
"Bang Najid sudah lama naksir kau, Bel. Aku tidak pernah diliriknyo samo sekali. Meskipun, aku sudah secantik ini, tapi dio tidak pula melirik aku," ujar Sela nampak sedih.
"Sosor bae, Sel. Aku dukung kamu dari belakang."
"Dio naksir berat sama kau, jadi tidak mungkin dio naksir aku," kelit Sela.
"Tapi aku sudah menikah Sel, aku tidak mungkin tebar-tebar pesona di depan laki-laki manapun," elak Belia.
"Kau tidak tebar pesona pun laki-laki masih naksir sama kau," yakin Sela mengompori.
"Ah sudahlah, Sel. Aku tidak mau bahas diluar pekerjaan. Sebaiknya kita siap-siap untuk balek." Belia mengemasi barang-barangnya guna mengelak godaan Sela lebih lanjut.
"Tumben, kau hari ini cantik nian. Rambut kau sisir dan diikat tinggi, bedak padat dan lipstik marun nempel di pipi dan bibir kau, sempurna kau hari ini Bel. Padahal hari-hari kau sudah cantik. Sempurna," ujar Sela memuji. Belia tersipu malu mendengar Sela memujinya.
"Ya sudah, aku duluan yo, Sel!" pamit Belia sembari melanjutkan langkahnya.
Beberapa langkah melanjutkan perjalanan, tiba-tiba nama Belia ada yang memanggil.
"Beliaaa!" teriak seseorang memanggil nama Belia. Belia menoleh segan, dan rupanya yang memanggil namanya adalah Najid, Bos showroom yang Sela ceritakan tadi. Belia mengalihkan pandangannya ke arah jalan, sebetulnya dia ingin segera beranjak, namun Najid sudah berjalan menghampirinya.
"Balik, Bel? Aku antar yo?" tawarnya sembari tersenyum. Pria dewasa sekitar 30 tahunan itu menawarkan jasanya mengantar Belia.
"Tidak usah, Bang. Belia sudah dekat kok. Maaf, Belia duluan yo," tolaknya canggung.
"Ohhh, ya sudah tidak apo-apo. Hati-hati yo, Bel!" ujarnya diliputi wajah yang kecewa.
Belia kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Tiba di rumah, dia segera membersihkan diri dan segera menunaikan ibadah sholat ashar yang belum sempat dia laksanakan di toko.
"Assalamu'alaikum!" Tiba-tiba terdengar seseorang yang mengucap salam. Belia heran dan langsung menghampiri ke depan.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam," balasnya. "Ayuk ....!" jeritnya gembira. Ternyata yang datang adalah istri dari kakak iparnya yaitu Salfina. "Wahhh, Ayuk, dengan siapa Ayuk kemari?"
"Aku sendiri, Bel. Kak Haraz sama Rasya tadi ke pasar dulu. Katanya sih mau beli mainan buat Rasya," ucap Salfina seraya masuk ke dalam.
"Ayuk langsung kemari atau dari rumah Mamak dulu?"
"Aku, langsung kemari. Sebab tadi pas aku mau balik menuju rumah Mamak, aku sempat melihat kau berdua bersama laki-laki di pinggir jalan itu," ungkap Salfina membuat Belia sedikit terkejut. Dia bingung siapa yang dimaksud Salfina.
"Siapa, Yuk? Di mana?" tanya Belia benar-benar bingung.
"Tadi di depan showroon mobil." Belia manatap ke arah Salfina seakan diingatkan akan kejadian tadi di depan showroom mobil milik Najid.
"Itu hanya tetangga ruko, Yuk. Namanya Kak Najid," ucap Nara.
"Kirain siapa, tapi kok rasanya seperti naksir sama kamu dari cara dia menatap kamu," ucap Salfina lagi menyelidik.
"Tidaklah Yuk, biasa saja. Mungkin itu menurut Ayuk saja," elak Belia, sepertinya dia tidak mau membahas Bos showroom itu.
"Tapi, bisa saja kamu tertarik dengan lanang itu, setelah apa yang dilakukan Muntaz." Salfina mencoba mempengaruhi pikiran Belia.
"Kamu mencintainya?" Pertanyaan bodoh disaat Belia sedih mampu keluar dari bibir Salfina. Salfina mendekat lalu mengusap lembut bahu perempuan muda di hadapannya itu.
"Kalau kamu mencintainya, maka perjuangkanlah, kalian masih baru dan belum terlambat untuk meraih cintanya," ujar Salfina simpatik.
"Cinta itu akan hadir jika kalian punya pengikat, yaitu anak. Apakah selama ini Muntaz sudah minta haknya padamu?" Belia tidak menjawab. Salfina menghela nafasnya dalam. Dia berpikir jangan-jangan antara Belia dan Muntaz belum saling bergaul.
"Jika kamu belum dipergauli Muntaz, aku tidak yakin cinta itu akan hadir dalam dirinya. Tapi jika kalian sudah bergaul dan akhirnya membuahkan hasil, maka perlahan cinta itu akan hadir dalam diri Muntaz, bahkan aku berpikir justru dia akan sangat mencintaimu saat dia menyadari betapa kamu berarti bagi hidupnya." Salfina menatap lekat wajah Belia yang kini berhujan air mata, perlahan Salfina merangkul tubuh Belia, dia mencoba menyalurkan energi positif ke dalam diri Belia.
__ADS_1
"*Bagaimana bisa menghasilkan, Yuk? Bahkan* *selama dipergauli kami pakai jarak aman*." Belia berkata sedih di dalam hatinya.
"Sudah Bela, jangan sedih lagi. Aku kemari tidak ingin melihat wajah cantikmu menjadi sedih. Aku dan suamiku Bang Haraz sengaja dari Indralaya ke rumah Mamak karena ingin mengajak kalian jalan-jalan besok. Ya ... hitung-hitung mendekatkan hubungan kamu dan Muntaz," ujar Salfina mengutarakan maksud yang sebenarnya.
Kebetulan besok Bang Haraz libur imlek tiga hari, terlebih Rasya merengek terus sama ayahnya ingin ke rumah Neneknya dan ingin jalan-jalan ke Pulau Kemaro," ujar Salfina.
"Jadi rencananya kami akan mengajak kalian, kapan lagi kita ada kesempatan bersama lagi. Mungpung suamiku sedang banyak waktu," lanjutnya lagi.
"Tapi, Yuk. Apakah Bang Muntaz akan mau?"
"Dia harus mau, kapan lagi ada waktu sama keluarga terutama Mamaknya, lagipula dia besok tidak ada lembur. Jadi alasan apalagi untuk menghindari ajakan kami? Kalau dia menolak, maka Bang Haraz tidak segan membogem mentah mukanya," ujar Salfina geram.
"Kalau begitu aku pamit ya, nanti sebelum suamimu pulang, biar Mamak menyuruh Muntaz ke rumah dulu, sekalian Mamak yang omongi rencana kami besok. Kalau Mamak sudah bicara, maka tidak berani dia membantah."
"Iya, Yuk. Terimakasih sudah mampir ya. Besok Insha Allah Belia ikut, tapi lihat dulu bagaimana Bang Muntaz," ujar Belia masih meragu.
"Ok, aku pamit ya, assalamu'alaikum!" pamit Salfina diakhiri salam.
"Wa'alaikumussalam," sahut Belia menatap kepergian istri dari Kakak iparnya itu, Haraz.
Belia masih menatap kepergian Salfina. Betapa jauh perbedaan dirinya dengannya. Salfina dicintai dan disayangi suaminya. Suaminya Haraz merupakan seorang anggota TNI AD berpangkalan perwira menengah, yang berdinas di daerah Indralaya.
Mereka sering berkunjung ke rumah Mak Susi paling sering sebulan sekali, mengajak Mak Susi *healing*. Memanjakan orang tua itu dengan dibawanya cuci mata ke tempat wisata, atau sekedar memanjakan lidahnya dengan mengajak makan di restoran ternama demi menyenangkan hati orang tua. Ditambah lagi dengan anak semata wayangnya yang menggemaskan, Rasya. Sungguh keluarga kecil yang bahagia dan harmonis.
Jam 9 malam tiba, Muntaz baru pulang. Tidak biasanya dia pulang jam sembilan malam, itu karena dia mampir ke rumah Mak Susi terlebih dahulu setelah tadi mendapatkan pesan WA dari Mak Susi.
__ADS_1
lanang\= laki-laki