
Muntaz bersyukur akhirnya diusia kehamilan Belia yang menginjak delapan bulan, Belia bersedia berhenti untuk bekerja. Kini Beli fokus pada kehamilan dan hobby barunya yaitu membuat kue. Usia kandungan Belia yang semakin besar tidak menghalangi dirinya untuk beraktifitas. Malah kini Belia semakin lincah.
Bu Enok dan Mak Susi kadang bergantian ke rumah Belia untuk mengajarkan Belia bikin kue. Tadinya sih Belia yang memaksa untuk datang ke rumah ibu atau mertuanya untuk diajarkan membuat kue atau penganan lainnya. Namun baik Bu Enok maupun Mak Susi tidak membiarkan Belia datang ke rumah untuk membuat kue, mereka berdua sepertinya khawatir dengan keadaan Belia yang hamil tua. Mereka tidak ingin terjadi apa-apa dengan kehamilan Belia.
"Tidak apa-apa dong Mak, lebih baik Belia yang datangi rumah Mamak. Belia tidak mau Mamak cape berjalan kaki ke rumah kami," rengek Belia merayu Mak Susi yang saat itu tidak membiarkan Belia untuk pergi ke rumahnya. Mak Susi hanya terlalu khawatir dengan keselamatan Belia dan bayi dalam kandungan Belia, sebab jalanan menuju rumah mertuanya maupun ibunya sekarang lebih ramai dengan kendaraan bermotor yang sengaja kebut-kebutan.
"Kan bagus Bu, jika orang hamil besar jalan-jalan. Nanti lahirannya juga lancar," kilah Belia masih memaksa.
"Aduhhh Neng, jangan memaksakan kehendak. Kalau mau jalan-jalan, ajak saja suami kamu ke Jakabaring. Di sana bagus untuk jalan-jalan ibu hamil atau yang sekedar berolah raga. Lagipula di sana aman dari kendaraan bermotor yang lalu lalang," cegah Bu Enok.
Mendengar larangan keras dari keduanya, Belia sedikit merajuk. Namun berkat rayuan Muntaz akhirnya Belia mau menerima saran dari suaminya.
"Abang, ayo, sekarang kita ke RamaSinta Mall," ajak Belia dengan girang. Muntaz heran dan sejenak melongo dengan ajakan Belia itu. Pasalnya, RamaSinta merupakan Mall besar yang menjual berbagai bahan keperluan, termasuk baju bayi.
"Memangnya kamu mau beli apa, Bel?" tanya Muntaz penasaran.
"Belia mau beli baju buat dede bayi," sahutnya girang. Muntaz langsung melongo, bukankah baju bayi sudah ada? Bahkan seminggu yang lalu dibelikan Mamak Ibu mertuanya kumplit. Belum lagi istrinya Haraz dan Hana kakak perempuannya kompak membelikan perlengkapan bayi.
"Semua perlengkapan bayi kan sudah dibelikan Mamak dan Ibu. Bahkan Yuk Hana dan Yuk Salfina juga membelikan kumplit dengan peralatan make up bayi," sergah Muntaz mengingatkan Belia. Belia sedikit tertegun sebelum akhirnya merajuk. Muntaz yang melihat Belia merajuk rasanya tidak tega, akhirnya dengan berat hati Muntaz mengajak Belia ke RamaSinta Mall.
"Ok, deh kalau begitu. Kita pergi ke RamaSinta Mall sekarang, ya. Aku akan antar kamu membeli apa-apa yang kamu mau." Akhirnya Muntaz mengalah dan mengikuti kemauan Belia. Sebenarnya Muntaz tidak mau mengajak Belia pergi dengan motor, dengan keadaan perut Belia yang sudah membesar. Muntaz takut terjadi guncangan pada perut Belia saat di atas motor. Sebab guncangan sedikit saja bisa membahayakan pada kehamilan Belia, resiko melahirkan belum waktunya itu hal yang paling ditakutkan Muntaz.
__ADS_1
Motor berjalan dengan kecepatan sedang dan sangat hati-hati. Muntaz tidak ingin Belia mendapatkan guncangan sedikitpun. Akhirnya motor tiba dengan selamat di depan Mall besar itu. Namun pandangan Belia bukan tertuju ke Mall besar itu, pandangannya lurus ke sebrang Mall. Di sana berjejer penjual berbagai macam makanan. Dugaan Muntaz, Belia ingin jajan dulu. Dengan tidak keberatan Muntaz menuntun tangan Belia dan menyebrangi jalan menuju kedai pinggir jalan.
"Kamu mau beli apa Bel?"
"Abang, Belia mau rujak, bakso, seblak, dan es dawet ayu," ujar Belia menunjuk makanan yang dia mau. Muntaz tertegun sejenak, makanan sebanyak itu apakah sanggup Belia habiskan? Tapi demi Belia, Muntaz tidak pikir panjang lagi. Yang penting baginya kebahagiaan Belia yang utama. Jikapun makanan itu tidak dihabiskan, maka ada dia yang akan habiskan nanti.
Makanan yang diminta Belia sudah terbeli semua, kini tinggal ke Mall RamaSinta yang akan Muntaz tuju untuk mengantar Belia.
"Ayo, kita nyebrang. Apakah masih ada yang ingin kamu beli, Bel?" tanya Muntaz.
Belia diam sejenak. "Es krim yang pakai wadah sama keripik nangka," ujarnya. Muntaz tidak kesusahan lagi mencari, sebab semuanya sudah ada di emperan jalan itu. Penjual keripik nangka dan es krim tinggal ke toko sembako di rukonya. Semua sudah bisa dibeli di sana. Setelah terbeli semua akhirnya senyum bahagia di bibir Belia terbit, dia gembira bukan main, sebab baru kali ini keinginan hatinya dibelikan makanan dengan diantar Muntaz langsung. Biasanya Belia jika mengidamkan sesuatu dia akan pergi sendiri. Dan setelah mendapatkannya, Belia begitu sangat bahagia.
"Kenapa, Bel, bukankah tadi kamu ingin beli sesuatu ke mall ini?" tunjuk Muntaz heran. Belia menatap Muntaz dengan senyum yang mengembang.
"Tidak, Belia bukan mau beli perlengkapan bayi ke mall ini. Tapi Belia hanya ingin beli makanan di sebrang mall ini," ujar Belia membuat Muntaz terbelalak. Dia pikir tadi Belia ingin ke mall ini.
"Aku kira kamu mau beli baju bayi lagi di mall ini," ujar Muntaz sambil memukul jidatnya. "Berarti sekarang kita pulang, ya?" ajak Muntaz yang diangguki Belia. Saat Muntaz dan Belia akan menaiki motornya, dari arah berlawanan mereka melihat Novi. Namun dengan cepat Novi membelokkan kakinya ke arah lain untuk menghindari Muntaz dan Belia.
"Ehhh, kenapa tuh mantan Abang? Dia kok malah menghindar dan sepertinya takut melihat kita?" Belia heran. Muntaz juga lebih heran, sebab kalau menurut prediksinya perut Novi juga akan sama buncit seperti Belia, sebab dulu Novi pernah memanas-manasinya bahwa dia sedang hamil. Tapi kini perut Novi masih kempes, artinya Novi memang tidak hamil atau keguguran.
__ADS_1
"Ya, sudah, ayo, kita pergi! Tidak usah memikirkan orang lain," ajak Muntaz menarik tangan Belia. Merekapun kembali ke rumah dengan motor yang melaju sedang.
Malam harinya, sebelum tidur. Muntaz sengaja memijit betis Belia. Karena melihat Belia yang sepertinya kelelahan setelah siang tadi mencari makanan idamannya.
"Bel, baringlah, biar Abang pijit betis kamu yang pegal itu." Mendengar tawaran Muntaz yang menggiurkan bagi Belia, karena setiap Muntaz memijit ini adalah pijitan terenak yang Belia rasakan. Sekujur badan yang lelah dan pegal langsung sembuh berkat pijitan Muntaz.
Belia berbaring menyamping, lalu Muntaz mulai memijit dengan penuh perasaan. Seketika pijitan Muntaz bagaikan terbang di udara, setiap pijitannya terasa enak. Betis yang pegal menjadi lebih ringan dan enak.
"Aduhhh, Abang, enak banget pijitan Abang. Ini lebih enak dari .... " bisik Belia namun terputus.
"Apa Bel, lebih enak dari apa?"
"Lebih enak dari makan seblak tadi, pijitan Abang mengalahkan segalanya," ungkap Belia tersipu malu. Sebab Muntaz sudah tahu apa yang Belia maksud. Tapi walaupun demikian Belia selalu melakukannya dengan sebaik mungkin demi kebahagian Muntaz setelahnya.
"Bel, aku juga ingin dipijit. Kamu siap kan? Ini bagus lho untuk kelancaran lahiran anak kita," ajak Muntaz sembari tersenyum merayu Belia yang sudah tersipu. Belia tidak membantah, dia mengangguk dengan senyum yang malu-malu.
"Abang, tapi pelan-pelan. Belia takut bayi ini kenapa-kenapa," pinta Belia risau.
"Jangan risau, Sayang. Abang tahu kok," ucap Muntaz seraya mulai mencium Belia yang pasrah.
Akhirnya persatuan dan kehangatan cinta itu terjalin dengan penuh kelembutan. Muntaz bahagia, Beliapun bahagia melihat Muntaz melambung di udara.
__ADS_1