bangunan ini terkenal beserta legendanya. Yaitu legenda cinta saudagar Tiongkok yang jatuh cinta pada putri asli Palembang, yaitu Tan Bun An dan Siti Fatimah. Kisah cinta melegenda itulah yang membuat pulau kecil di tengah-tengah sungai Musi itu terkenal. Konon kenapa pulau itu disebut Kemaro, sebab meskipun gelombang air sungai sedang tinggi, pulau itu tidak pernah terendam air.
Karena kebetulan kedatangan Muntaz dan keluarga bertepatan dengan imlek, kelenteng yang berdiri megah itu banyak dikunjungi para turis Tiongkok yang datang untuk beribadah.
Selain datang untuk beribadah, turis lokal yang datang ke pulau ini, menjadikan tempat ini arena foto-foto keluarga untuk mengabadikan momen yang jarang mereka lalui setiap hari.
Selain berkeliling berfoto-foto, mereka sampai pada sebuah pohon yang dikelilingi pasangan muda, yang konon jika mereka menuliskan namanya di sana maka hubungan mereka akan langgeng. Salfina tergerak hatinya untuk membawa Belia dan Muntaz menuliskan nama mereka di pohon cinta tersebut.
"Ayo, Bel, tulis nama kalian di pohon ini! Ayuk juga mau nulis sama Bang Haraz."
Atas desakan Salfina, akhirnya Belia dan Muntaz menuliskan nama mereka di pohon itu.
"Mamak sama Bapak juga boleh Mak tulis nama di sana, biar kalian semakin erat cintanya sampai maut memisahkan," celetuk Salfina yang disambut kekehan dari kedua orang tua itu.
Tidak terasa rasa lelah setelah berkeliling di pulau ini mendera mereka, Haraz mengajak rombongannya untuk mencari warung makan dekat situ. Mereka memasuki warung makan yang menyediakan kudapan khas pempek.
Setelah merasa kenyang menikmati makanan khas Palembang di warung itu, sebelum rombongan Haraz melanjutkan kembali perjalanan dan menyudahi wisatanya, Belia dan Salfina juga Rasya kebelet ingin ke toilet. Walaupun toilet ada beberapa, namun suasananya antri karena banyaknya pengunjung. Salfina dan Rasya lebih dulu memasuki toilet, sedangkan Belia masih menunggu yang lain dan mencari toilet lain yang kira-kira antriannya lebih sedikit.
Akhirnya tuntas sudah Belia buang hasrat terpendam di balik kantung kemihnya, dia merasa lega. Buru-buru dia keluar dari toilet itu dan bermaksud kembali ke warung makan di mana keluarga Muntaz menunggu. Namun baru saja beberapa langkah, nama Belia ada yang memanggil.
"Belia!" panggilnya yang berhasil membuat langkah Belia terhenti dan menengok ke arah belakang. Sontak Belia kaget sebab yang memanggilnya adalah Najid, seorang Bos Showroom di samping ruko tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Bang Najid!" serunya sambari melihat kiri dan kanan, mungkin Belia mencari tahu dengan siapa Najid berada di tempat yang sama.
"Aku bersama keluarga, mereka menunggu di kedai sana," ucapnya seakan tahu maksud Belia sambil menunjuk ke arah kedai.
"Ayo, kita samaan saja ke sananya. Kamu bareng kelurga kamu juga, kan?" tanya lelaki tampan itu penuh senyum, yang hanya diangguki Belia. Merekapun berjalan bersamaan menuju warung di mana keluarga masing-masing menunggu.
"Belaaa!" teriak seseorang yang ternyata Muntaz yang datang dari arah berlawanan. Tatapannya tajam menuju Belia dan Najid. Belia terkejut lalu menghentikan langkahnya.
Tanpa basa-basi Muntaz meraih tangan Belia dan menariknya sambil ngomel. "Rupanya, kau bersama lelaki lain, asik ngobrol berdua, sementara kami menunggu lama di kedai makan. Memalukan!" omelnya membuat Belia tidak enak hati.
"Belia tidak ngobrol dengan lelaki itu, Bang. Belia baru keluar toilet, lagipula toiletnya ngantri harus menunggu lama. Saat Belia keluar toilet, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Belia, dan kebetulan Bang Najid juga sedang berwisata ke tempat ini bersama keluarganya. Jadi, tadi kami bermaksud jalan sama-sama menuju tempat keluarga masing-masing menunggu," elak Belia sejujurnya.
"Alah, bohong kau! Kau itu janjian dan sengaja datang ke sini untuk bertemu lelaki itu. Kurang ajar, berani kau bermain di belakang keluargaku," tuding Muntaz kecewa.
"Demi Tuhan, Bang. Belia tidak sengaja bertemu Bang Najid," elaknya lagi.
"Najid lagi Najid lagi, kau sampai sebegitu mesranya menyebut nama lelaki itu. Ayo, jelaskan nanti di rumah," tariknya dengan sikap yang kasar dan marah. Belia hanya bisa mengikuti suaminya dengan perasaan sedih.
Akhirnya perjalanan Haraz dan rombongan dari Pulau Kemaro berakhir, mereka pulang dengan selamat. Haraz mengantar Muntaz dan Belia duluan ke rumahnya, kemudian pamit menuju rumah Mak Susi dan Pak Deny.
"Kami pamit yo, baik-baik di rumah," ujar Mak Susi dan semua. Muntaz dan Belia membalas dengan senyuman kepulangan mereka, tanpa memperlihatkan kemelut kemarahan atau kegelisahan diantara Muntaz ataupun Belia.
__ADS_1
bae \= saja
mudo \= muda