
Bisik-bisik di telinga Muntaz masih berlanjut, padahal Muntaz benar-benar sudah geli.
"Sudah, Mak, Taz geli. Lagipula Bela belum tentu mau hamil sekarang-sekarang ini. Jangan paksakan kehendak!"
"Ahhh, kau ini." Mak Susi kembali menjewer telinga Muntaz sampai Muntaz hampir terjungkal.
"Aduhhh, Mak. Mak ini apa-apaan. Bagaimana kalau Muntaz jatuh ke lantai, Mamak mau jadikan muka Muntaz jelek?"
"Biarlah, jelek sekalian. Biar idak katek betino yang menyukai kau lagi termasuk Bela," ujar Mak Susi kesal sembari meninggalkan meja makan.
"Mak, makanlah dulu." Belia yang melihat Mak Susi pergi bermaksud mengejar Mak Susi, namun Muntaz sudah mencekal tangannya.
"Bel, ayo kita pulang. Aku khawatir jendela rumah belum kau tutup saat tadi pergi," ajak Muntaz masih memegang tangan Belia. Belia diam tidak menyahut. Dia masih tidak mau berbicara dengan Muntaz atas kekesalannya.
Kemudian Muntaz menarik tangan Belia ke depan menemui Pak Deny dan Mak Susi. "Mak, Taz balik ya. Mamak sudah sehat, kan?" Muntaz menatap Mak Susi yang sejak di dapur tadi sudah terlihat berseri kembali.
Mak Susi dan Pak Deny kompak menoleh ke arah anak dan mantunya. "Kalian nginaplah malam ini, sehari saja." Mak Susi memohon.
"Iyo, kalian nginap bae di sini. Malam ini saja," timpal Pak Deny.
"Tapi, kami khawatir Mak, jendela rumah kami lupa Bela kunci tadi pagi. Iya, kan Bel?" Muntaz balik bertanya pada Belia. Belia masih diam dan tidak sedikitpun menyahut.
"Kau ini banyak alasan, Taz. Nginaplah malam ini."
"Aduh, Mak, katanya Mamak mau cepat dapat cucu dari kami. Malam ini Taz mau kabulkan permintaan Mamak, Taz janji akan pergauli Bela tanpa pakai jarak aman." Muntaz berbisik di telinga Mak Susi yang sontak disenyumi sumringah oleh Mak Susi.
"Apolah kalian itu bisik-bisik, macam menyimpan rahasia saja?" Pak Deny merasa heran dan menatap aneh pada Muntaz dan Mak Susi.
"Tidak, Pak. Taz hanya bilang sama Mamak supaya menjaga kesehatan, jangan terlalu diporsir," alasan Muntaz tersipu malu.
"Ya sudah jika kalian tidak mau nginap, tapi kalian harus janji akan segera memberi kami cucu," tegas Mak Susi dengan suara yang kuat. Sontak semua mata menatap pada Mak Susi.
__ADS_1
Belia menunduk seketika, dia menghela mengusap dada, tadinya dia datang ke sini untuk meminta pandangan dan mengutarakan niatnya yang ingin mengakhiri hubungan rumah tangga bersama Muntaz, namun keinginan Mak Susi yang meminta cucu seakan menodong dirinya terpaksa harus kembali mempertahankan rumah tangganya.
Terlebih keadaan Mak Susi saat Belia mengungkapkan keinginannya tadi, Mak Susi pingsan seketika seakan tidak ingin anak menantunya bercerai berai.
"Kenapa Mamak menahan keinginan Belia, Mak? Belia tahu Mamak sayang Belia, tapi Belia tersiksa dengan sikap Bang Muntaz. Sekuat apapun Belia mencintai Bang Muntaz, akan tetapi Bang Muntaz tidak pernah membalasnya, dan itu sakit Mak," jerit hati Belia menangis.
"Kami balik ya, Mak, Pak! Assalamualaikum!" Muntaz pamit dan menyalami tangan kedua orang tuanya. Mak Susi menatap sendu kepergian anak menantunya dengan harapan besar di dadanya. Sejenak dia menghela nafas yang tiba-tiba seakan ada hantaman besar menderanya.
"Maafkan aku Bela, telah memaksamu menerima kekecewaan ini. Dengan bersama Muntaz kau tersakiti oleh sikapnya. Tapi aku sebagai wong tuo hanya bisa berharap kalian bisa baik-baik saja. Ini kali terakhir permintaanku pada kalian, jika setelah ini kau meminta kembali perpisahan itu, maka aku tidak akan memaksa." Mak Susi berbicara di dalam hatinya dengan raut wajah yang sedih.
Sebetulnya Mak Susi bukan tidak tahu perasaan Belia menantunya, namun lubuk hatinya mengharapkan hubungan keduanya bisa lebih baik, Mak Susi menyayangkan jika rumah tangga anak bungsunya harus kandas begitu saja, padahal dia sangat mengharapkan menantu seperti Belia yang baik budi dan pekerti.
Muntaz menjalankan motornya dengan perlahan, melewati lorong perumahan itu. Sebelum tiba di rumahnya, Muntaz membelokkan motornya ke arah pasar. Belia yang berada di belakang merasa heran mau diajak ke mana dirinya.
Warung tenda yang dia hampiri adalah penjual makanan seblak khas Jawa Barat. Entah kenapa Muntaz membawa Belia ke warung tenda itu, padahal Belia jarang sekali jajan. Makan seblak pun sekali pengen dia seringnya bikin sendiri, terlebih pengolahan seblak sangat mudah, asal bahan-bahannya ada.
"Bel, kamu mau seblak atau baso tahu, atau bakso?" Muntaz mencoba menawarkan satu persatu makanan yang sekiranya Belia sukai. Karena Belia asli Sunda, Muntaz sengaja membawa Belia ke warung tenda khusus jajanan khas Jawa Barat. Dengan cepat Belia menggeleng. Bukan tidak suka dengan jajanan yang ditunjukkan Muntaz, akan tetapi perut Belia sudah kenyang saat makan di rumah Mak Susi tadi.
"Kenapa?" Muntaz mempertanyakan gelengan kepala Belia.
"Masih kenyang," sahut Belia jujur. Walaupun dibelikan pastinya tidak akan dia makan, sayang banget nanti terbuang dan mubazir.
"Ok, tunggu sebentar ya, aku beli seblak dan baso tahu dulu. Aku pengen," ucap Muntaz seraya memesan jajanan yang ingin dia pesan. Belia merasa heran tumben Muntaz bersikap lembut seperti itu tidak biasanya. Muter-muter naik motor di jalan dekat perumahannya saja, baru kali ini. Itulah kenapa Belia merasa heran dengan Muntaz.
Setelah selesai membeli jajanannya, Muntaz kembali menuju motornya tidak lupa mengajak Belia yang sejak tadi masih sabar menunggunya.
__ADS_1
"Ayo," ajaknya. Belia mengikuti Muntaz, lalu keduanya naik motor menuju rumah.
Cukup 10 menit motor Muntaz tiba di depan rumahnya yang rupanya lampunya masih belum menyala. Muntaz segera turun, diikuti Belia. Muntaz membuka pintu rumah lebar-lebar lalu memasukkan motornya ke dalam.
Belia segera menyalakan lampu tengah dan dapur. Lalu segera masuk ke kamarnya. Kali ini Belia akan tidur di kamar sebelah lagi.
"Bela, mandilah di kamar mandi dalam. Kita tidurnya bersama. Aku tidak mau kamu tidur di kamar sebelah," cegahnya. Lalu Muntaz segera mengunci pintu kamar sebelah dan menyimpan kuncinya di atas palang dada. Belia hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam tanda kecewa dengan Muntaz.
Muntaz langsung ke dapur setelah memasukkan motornya tadi. Seblak dan baso tahu sepertinya mengundang selera untuk dia segera menyantap. Setelah tadi dia menawari Belia yang menolak untuk mencicipi seblak dan baso tahu, Muntaz akhirnya makan sendiri, akan tetapi seblaknya dia sisakan buat Belia. Siapa tahu nanti Belia mau kalau lapar.
Belia kini sudah mandi, wangi sabun dan sampo menyeruak ke seluruh ruangan kamar itu.
Sebelum menaiki ranjang, Belia masih mematut di depan cermin membersihkan wajahnya dengan susu pembersih dan toner.
Saat itu Muntaz masuk, sejenak dia menatap Belia. Keinginan Mamaknya malam ini akan Muntaz kabulkan, dia akan pergauli Belia dengan benar seperti apa yang Mak Susi bilang. Muntaz segera masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Dia sepertinya sudah tidak sabar ingin melaksanakan sunnahnya.
Selesai mandi dan berpakaian tidur, Muntaz sudah tidak melihat Belia di meja rias lagi, rupanya Belia sudah terbaring. Muntaz segera mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu yang temaram. Lalu dengan segera dia menyusul Belia yang sudah berbaring.
Tanpa malu-malu Muntaz masuk ke dalam selimut yang sama dengan Belia lalu merangkul Belia dari belakang. Diciumnya rambut Belia yang masih wangi itu, lalu tanpa ragu lagi mencium pipi Belia sambil membisikkan sesuatu di telinga Belia.
"Bel, sesuai permintaan Mamak, malam ini aku ingin pergauli kau tanpa jarak aman. Mamak sudah ingin punya cucu," ujar Muntaz dengan suara yang serak dan sendu.
"Belia tidak bisa," tolak Belia pelan.
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena Belia sedang datang bulan," jawab Belia yang sontak membuat Muntaz kaget dan kecewa.
__ADS_1