
Muntaz menghambur ke ke arah Mak Susi yang saat itu ambruk. Untung Mak Susi saat ambruk dalam posisi duduk di atas ambal yang digelar di ubin. Sehingga saat Mak Susi ambruk tidak terjadi hantaman, sebab tubuh Belia spontan menahannya. Muntaz sampai lupa mengucap salam setelah tadi menguping pembicaraan Belia pada Mak Susi.
"Mak, Mak, bangun Mak, Mamak kenapa?" Belia panik seraya menepuk-nepuk tangan Mak Susi.
"Ini gara-gara kau. Kau yang buat Mamak pingsan, " tuduh Muntaz geram seketika.
"Diam kau, Taz! Jangan datang-datang menyalahkan uwong. Sekarang kita bawa Mamak kau ke kamar," sungut Pak Deny kesal dengan Muntaz, yang baru saja tiba malah menyalahkan Belia menantunya. Muntaz tidak menyahut, dia memang paling tidak berani melawan pada Bapak dan Haraz, Abangnya sekalipun. Kalau melawan bisa habis tubuh Muntaz kena bogem.
Muntaz dan Pak Deny berhasil membawa tubuh Mak Susi ke kamar kemudian di baringkan perlahan. Setelah mengungkapkan perasaannya tadi, Belia langsung merasa bersalah, Belia segera ke dapur membuat teh manis buat Mak Susi.
Belia nampak panik dan berjalan perlahan menuju kamar Mak Susi seraya menenteng gelas yang berisi teh manis. Belia menyodorkan gelas itu pada Pak Deny, mertuanya.
"Kau tenanglah Nak, jangan panik seperti itu. Mamak kau hanya panik dan kaget saja, dia kalau belum diisi makanan terus mendengar hal yang tidak mengenakan, maka reaksinya akan seperti ini, panik dan kaget," ujar Pak Deny memberikan ketenangan pada Belia yang memang benar-benar panik.
Belia sedikit kaget, dia berharap reaksi Mak Susi bukan karena penyakit jantungan, yang apabila mendengar berita buruk atau mendengar kabar tidak mengenakan seperti yang dikatakan Pak Deny tadi, akan mengalami tegang dan lemah.
Sementara Belia beroda akan kesembuhan Mak Susi. Muntaz kebalikannya, dia panik disertai rasa kesal pada Belia. Dia yakin Belia sudah ngadu yang tidak-tidak pada Mak Susi, sehingga reaksinya seperti itu. Duganya.
Tidak berapa lama, Mak Susi sudah sadarkan diri dan mulai kuat, setelah diolesi minyak kayu putih di hidungnya. Tangannya meraba-raba ranjang yang dia tiduri. Pak Deny segera meraih tangan Mak Susi dan dipegangnya.
__ADS_1
"Mano Bela, Pak? Aku *idak* mau kehilangan Bela. Aku idak mau kehilangan Bela sebagai menantu, aku lebih baik kehilangan anak lanang yang *idak* berbakti daripada kehilangan Bela," ujar Mak Susi kesal, kata-katanya ini sudah Muntaz duga untuk dirinya. Dibalik suara Mak Susi yang masih lemah ada sebuah kekesalan yang besar dalam dirinya pada Muntaz anak lanangnya.
"Mak!" seru Muntaz seraya meraih tangan Mak Susi lalu diciumnya. Mak Susi ingin menepis, namun Muntaz menahannya.
"Mano Bela, Pak?" Mak Susi mencari Belia yang kini sedang duduk termenung di belakang Muntaz. Belia menghampiri lalu meraih tangan Mak Susi. Muntaz berdiri bermaksud memberi ruang untuk Belia, namun Mak Susi mencegahnya.
"Kau mau pergi mano, duduklah di situ di samping bini kau, dia tidak haram bersentuhan dengan kau. Kau hindari bini kau, tapi betino yang bukan mahram kau dekati." Mak Susi menyentak Muntaz, otomatis Muntaz kembali ke tempatnya
Dia dan Belia kini berdekatan tanpa jarak, itu semua keinginan Mak Susi.
"Apolah Mak, Taz bukan mau menghindari Bela. Taz, hanya memberi ruang, di sini sempit." Muntaz memberi alasan.
"Mak, tenangkan pikiranmu! Jangan terlampau emosi. Emak itu kecapaian, sejak pagi hanya membuat pesanan uwong tanpa ngisi perut, nah jadinya begini," tegur Pak Deny mengingatkan. Memang betul apa yang disampaikan Pak Deny. Dari sejak pagi Mak Susi sibuk membuat kue dan pempek pesanan orang sampai lupa makan.
"Taz, lebih baik ajak Bela makan dulu. Kasihan dia lapar, sejak sore dia tidak mau disuruh makan. Kau belum makan jugo, kan?" seru Pak Deny mengingatkan makan sebab dari sore tadi Belia memang belum makan. Ini kesempatan bagi Muntaz, sekalian menghindari kemarahan Mak Susi yang masih dikuasai emosi.
Muntaz kemudian menuruti apa kata Pak Deny, mengajak Belia ke dapur dan makan malam di rumah orang tua Muntaz. "Bapak sama Mamak sekalian saja makan malamnya bersama kami," ajak Belia.
"Kalian duluan. Kami nanti saja, Mamak masih pusing kepala, masih mau baring." Mak Susi menolak secara halus, selain masih pusing, Mak Susi sengaja memberi kesempatan untuk anak menantunya biar berduaan di meja makan, dengan harapan hadirnya cinta akan segera tumbuh di hati keduanya terutama di hati Muntaz.
__ADS_1
Belia dengan terpaksa mengikuti Muntaz dan menuangkan nasi dan lauk buat Muntaz, serta mengambilkan air bening buatnya. Muntaz makan sangat lahap malam ini, itu karena selain lapar dia memang selalu suka masakan buatan Mak Susi.
Muntaz dan Belia menyudahi makan malamnya. Belia dengan sigap membereskan piring kotor bekas makan mereka lalu dicucinya. Muntaz memperhatikan Belia dari sejak membereskan piring kotor sampai mencuci di wastafel. Tidak ada yang minus sebenarnya dari Belia, hanya karena dia belum bisa move on dari Novi mantan pacarnya, rasa suka pada Belia tertutup begitu saja.
"Bel, kau ngadu apa saja sama Mamak selama tiba di sini? Aku yakin kau pasti ngadu masalah foto itu, kan? Kau memang selalu senang jika aku kena marah Mamak," ujar Muntaz menyalahkan Belia.
"Kau jangan salah paham sama Bela, dia tidak ngadu apo-apo sama aku, dio datang ke sini hanya membicarakan keinginannya berpisah dengan kau. Perlu kau tahu, aku dapat aduan dari uwong bahwa kau sedang bersamo betino lain di warung makan. Bukan Bela yang ngadu. Kau ini, selalu melimpahkan kesalahan pada menantuku. Jika kau begitu terus, maka aku akan dukung keinginan Bela untuk mengakhiri hubungan pernikahan kalian, biar kau puas!" tandas Mak Susi yang tiba-tiba menghampiri Muntaz dan memotong ucapan Muntaz. Muntaz melongo seketika mendengar ucapan Mak Susi barusan.
"Apo sih Mak, Taz bukan begitu maksudnya," tepis Muntaz.
"Maksud yang mano? Kau tidak mau berpisah dari Bela, kan? Maka dengar nih aku bilang," ujar Mak Susi sembari menjewer telinga Muntaz lalu membisikkan sesuatu yang hanya dipahami Muntaz. Belia menatap penasaran apa yang Mak Susi bisik ke telinga Muntaz.
"Jika kau idak mau berpisah dari Bela, maka segera kau kasih aku cucu, kau pergauli dia baik-baik. Ikat Bela dengan anak, sebab Bela mencintai kau. Kau jangan egois mau menggauli tapi tidak mencintanya," bisik Mak Susi serius.
"Taz, sudah pergauli Bela dengan baik Mak."
"Kau itu belum pergauli Bela dengan baik, kalau masih pakai jarak aman itu artinya kau belum pergauli Bela dengan benar. Nanti kau jangan pakai jarak aman, biar bisa kasih aku cucu," bisik Mak Susi lagi. Muntaz lama-lama geli dibisikkan di telinganya.
"Mak, sudahlah tidak usah bisik-bisik lagi, Taz geli, telinga Muntaz gatal tahu," protes Muntaz sambil menggaruk telinganya. Mak Susi geleng kepala sembari menjewer telinga Muntaz.
"Kau ini, supaya telinga kau ini bisa dengar dengan baik dan tidak mencla mencle kayak Entog bertelur," gerutu Mak Susi lagi. Belia yang menyudahi cuci piringnya hanya bisa pura-pura mengambil air minum saat melihat Mak Susi dan Muntaz saling bisik sesuatu di telinganya.
__ADS_1