Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 47 Beruntung tidak Hambar


__ADS_3

Belia keluar dari kamar mandi, tubuhnya terasa dingin tapi hangat dan tidak karuan. "*Aduh kenapa* *ini*?" ujarnya dalam hati. Saat keluar kamar mandi Belia sudah menemukan Muntaz duduk di tepi ranjang, rindu yang dia rasakan sejak tadi kian membuncah dan bergelora. Rasa cinta yang berkobar pada Muntaz sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Belia sedih, dia ingin merasakan dimanja oleh Muntaz malam ini, tapi rasa takut datang bersamaan. Takut Muntaz tidak menyambut cintanya.



Belia duduk di kursi meja rias, membersihkan sisa make up tadi siang. Selama membersihkan wajah pikiran Belia hanya pada Muntaz, lelaki yang tujuh tahun lebih dewasa darinya itu kini memenuhi pikirannya. "*Bang Muntaz, Belia* *mencintai Abang. Peluk Belia Bang*!" harapnya dalam hati.



Sementara Muntaz pura-pura mengutak-ngatik Hpnya. Ujung matanya mengamati Belia yang nampak gelisah. Apakah ini reaksi yang dimaksud Mak Susi, reaksi obat atau lebih tepatnya jamu *pelayanan servis pada suami* yang dibubuhkan di air teko yang Belia minum tadi? Muntaz menyeringai puas. Kini dia akan menunggu reaksi jujur apa yang akan Belia perlihatkan atau dirasakannya. Tiba-tiba notifikasi WA milik Muntaz berbunyi membuyarkan fokusnya.



"Taz, kalau Bela sudah macam orang gelisah tapi malu-malu, kau bergerak duluan, peluk dia dari belakang. Kau kasih peluang Belia melampiaskan rasa rindu yang membara dalam dirinya. Tapi jika Belia hanya diam saja dan reaksinya datar, maka aku pastikan dia sudah hambar padamu, Taz." Muntaz langsung tersentak saat membaca pesan Mak Susi yang terakhir.



"*Waduhhh, jangan sampai Bela hambar rasanya* *padaku. Jangan sampai Bel, aku sekarang mulai* *mencintaimu dan tidak rela kau pergi dan dimiliki* *si Najid Bos showroom itu, atau lanang lain. Baiklah kalau begitu aku* *harus memancingnya*." Muntaz berbisik-bisik di dalam hatinya seraya berjingkat menuju Belia.



"Bel, kau sudah membersihkan wajahnya?" tanya Muntaz seraya memeluk Belia dari belakang, melilitkan tangan kekarnya di pinggang ke perut Belia yang masih ramping. "*Malam ini akan akan* *ku buat bunting Bel, perutmu tidak akan ramping* *lagi, akan kubuat buncit*," serunya dalam hati seraya spontan mencium pipi Belia. Belia bereaksi, dia tiba-tiba meremas jemari Muntaz, memberi kode nyata bahwa Belia benar-benar sudah dalam pengaruh jamu di dalam teko itu.



"Abang!" desahnya sendu. Sebuah kerinduan besar terpancar di sana. Muntaz tahu, lalu dia membawa Belia ke atas ranjang. Namun dengan cepat Belia sudah memeluk Muntaz. "Abang, Belia merindukan Abang, Belia mencintai Abang," bisiknya tertahan. Muntaz sudah yakin rasa rindu Belia sudah tidak tertahan.


__ADS_1


"Ayo, Bel. Aku juga merindukan kamu," balas Muntaz sambil menahan geli karena Belia kini sedang mencium lehernya. "Duduklah dulu, aku ganti lampu temaran, ya," ujar Muntaz seraya melepaskan rematan jemari Belia yang seakan tidak ingin lepas darinya.



"Trek," lampu terang mati lalu digantikan lampu temaran. Suasana menjadi sangat syahdu dan penuh aroma romantis padahal Muntaz tidak memasang lilin atau aroma terapi. Dilihatnya Belia sudah semakin gelisah.


"Aku datang Bel, kita nikmati malam yang indah ini dengan suka cita dan cinta. Ternyata kau memang begitu mencintai aku. Untunglah rasamu tidak hambar, Bel. Kalau hambar, bisa mati aku kehilanganmu." Muntaz berkata-kata dalam hati sembari membawa Belia berbaring, Belia pasrah serta merta tangannya merangkul leher Muntaz.


"Belia mencintai Abang, Belia sayang sama Abang," ungkapnya sembari meneteskan air mata. Muntaz terkejut, dia serta merta merasakan kesedihan Belia. Muntaz sadar, dirinya selama ini telah menyia-nyiakan perasaan Belia, dia terlalu terobsesi dengan cinta masa lalunya yang ternyata tidak pernah tulus. Muntaz membalas rangkulan Belia dan menghapus tetes air mata yang mengalir di pipinya.



"Bel, aku janji mulai detik ini aku akan berusaha mencintaimu, terlebih setelah kau merawatku dan meladeni aku di RS, kau begitu telaten. Walaupun kau masih marah, tetapi aku merasakan ketulusanmu," ungkap Muntaz seraya mencium kening Belia menumpahkan segala rasa cinta yang kini dia rasakan untuk Belia.




"*Mak, Muntaz malam ini jadi belah* *Semangkanya, Mak. Doakan semoga hasil dari* *belah semangkanya menjadi cucu Mamak yang* *Mamak impikan*."



"Abang!" ucapnya melenguh sembari meremas Muntaz, pertanda peperangan itu harus segera dimulai. Muntaz membalas dan menerima serangan Belia. Dan malam ini bukti kisah cinta mereka berdua terlukis indah di malam syahdu, disaksikan Cicak di dinding yang berkejaran mencari mangsa, sambil sesekali bersuara.


"Cak, cak!" Suara Cicak.


Subuh berkumandang, tidak biasanya Muntaz terbangun duluan. Biasanya dia hanya akan terbangun setelah bunyi alarm Hpnya bersuara di jam 5.30 menit. Tapi kini dia lebih dulu terjaga. Muntaz bangkit, sejenak dia melihat Belia yang terlihat sangat kelelahan. Muntaz tidak membangunkan, dia tahu semalam kelincahan Belia dalam menyervisnya pasti menguras tenaga.

__ADS_1



Muntaz bangkit dan membersihkan diri untuk melaksanakan kewajiban Subuhnya. Jam lima Belia masih lelap, sementara Muntaz berbaring kembali sambil membuka Hpnya dan melaporkan kejadian semalam pada Mak Susi.


"Mak, jos benar jamu yang Mamak bubuhkan di dalam teko minum itu. Bela benar-benar bereaksi dan mengungkapkan cinta dan rasa rindunya semalam, tapi Bela malah nangis Mak saat bilang rindunya itu." Pesan WA Muntaz terkirim pada Mak Susi. Dengan cepat balasan dari Mak Susi datang.


"Apa kataku, Bela akan bereaksi dengan jamu yang dia minum itu. Bela menangis itu karena selama ini dia begitu mencintai kau, akan tetapi kau tidak membalasnya. Maka mulai sekarang kau cinta Belia sungguh-sungguh, jangan kau sia-siakan. Untung saja rasa cinta Bela belum hambar, jika sudah ... nyesel kau, Taz!" Balasan WA Mak Susi.



Benar kata Mamaknya Muntaz beruntung, rasa Belia sama sekali belum pudar, beruntung Muntaz cepat disadarkan sehingga dia tidak kehilangan cinta Belia.



Alarm Hp Muntaz berbunyi, dengan terpaksa dia membangunkan Belia yang rupanya masih lelap. "Bel, Bela, bangun! Subuh hampir habis," ucapnya disertai guncangan lembut di bahu Belia. Belia perlahan bergerak menyadari tidurnya sudah ada yang mengusik. Beberapa menit Belia menggeliatkan tubuhnya melakukan peregangan di sekujur tubuhnya.



"Bel, subuh hampir mau habis. Bangunlah, dan segera bersihkan diri," ulang Muntaz membangunkan Belia yang sepertinya masih ingin berselimut.



Belia terkejut mendengar suara Muntaz membangunkannya, perlahan Belia bangun. Tiba-tiba kejadian semalam terngiang kembali membuat Belia merasa malu untuk menatap Muntaz.



"Abang, kenapa tidak Abang bangunkan Belia tadi!" Belia protes sembari bangkit menuruni ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Kamu semalam sangat lincah Bel, dan tadi nampak masih lelap dan kelelahan, jadi Abang tidak bangunkan dulu," alasan Muntaz. Belia tersipu malu, lantas berlari menuju kamar mandi. Muntaz tersenyum puas.


__ADS_2