Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 52 Ulah Novi


__ADS_3

"Ayo, aku mau puaskan kamu untuk jalan-jalan hari ini, untuk menebus kesalahan aku tempo hari yang membatalkan janji ngajak kamu jalan-jalan," ucap Muntaz masih meremat jemari Belia seperti tidak mau lepas. Belia terlihat malu-malu saat Muntaz meremat jemarinya.



"Ayo, Bel, kita foto selfie di depan Benteng Kuto Besak," ajak Muntaz seraya menarik tangan Belia. Belia tidak menolak, dia mengikuti ajakan Muntaz. Kali ini Muntaz benar-benar agresif memperlakukan Belia. Dia bersikap manis dan berusaha menunjukkan rasa cintanya untuk meyakinkan Belia.



Beberapa foto Selfie berhasil dijepret Muntaz dengan HPnya. "Bagaimana kalau kita minta tolong orang lain untuk fotokan kita, Bel?"


"Terserah Abang," sahut Belia manut. Muntaz berusaha mencari orang yang bisa dimintai tolong untuk memotretnya.


"Siapa ya, yang bisa diminta tolong," guman Muntaz sambil matanya bergulir ke sana kemari mencari orang yang bisa dia percaya untuk membantunya. Semua orang sepertinya sibuk dengan urusannya masing-masing, jadi Muntaz bingung untuk minta tolong, sedangkan dia ingin momen kebersamaannya bersama Belia didokumentasikan.



"Ya sudah deh nanti saja nyari orangnya, lebih baik aku belikan dulu Belia minuman. Kebetulan di bawah pohon itu ada tukang jualan ***dawet ayu*** ***Jateng***," guman Muntaz seraya menghampiri penjual es dawet ayu.



"Bel, tunggu, ya," teriak Muntaz pada Belia yang sepertinya kesal menunggu Muntaz.


"Mang, dawet ayunya duo, yo," pesan Muntaz.


"Ok, ditunggu ya, Kak." Penjual dawet ayu masih melayani pembeli lain yang masih ada dua orang lagi. Setelah itu baru giliran pesanan Muntaz. Dengan cekatan penjual es dawet ayu itu meracik dawet pesanan Muntaz.


"Berapo, Mang?"


"Dua puluh ribu." Muntaz memberikan uang pas pada penjual dawet ayu itu dan bermaksud melangkahkan kaki meninggalkan penjual es dawet, namun langkahnya berhenti lalu Muntaz memutar balikan badannya menuju penjual es dawet ayu.


"Mang, boleh tolong idak?" tanya Muntaz pada penjual es dawet sedikit ragu. Kebetulan penjual es dawet itu sedang tidak melayani pembeli, dan kesempatan ini Muntaz gunakan untuk minta bantuannya.

__ADS_1



"Minta tolong apa?" Penjual es dawet bertanya heran.


"Ini, Mang, tolong ambekkan (ambilkan) foto kami berdua, aku samo bini aku," tunjuk Muntaz pada Belia. Penjual es dawet ayu tidak menolak, terlebih dia kini sedang tidak sibuk karena pembeli belum datang lagi. Muntaz dengan gembira memberikan Hpnya pada penjual es dawet ayu.


Penjual es dawet mulai bersiap-siap membidik foto dengan Hp milik Muntaz. Dia sudah paham cara mengambil foto setelah tadi Muntaz memberi arahan sedikit bagaimana cara mengambil foto.



"Ayo, Bel kita pose banyak-banyak mungpung ada Mang es dawet yang bantuin kita," ujar Muntaz antusias. Dalam hatinya bahagia sebab dia bisa berpose berdua dengan Belia. Dan ini pertama kali dalam pernikahannya, melakukan hal kecil dengan berfoto bersama Belia. Namun rasa bahagia itu entah kenapa kini hadir dalam dirinya, ketika Muntaz melakukan hal kecil hanya berfoto saja.



Berbagai pose telah mereka lakukan, kemudian dijepret Mang penjual es dawet dengan lincah. Saat pandangan mata Muntaz menuju arah timur, tidak sengaja Muntaz melihat Novi bersama seorang pria. Tidak salah lagi itu Novi bersama suaminya yang kemarin berhasil membogemnya dengan tuduhan jadi selingkuhan Novi. Muntaz menjadi naik pitam jika ingat kembali saat dirinya dibogem oleh suami Novi. Padahal saat itu dia menemui Novi karena dijanjikan Novi bahwa Novi mau membayar hutangnya pada Muntaz. Alih-alih bayar hutang, Muntaz malah menjadi sasaran kemarahan suami Novi.



Demi memperlihatkan kemesraan bersama Belia di depan Novi, Muntaz kali ini berpose dengan lebih dekat dan mesra. Salah satunya Muntaz berhasil mencium pipi Belia. Rupanya siasat Muntaz tidak salah, Novi melihat ke arah Muntaz dan Belia yang saat ini berpelukan alias sengaja dipeluk Muntaz.




"Ok, Mang, sudah *bae* ambil fotonya. Aku rasa sudah banyak," ujar Muntaz menghampiri penjual es dawet ayu dan mengambil Hpnya.


"Mang, mokasih, yo," ujar Muntaz pada penjual es dawet yang telah membantunya mengambil foto.


"Bel, ayo kita cari tempat untuk menikmati es dawet ini!" ajak Muntaz seraya menarik lengan Belia menuju meja yang kebetulan masih kosong.


__ADS_1


"Bel, bagaimana,apakah es dawetnya enak?" tanya Muntaz membuka obrolan.


"Alhamdulillah, enak," jawab Belia.


"Kau mau nambah lagi, tidak, Bel?" tanya Muntaz lagi dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Belia.


Setelah menikmati es dawet, Muntaz mengajak Belia naik perahu nelayan untuk mengarungi sungai Musi, namun Belia menolak dengan alasan perutnya tiba-tiba tidak enak. Sepertinya Belia ingin ke kamar mandi.



"Abang, Belia kebelet, Beliau ke kamar mandi dulu, ya." Belia meminta ijin untuk ke kamar mandi sebab rasa yang menekan-nekan kantung kemihnya seakan tidak tertahan lagi. Muntaz mengangguk, dia juga sepertinya ingin buang air kecil.



"Ayo, Bel, aku juga ingin buang air kecil." Dan mereka berdua pun beranjak menuju kamar mandi tempat wisata itu.



Akhirnya Belia menyudahi buang air kecilnya, rasanya lega. Saat masih menunggu Muntaz dari kamar mandi, tiba-tiba Belia didatangi seseorang yang sengaja menubruknya.



"Aduhhhh," rintih Belia kesakitan sebab lengan orang itu mengenai bahunya.


"Cemen," ejeknya seraya menatap tajam ke arah Belia penuh kebencian. Tiba-tiba sebelum orang itu yang ternyata Novi, Muntaz muncul dengan muka yang berang.


"Woyyy, ngapo kau ganggu bini aku? Aku jingok dari dekat WC tuh, kau menumburnya?" serang Muntaz pada Novi yang tidak menyangka. jika Muntaz akan datang secepat itu.



"Aku idak apo-apoi, dia *nyampak* dewe," kilah Novi.

__ADS_1


"Kau tuh bohong, aku jingok dengan mataku dari ujung sana kau sengaja (menabraknya)," tuding Muntaz lagi membuat Novi sepertinya terdesak.


"Idak, aku idak menumburnya." Novi Novi masih mengelak.


__ADS_2