Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 61 Kehamilan Belia Yang Belum Diketahui Muntaz


__ADS_3

Jam 20.30 malam Muntaz pulang. Deru motornya terdengar nyaring. Belia perlahan bangkit dari ranjang dengan sisa sakit kepala yang masih ada. Setelah tadi minum obat masuk angin dan dikerok bawang merah oleh Bu Enok, kepalanya yang sakit sedikit berkurang. Bu Enok terpaksa pulang duluan sebelum muntaz pulang.



Perlahan Belia bangkit dari ranjang bermaksud membukakan pintu untuk Muntaz. Namun sebelum tubuhnya tiba di pintu, Muntaz sudah membuka pintu lebar-lebar, lalu memasukkan motornya ke dalam.



Muntaz melihat ke arah Belia. Ia merasa khawatir sebab Belia terlihat sangat pucat. "Bel, kau sangat pucat. Apakah demamnya belum turun?" tanya Muntaz seraya menghampiri Belia dan memapahnya ke kamar.



Badan Belia memang tidak terlalu panas, namum wajahnya begitu pucat membuat Muntaz khawatir. "Tidak apa-apa Abang, Belia hanya sakit kepala dan sedikit mual," jawab Belia lemah. Belia kembali baring sebab rasanya dia hanya ingin tiduran dan matanya juga mulai ngantuk. Sebab dari siang tadi Belia tidak bisa memejamkan mata akibat sakit kepala.



"Bel, besok aku antar ke Dokter ya," ucap Muntaz sangat manis bagi Belia sehingga terbit senyuman bahagia dari bibir Belia. Belia meremas jemari Muntaz spontan.



"Apakah Abang sudah benar-benar mencintai Belia?" tanya Belia tiba-tiba sembari menatap mata Muntaz.


"Aku cinta kau, Bel. Percayalah, aku mohon jangan ragukan cintaku." Muntaz mencoba meyakinkan Belia.


"Walaupun Belia belum bisa memberikan Abang buah hati?" tanya Belia lagi meyakinkan Muntaz.


"Walaupun, dan ingat perkataanku, aku akan selalu mencintaimu sampai nene dan kakek sampai maut yang memisahkan," ucap Muntaz sungguh-sungguh. Kali ini Belia sepertinya memang melihat ada kesungguhan di mata Muntaz.


Mendengar penuturan Muntaz, Belia terharu dia meneteskan air mata tidak tertahan. "Terimakasih Abang, sudah mau mencintai Belia. Belia merasa bahagia," ujar Belia diiringi isak.


__ADS_1


Muntaz meraih jemari Belia memberi keyakinan pada Belia. "Kau Istirahatlah, aku lapar aku ke dapur dulu ya," ujar Muntaz seraya meninggalkan Belia sendiri di kamar. Belia menatap Muntaz yang berlalu ke dapur. Andai saja Belia tidak sakit kepala, maka dia sendiri yang akan menyiapkan makanan buat Muntaz dan menemaninya.



Muntaz segera menuju dapur untuk makan. Muntaz sedikit heran saat melihat di atas nampak banyak makanan, bukankah Belia sedang sakit? Sedangkan jika melihat meja makan yang penuh, maka tidak mungkin Belia memasak.



Muntaz menyudahi makannya lalu dia segera ke kamar karena merasa khawatir dengan Belia. Namun saat masuk kamar, rupanya Belia sudah tertidur terdengar dari suara deru nafasnya yang teratur. Lantas Muntaz segera ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah menyudahi mandinya, Muntaz melihat cangkang yang tidak asing lagi baginya. Yaitu bekas kemasan tespek yang belum dibuang.



"Tespek? Apakah Bela mencobanya lagi?" heran Muntaz seraya mencari alat tespek di sana, namun tidak dia dapati. "Apa hasilnya jika memang hari ini Bela melakukan tes kehamilan? Sudah sebulan lamanya tidak di tes, apakah kali ini garis dua?" Muntaz masih berbisik-bisik heran di dalam kamar mandi.



Keluar dari kamar mandi, Muntaz segera mencari alat itu. Namun sayang tidak ketemu. Akhirnya menyerah, demi mencari benda itu Muntaz sampai melalaikan sholat Isya.




Tiba-tiba Hp Muntaz berbunyi, sebuah misscall dari nomer Novi. Muntaz tercengang, padahal dia merasa sudah mendelet nomer Novi dari pertemanan WAnya, tapi kenapa dia masih bisa menghubungi nomernya? Otak Muntaz memutar, lima menit Muntaz baru paham, rupanya Muntaz hanya mendelete nomer Novi dari pertemanan WAnya bukan ngeblokirnya.



Novi mengirimkan pesan inbox yang menceritakan dirinya yang kini sedang hamil. Terus mengirimkan foto perut yang diraba sebuah tangan kekar laki-laki. Meskipun Muntaz sudah melupakan Novi dan bahkan kini malah membencinya, akan tetapi hatinya menjadi panas dan kecewa karena Belia belum ada tanda-tanda hamil. Hati Muntaz menjadi panas bergolak antara marah pada Novi dan kecewa terhadap Belia.



"Setan kau, jangan menyalak api dalam genangan bensin, kau sengaja membuat aku berkobar dan membuat hatiku terbakar. Sungguh aku benci kau kam\*pang!" umpatnya kasar. Muntaz benar-benar dirasuki kemarahan. Lantas dia pergi ke menu kontak dan mencari nomer Novi lalu memblokirnya.

__ADS_1



Sementara di tempat lain Novi kecewa karena dia nomernya ternyata sudah di blokir Muntaz. "Tega kau Bang blokir aku, padahal aku masih mau mengirimkan lagi foto pura-pura hamil supaya kau tambah panas karena bini kau belum hamil," dengus Novi kesal seraya menghempas Hpnya di kasur.


***


Muntaz menyudahi merokoknya. Setelah dia merasa kesal dengan kehadiran SMS Novi yang sengaja memanasinya dengan perutnya yang hamil. Sedangkan dirinya sampai kini masih menantikan kehadirannya, namun Belia tidak kunjung hamil juga. Di sini momentnya seakan pas buat Novi memanasi Muntaz yang sangat mengharapkan kehadiran seorang anak.



Muntaz masuk kamar, namun saat melihat ke atas ranjang, Belia sudah tidak ada. Suara gemericik air di kamar mandi menandakan bahwa Belia ada di sana. Tidak berapa lama Belia keluar, sepertinya dia sudah membasuh mulutnya.



"Abang, belum tidur?" tegur Belia seraya membelai bahu Muntaz lembut. Rasa kecewa yang masih ada di dalam hati itu perlahan melunak dengan perlakuan manis Belia didekatnya. "Abang, Belia minta maaf sebab Belia tidak bisa menemani Abang makan. Sekali lagi minta maaf ya!" ujar Belia meminta maaf. Muntaz merasa terharu dengan perlakuan lembut Belia. Seandainya sejak dulu dia menyadari kelembutan dan cinta Belia, mungkin kini dia tidak akan merasakan benci mendalam karena ulah Novi.



Muntaz menghadap ke arah Belia dan mengusap kening Belia yang sudah mulai turun panasnya. "Makasih Bel, kau selalu perlakukan aku dengan baik. Kelembutan sikapmu membuat aku semakin mencintaimu. Aku minta maaf, kenapa tidak sejak dulu aku menyadari cintamu," tutur Muntaz seraya meraih jemari Belia kemudian dirematnya dan dibawa menuju bibirnya lalu diciumnya begitu lama. Tetes air mata tiba-tiba meleleh.



"Sudah, Abang. Jangan menangis, Belia sudah memaafkan. Manusia tidak luput dari khilaf. Dan langkah terbaik bagi khilaf itu adalah menyadarinya dan bertaubat," ujar Belia penuh kasih sayang. Muntaz melepaskan jemari Belia lalu membawa Belia ke atas ranjang.



"Ayo, kita tidur. Setelah mendapat tausyiah dari kamu, aku jadi merasa ngantuk. Tenang saja, malam ini aku tidak akan meminta jatah, aku kasihan karena kamu sedang sakit," ujar Muntaz pengertian. Belia tersenyum, lalu memeluk Muntaz yang kini sedang mencium keningnya.



"Mimpi yang indah Abang, terimakasih atas pengertiannya. Tunggu sampai besok, Abang akan mendapatkan kejutan dari kami," bisik Belia dalam hati dengan perasaan senang.

__ADS_1



Merekapun terlelap dalam buaian syahdu sang malam yang semakin pekat. Namun malam kali ini seolah membuai dua insan dalam sebuah cinta kasih sayang yang tulus.


__ADS_2