Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 43 Gagal


__ADS_3

"Bel, sebentar!" Muntaz menahan tangan Belia saat Belia akan berjingkat menjauh dari ranjang pasien. "Duduklah dulu di sini, temani aku." Muntaz menatap Belia penuh permohonan. Belia terpaksa duduk kembali dan menunggu apa yang mau Muntaz katakan.



"Aku mau ngomong, berikan aku kesempatan sekali ini saja," mohonnya sembari menatap lekat wajah Belia. Belia yang tahu dirinya ditatap, sengaja membuang muka dan menghindar.



"Bel, tolong tatap aku!" pinta Muntaz memaksa. Belia tidak mengikuti permintaan Muntaz, dia tidak berani menatap mata itu. Muntaz meremas erat jemari Belia sehingga Belia sedikit meringis kesakitan dan mendongakan wajahnya ke arah Muntaz. Otomatis saat itu juga wajah keduanya saling bertatapan. Belia buru-buru menoleh ke samping, namun secara tidak disadarinya Muntaz mencuri ciuman di pipi Belia. Secepat kilat Belia menoleh ke arah Muntaz dengan tatapan kesal.



"Kau masih bini aku Bel, bahkan kalau aku mencium bibir atau apapun di tubuhmu, itu masih halal bagiku. Apakah kau mau menampiknya?" Belia tidak menjawab, Belia kemudian bangkit dan melepaskan cengkraman tangan Muntaz secara paksa.


"Kenapa baru sekarang Abang bicara seperti itu, kemarin-kemarin kemana?"


****


Satu hari kemudian, Muntaz sudah dibolehkan pulang. Luka di wajah maupun di tangan Muntaz sudah mulai sembuh hanya menyisakan bekas lebamnya saja. Muntaz sengaja di jemput Haraz sang Abang, yang sengaja datang dari Indralaya ke Palembang.



Muntaz sebetulnya ketar ketir saat dijemput Abangnya. Sebetulnya bukan sengaja dijemput, Haraz sengaja menengok, namun Muntaz ternyata masih ada di RS. Muntaz sudah yakin Abangnya selain menjenguk pasti juga memberi ceramah yang sedikitnya bakal membuat mentalnya kena.



Betul saja setelah sampai di rumah, Haraz tidak segan memarahi Muntaz di depan Belia bahkan kedua orang tuanya. Untung saja tidak dibogem, melihat bekas luka di muka Muntaz membuat Haraz tidak tega membogem.



"Kau itu sudahi hubungan kau dengan si Novi, dia masih bini uwong dan kau pula punya bini, apa kau tidak berpikir kesitu?" kesal Haraz dengan giginya hampir gemeretak.


"Coba kau pikirkan jika kejadian ini nimpa dulur perempuan kita, apa kau masih sanggup lakukan hal itu, Taz?" cecar Haraz lagi geram. Mak Susi dan Pak Deny yang juga datang ke rumah Muntaz hanya bisa diam. Mereka cukup memantau supaya Haraz tidak melakukan kekerasan.


Haraz berhenti ngomel setelah kedatangan kedua orang tua Belia. Semua yang berada di rumah Muntaz menyambut kedatangan Bu Enok dan Pak Deden. Muntaz segera menghampiri mertuanya itu dan menyalaminya.



"Alhamdulillah, Nak Muntaz sudah baikan. Maafkan ibu dan bapak tidak bisa jenguk ke RS, berhubung dekat rumah ada tetangga yang mau hajatan. Ibu sudah didapuk bantu-bantu di rumah orang hajatan itu," tutur Bu Enok merasa menyesal tidak bisa menjenguk langsung ke RS.

__ADS_1



"Idak apo-apo besan, yang penting anak mantu kita sudah sehat, itu yang terpenting. Kita bersyukur Muntaz tidak lamo dirawat di RS," timpal Mak Susi.



"Wah, Nak Haraz juga sudah berada di sini, kapan dari Indralaya?" Bu Enok bertanya pada Haraz.


"Tadi siang Bu, langsung ke RS jemput Muntaz, lalu ke sini," sahut Haraz.


Kemudian kedua besan yang kini dipertemukan di rumah Muntaz, bercengkrama berbincang satu sama lain saling menumpahkan kerinduan dan bertanya kabar. Keadaan ini disyukuri Muntaz, mertuanya tidak sampai menyinggung masalah Muntaz masuk RS itu karena apa?



Sementara Belia lebih mementingkan memasak di dapur daripada ikut nimbrung dengan obrolan para orang tua di ruang tengah. Belia menyiapkan semua hidangan untuk sore ini buat dua keluarga yang saat ini masih asik terlibat obrolan yang terdengar semakin seru.



Masak pun selesai, Belia menghampiri kedua orang tua mereka dan memberi tahu bahwa makanan telah siap. Semua, termasuk Muntaz menuju dapur dan menikmati hidangan di sore itu.




"Baik-baiklah kalian, tidak ada rumah tangga yang selalu mulus, ada saja masalah, entah masalah apa, pasti tiap rumah tangga punya masalahnya masing-masing. Tinggal pandai-pandai kita saja menyikapinya." Setelah berbicara seperti itu Pak Deden dan Bu Enokpun menyusul menaiki mobil Haraz, sebab Haraz sebelum pulang, sekalian mengantar orang tuanya juga orang tua Belia ke rumah masing-masing.



Suasana rumah Muntaz kini sepi setelah kepulangan Haraz dan kedua orang tuanya juga mertuanya ke rumah masing-masing. Nampak Muntaz duduk termenung menghadap TV, namun tatapannya kosong.



Belia tidak mempedulikan Muntaz yang tengah asik lihat TV seperti apa yang dilihatnya, karena hari sudah gelap Belia menyibukkan diri dengan menutup gorden dan jendela.



Malampun tiba, setelah isya dan makan malam, Muntaz dan Belia menuju kamar. Muntaz memanggil dan mengingatkan Belia.


"Bel, tidurnya di kamar ini!" Belia berdiri dan menghentikan langkahnya saat kakinya sudah akan masuk kamar sebelah.

__ADS_1


"Di sini Bel, kita sekamar," ulang Muntaz seperti sebuah permohonan. Belia tidak protes walaupun hatinya ingin protes. Belia masuk digiring Muntaz yang kakinya sedikit pincang, karena terdapat luka di bawah tapak kaki Muntaz.



"Bel, terimakasih ya, kau telah membantu memandikan aku tadi. Aku senang dan karena kamu yang bantu mandikan, aku cepat pulih ternyata pijitan kamu sangat enak," puji Muntaz sembari menghampiri Belia yang sedang membersihkan muka di meja rias.



"Bel." Muntaz melilitkan tangannya di pinggang Belia dan menatap Belia di cermin. Belia terkejut dan merasa malu dengan apa yang dilakukan Muntaz saat ini. Dan sesuatu yang tidak diduga Belia saat itu secepat kilat terjadi. Ciuman hangat dan penuh gairah Muntaz labuhkan di bibir Belia. Belia cukup soak, dia hanya berdiri terpaku dengan pelukan Muntaz yang erat.



"Abang," elaknya karena dia merasa kehabisan nafas. Hatinya seketika berdesir, rasa cinta yang besar itu kini timbul lagi, dan sesungguhnya Belia memang mencintai Muntaz. Namun entah kenapa air mata malah keluar dari sudut mata Belia.



"Abang minta maaf, sudah menyiakan ketulusan kamu," ujarnya seraya mengusap air mata yang tumpah, lalu membawa tubuh Belia ke atas ranjang. Sebelum Muntaz menyusul, Muntaz mematikan lampu terang diganti lampu temaram.



Muntaz menaiki ranjang lalu berbaring di samping Belia lalu berbisik. "Bel," ucapnya sembari menautkan jemarinya di sela jemari Belia. Hati Muntaz berdesir dan berkata. "*Mak, doakan* *Muntaz, malam ini sehabis balik dari RS, Taz akan* *pergauli Bela dengan benar sesuai permintaan* *Mamak, doakan supaya berhasil ya, Mak*."



Sejenak Muntaz membisikkan sesuatu di telinga Belia, entah apa yang jelas Belia sadar dirinya adalah milik Muntaz sepenuhnya meskipun rasa marah itu masih ada.



Namun Belia dengan cepat menahan tubuh Muntaz sehingga membuat Muntaz heran. "Kenapa, Bel?"


"Belia mau minta maaf!"


"Kenapa?"


"Belia, tidak bisa melayani Abang, sebab Belia sedang datang bulan," ujar Belia dengan suara yang pelan. Sontak Muntaz bangkit dan menjauh dari Belia.


"Apa? Yang benar, Bel? Kau masih halangan?" Belia mengangguk. Muntaz kecewa, mukanya berubah kusut. Muntaz memukul bantal tanda kecewa. Tadinya ingin segera memberikan cucu buat Mamaknya,malah gagal. "*Maafkan Belia, Bang. Belia memang* *masih datang bulan*."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2