Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Setitik Harapan


__ADS_3

Sepeninggal Muntaz, Mak Susi menghampiri Belia di kamar. Duduk di ranjang seraya membelai kening menantunya yang panas dengan sentuhan sayang. "Masih panas badan kau, Bela. Ado apo kau tiba-tiba sakit, apo gara-gara perlakuan anakku yang tidak baik? Mamak minta ma'af, Nak. Telah memaksa kalian masuk dalam keadaan yang tidak mengenakkan ini." Mak Susi menghela nafas penuh sesal.



Besar harapan Mak Susi, ketika mempertemukan dan menjodohkan Belia dengan Muntaz, kala itu. Mak Susi berharap pernikahan Belia dan Muntaz bisa bahagia dan akan hadir cinta pada keduanya. Namun harapan tinggal harapan, sampai kini rupanya di hati anaknya belum hadir cinta untuk Belia.



Jika saat itu Muntaz menolak keinginan kedua orang tuanya untuk dijodohkan, kemungkinan besar Mak Susi tidak akan memaksakan Muntaz untuk dijodohkan dengan Belia. Nasi sudah jadi bubur, tidak ada yang bisa mengembalikan keadaan seperti semula.



Mak Susi menghela nafasnya dalam, dia menatap lekat perempuan muda di depannya. Dia merasa sedih melihat wajah sendu dan mata bengkak menantunya.


"Pasti Bela sudah menangis semalaman, karena ulah Muntaz. Kapan kau Muntaz menyadari bahwa Bela itu benar-benar baik untuk kau, dan sesungguhnya dia mencintai kau? Jangan tunggu Bela membencimu, kau baru mencintainya," bisik Mak Susi dengan penuh harapan.


Jam 10 pagi, Belia mulai melakukan pergerakan. Suhu tubuhnya masih panas seperti semalam bahkan kini dia mengigau menyebut nama Muntaz dan berkali-kali menyatakan mencintai Muntaz.



"Astaghfirullah, Bela. Badan kau panas nian." Mak Susi sedikit panik dan segera beranjak ke dapur untuk membawa kompresan. Berharap dengan dikompres bisa meredakan suhu panas Belia menjadi turun.



Mak Susi berinisiatif menghubungi Muntaz, dia akan meminta Muntaz ijin saja, sebab sejak tadi Belia mengigau memanggil nama Muntaz.


"Taz, untuk hari ini saja kau baleklah tengah hari, Bela mengigau memanggil nama kau, aku jadi khawatir. Demamnya juga masih tinggi." Pesan WA Mak Susi dikirim tapi belum dibaca. Masih ceklis satu.


Mak Susi sebetulnya tahu, saat jam kerja Muntaz tidak mungkin menerima telpon atau membalas WA. Muntaz selalu mematikan data seluler jika sedang bekerja. Setelah istirahat dan pulang bekerja maka dia akan mengaktifkan kembali data selulernya. Mak Susi berharap ada keajaiban, Muntaz membalas WAnya saat jam istirahat.



Siang kian beranjak, kumandang azan zuhur telah terdengar di mana-mana. Mak Susi beranjak ke kamar mandi untuk segera memenuhi panggilan illahi robbi. Mak Susi segera mendirikan shalat zuhur dengan khusu. Tidak lupa diakhir sholat ia memintakan kesembuhan untuk Belia sang menantu.

__ADS_1



Mak Susi harap-harap cemas menantikan balasan WA dari Muntaz siang itu. Sambil melihat HPnya Mak Susi mengharapkan Muntaz membalas dan mengiyakan untuk pulang demi Belia.



Mak Susi melihat pesan WA itu dibaca Muntaz, akan tetapi tidak dibalas Muntaz. Mak Susi kecewa, namun tidak ada yang bisa diharapkan dari Muntaz. Sebab dia memang jarang bolos bekerja, dia hampir tidak pernah bolos. Maka dipastikan dia tidak akan berani minta ijin pulang cepat kecuali ijin tidak lembur.



Mak Susi beranjak kembali ke kamar melihat menantunya, kini Belia sudah bangun dan berusaha duduk di kasur. Mak Susi membantu Belia duduk. Lalu segera ke dapur membawakan bubur untuk Belia makan.



"Bela, kau makanlah dulu. Setelah ini minum obat penurun panas," rayu Mak Susi pada Bela yang masih baru terbangun.


"Ayolah, Nak! Kau harus makan bubur ini, dari pagi sampai siang ini, kau tidak ada makan. Kalau seperti ini kau tidak akan cepat sembuh," rayu Mak Susi lagi tanpa kenal lelah.


Belia nampak sedih, ranjang yang kini didudukinya terasa panas. Ada setitik harapan dalam hatinya bisa diperhatikan Muntaz, setitik, hanya setitik. Namun itu tidak mungkin, sebab baginya Muntaz tidak sedikitpun peduli tentang apapun yang terjadi dalam dirinya.




"Assalamu'alaikum! Mak!" ucapnya sambil memanggil Mak Susi. Mak Susi keluar dari kamar Belia dengan wajah yang sumringah. Disambutnya Muntaz dengan suka cita.



"Waalaikumsalam! Taz, akhirnya kau pulang. Segera kau temui Bela. Barusan bangun tapi dia menolak untuk makan. Aku sudah paksa untuk makan tapi dia menolak. Coba kau paksa dia makan Taz, sedikit saja yang penting masuk di perut," ungkap Mak Susi dengan raut wajah yang khawatir.



"Sebentar, Mak, Taz ke kamar mandi dulu membersihkan diri dan berwudhu." Muntaz segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, Muntaz segera mendirikan sholat zuhur yang tadi di PT belum sempat dia laksanakan.

__ADS_1



Muntaz melangkahkan kakinya ke kamar, segera setelah menyudahi shalat Zuhurnya. Kemudian dia meraih mangkok bubur yang masih hangat dari tangan Mak Susi.



"Mak, tinggalkan Muntaz dan Bela berdua. Taz, akan berusaha merayu Bela supaya dia mau makan." Mak Susi beranjak meninggalkan anak menantunya berdua di kamar seraya berharap Belia mau makan.



Belia menatap kedatangan Muntaz dengan ekor matanya, ada secercah bahagia dalam hatinya atas kedatangan Muntaz. Namun ia merasa datangnya Muntaz hanya sia-sia kalau kedatangannya karena atas paksaan Mak Susi.



"Kenapa Abang pulang siang-siang, apa yang mau Abang lakukan?" Akhirnya tanya itu keluar dari mulut Belia disertai rasa sesak di dada, sebab di sisi lain dia mengharapkan kehadiran Muntaz, namun sisi lainnya lagi membenci Muntaz karena kecewa yang diberikannya. Dua hal itu menjadi perang batin dalam dirinya.



"Sudahlah kau makanlah dulu, aku *balek* untuk membujuk kau makan. Bukankah Mamak bilang dari tadi kau mengigau, menyebut namaku terus?" ungkap Muntaz membuat Belia tersentak. Benarkah dia mengigau menyebut-nyebut nama suaminya? Pikiran Belia jadi kacau gara-gara memikirkan apa kata Muntaz, bahwa dia mengigau menyebut nama suaminya.



"Kenapa Abang percaya apa kata Mamak? Itu hanya cara Mamak untuk mendesak Abang supaya pulang," sangkal Belia sembari membuang mukanya.



"Sudahlah Bela, kau tidak perlu menyangkal. Bukan kata Mamak saja kau mengigau menyebut namaku saat tubuh kau panas tinggi, tapi aku mendengar sendiri kemarin. Kau menyebut-nyebut namaku dan mencintaiku," tandas Muntaz sembari menatap Belia. Belia tersentak, dia tidak percaya bahwa dirinya mengigau seperti itu.



"Tidak, itu tidak mungkin!" sangkalnya lagi.


"Kenapa tidak mungkin? Oh ya sudahlah, tidak perlu dibahas. Yang penting sekarang kau makan, jangan membuat dirimu tambah menderita, membiarkan perut kosong dan menyangkal atas igauanmu," bujuk Muntaz. Mendengar itu Belia malah tambah kecewa akan kehadiran Muntaz.

__ADS_1



"Setidaknya aku sudah berusaha Bela. Kalau kau benar mencintai aku, maka ijinkan aku untuk membuka hati aku. Berusaha mencintaimu juga. Maka untuk kali ini percaya padaku, aku mohon kau makan dan minum obat," bujuknya kali ini penuh tekanan. Belia diam mencerna ucapan Muntaz barusan.


__ADS_2