
Setelah kepergian Muntaz, Belia duduk termenung di teras depan. Bayang-bayang Novi yang tadi mencegatnya di jalan, kini terngiang lagi di pelupuk mata. Rasa sakit tiba-tiba muncul akibat mengingat kata-kata Novi tadi.
Saat tadi Muntaz pergi, Belia punya firasat lain tentang kepergian Muntaz. Ingin melarangnya, akan tetapi dia tidak punya hak. Jika melarangpun maka omongan Belia tidak akan pernah dianggap Muntaz.
"Apakah Bang Muntaz akan ketemuan dengan mantan pacarnya itu? Jika benar, maka tega benar kamu Bang. Rela membatalkan janji pada Belia demi perempuan itu." Belia membatin. Kini muka Belia sudah diliputi kabut duka, dia begitu sedih akan perlakuan Muntaz yang membatalkan janjinya demi Novi sang mantan pacar.
Demi membunuh sedih dan kecewa serta perasaan negatif, Belia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Kali ini dia ingin membuat seblak rumahan bersama adiknya Cica mungpung hari ini libur.
Sebelum Belia pergi dia mengunci pintu terlebih dahulu. Belia bergegas menuju rumah orang tuanya yang hanya tiga lorong dari rumahnya. Butuh waktu lima belas menit Belia tiba di rumah orang tuanya. Suasana rumah lumayan ramai, Belia heran ada siapakah gerangan yang bertamu ke rumah orang tuanya?
"Assalamualaikum," salamnya dan langsung masuk tanpa menunggu harus dipersilahkan.
"Waalaikumsalam, ehhh Bela. Dengan siapa datang ke sini? Mano suami kau?" Tiba-tiba jawaban salam dan sebuah pertanyaan terlontar dari seseorang yang tidak lain tetangga sebelah orang tuanya, yakni Wa Hera. Wa Hera dulu sering menjodoh-jodohkan anaknya dengan Belia. Namun terlambat, Wa Hera malah keduluan Mak Susi yang mengantarkan Muntaz melamar Belia.
"Wak Hera! Belia *dewean* Wak, suami Belia tidak datang, kebetulan ada *gawean*," jawab Belia sambil menyalami tangan Wak Hera serta Bu Enok, ibunya.
"Oalah, kau itu makin cantik bae setelah menikah, apolagi sekarang Kau berkerudung. Kau belum isi juga perutnya, Bel? Apo kau berKB?" tanya Wak Hera lagi penasaran.
"Tidak, Wak, Belia tidak berKB. Mungkin belum saatnya kami dikasih kepercayaan sama Allah," jawab Belia santai. Karena dia memang tidak sedang memikirkan punya anak secepat itu, apalagi Muntaz belum mau bahkan belum mencintainya.
"Tak apolah belum dikasih momongan, nikmati dulu masa-masa berdua bersama suami kau. Lagipula kau masih mudo dan masih perlu banyak kesiapan untuk punya anak," ucap Wak Hera akhirnya. Belia tersenyum menanggapi ucapan Wak Hera.
"Kebetulan kau datang ke rumah Mamak kau, Wak cuma mau kasih undangan pernikahan Zikri, Alhamdulillah dia sekarang sudah menemukan jodohnya. Dulu Wak pengen bermenantu kau, tapi terlambat gara-gara Susi lebih dulu lamar kau untuk Muntaz. Tapi tak apo, tidak jadi mantu tidak masalah, kito masih tetap tetanggo baik," ujar Wak Hera sembari tersenyum seraya memberikan satu buah kartu undangan buat Belia.
"Kapan pernikahan Kak Zikri Wak?"
"Dua minggu kedepan, kau hadir yo bersamo laki kau," pinta Wak Hera.
__ADS_1
"Insya Allan Wak, Belia akan hadir."
"Dapat orang mana anak lanang kau Wak?" tanya Bu Enok pada Wak Hera. Bu Enok juga memanggil Wak Hera dengan sebutan Wak, berhubung usianya lebih tua darinya, Bu Enok akhirnya memanggil Wak Hera mengikuti panggilan anak-anaknya.
"Orang Lahat, tapi dio sudah lamo tinggal di Sekojo."
"Tidak jauh rupanya jika pesta ngunduh mantu nanti yo, Wak?"
"Idaklah, senang kita. Seserahan juga tidak usah jauh."
"Kalau begitu aku balik yo Bi Cek. Bel, Wak balik yo. Jangan lupo kau sampaikan salam Wak samo laki kau."
"Iyo Wak, Insya Allah nanti Belia sampaikan," balas Belia sambil menyalami kembali tangan Wak Hera. Bu Enok mengantar kepulangan Wak Hera dengan tatapan mata.
Seperginya Wak Hera, Bu Enok sejenak melihat kartu undangan pernikahan anaknya Wak Hera.
"Kenapa Bu, kok dilihatin?"
Belia seketika menunduk. Teringat masa sebelum menikah dengan Muntaz, sebetulnya Belia sudah lama ditaksir Zikri, dan Belia juga saat itu memang sedikit sudah ada rasa suka pada Zikri. Namun dipendam. Terlebih setelah Zikri dipindah tugaskan ke Indralaya, jarak Zikri dan Belia semakin jauh.
Kebetulan Zikri merupakan seorang anggota TNI yang siap dipindahkan ke mana saja. Akhirnya mereka jarang ketemu. Tapi takdir berkata lain. Mak Susi tetangga beda dua lorong dari rumah Bu Enok yang sudah akrab dengan Bu Enok, datang meminang untuk Muntaz anaknya. Akhirnya Mak Susilah yang berhasil bermenantukan Belia.
"Kenapa harus menyesal Bu? Ini sudah ketentuan dari Yang Maha Kuasa. Kalau sudah taqdir, Belia bisa apa? Kita doakan saja Bang Zikri dengan pasangannya bahagia sepanjang hayat sampai kakek dan nenek," harap Belia tulus.
Baginya kenangan pernah memendam cinta pada Zikri biarlah jadi kenangan yang lalu. Yang tidak perlu diingat kembali.
__ADS_1
"Iya betul Neng. Biarlah kenangan kamu itu jadi kenangan di jamannya saja, tidak perlu dikenang di masa sekarang," timpal Bu Enok seraya menyimpan kembali surat undangan itu di atas meja.
"Bu mana Cica dan Bapak, kok sepi?" Belia heran sebab sejak tadi tidak melihat Bapaknya dan Cica.
"Bapak kebetulan ada perlu ke kota, mau membeli alat-alat bengkel. Dan Cica sudah satu jam yang lalu pergi ke rumah temannya, katanya sih ada kerja kelompok tugas mata kuliahnya," terang Bu Enok. Belia mengangguk menanggapinya.
"Tadinya mau bikin seblak sama Cica, Bu. Tapi Cicanya tidak ada. Ya sudah Belia bikin sendiri saja deh," ujar Belia seraya ke dapur.
"Bikinlah sendiri, bahan-bahannya sudah ada di kulkas. Ngomong-ngomong suami kamu ke mana Neng, kan Minggu biasanya tidak lembur?"
"Tadi setelah Zuhur pergi, Bu. Ada hal penting katanya," jawab Belia dan berharap Ibunya tidak lagi menanyakan kembali perihal Muntaz.
"Suamimu itu memang pekerja keras. Tapi, Ibu bukan suudzon. Tadi Wak Hera sebelum kamu datang, sempat bilang ke Ibu sempat melihat Muntaz pergi bersama perempuan di simpang jalan depan. Tapi Wak Hera kurang jelas siapa perempuannya, sebab wajahnya pakai helm." Mendengar ucapan Bu Enok seperti itu, tiba-tiba hati Belia bergolak. dadanya berdebar. Jangan-jangan firasatnya benar.
"Mungkin saja Bu itu Bang Muntaz, tapi belum tentu sama perempuan. Mungkin perempuan itu sama-sama pengguna jalan yang kebetulan berada dekat Bang Muntaz," sergah Belia mencoba menegarkan hatinya yang tiba-tiba gundah.
"Ya, bisa jadi Neng. Ya sudah kalau begitu lebih baik kita bikin seblak saja. Biar Cica pulang nanti ada makanan favoritnya sudah siap," ujar Bu Enok menuju dapur ingin membantu Belia membuat seblak. Mereka berdua akhirnya berkutat di dapur membuat seblak.
Dewean \= sendirian
__ADS_1
gawean \= pekerjaan