Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Belia yang Sempurna


__ADS_3

Suara deru mesin mobil Haraz mulai terdengar di depan rumah. Muntaz yang mendengar sudah sangat salah tingkah, sebab Belia rupanya belum keluar kamar juga. "*Bela tega nian kau Bel, kau lebih* *senang* ***jingok*** *aku tersiksa karena kemarahan* *Bang Haraz. Kau memang ya, Bel, tidak pantas* *aku cintai*." Muntaz menggerutu dalam hati sembari mondar-mandir di ruangan tengah, berharap Belia segera membuka pintu kamar dan sudah bersiap.



"Bel, Bela, Belia ... tolong dengar aku, aku mohon bersiaplah, Mamak sudah masuk rumah. Tolonglah kau segera keluar!" Muntaz masih memohon dengan suara yang putus asa. Belia di dalam kamar senang mendengar Muntaz putus asa, dia merasa puas membuat Muntaz memohon.



"Assalamu'alaikum!" Mak Susi masuk dan mengucap salam. Belia dengan jelas mendengar suara dari luar kamarnya.


"Waalaikumsalam, Mak! Masuk Mak!" ujar Muntaz sembari menyalami tangan Mak Susi.


"Mano bini kau, *lah* siap belum?" Mak Susi langsung mencari keberadaan Belia. Muntaz bingung mau menjawab, sebab dari tadi Belia belum keluar.



"Tadi Bela sedang bersiap di dalam kamar ini, Mak. Coba Mamak panggil *dewe*, siapo tahu *lah* selesai dandannyo," jawab Muntaz mengira-ngira.



"Bel, Bela, ini Mamak datang, apa kau *lah* bersiap?" Tidak ada jawaban dari dalam, senyap seakan tidak ada penghuninya.


Muntaz memijit kepalanya, tanda resah. Dia benar-benar takut Belia tidak keluar dan berkeras tidak ikut.


"Kotrak," suara khas pintu kamar yang dihuni Belia dibuka. Muntaz berdiri menatap pintu kamar itu dengan harap cemas. Mak Susi yang sudah menunggu, bersiap menyambut Belia. Sekonyong-konyong wajah Mak Susi berubah dari merengut menjadi takjub melihat penampakan Belia saat keluar dari kamar.

__ADS_1



Muntaz sejenak terpaku dan terbius dengan penampakan yang keluar dari kamar yang Belia tiduri semalam. Muntaz terpana melihat penampilan Belia yang berbeda, sangat cantik dan mempesona. "*Benarkah ini Bela, cantiknya*!" bisiknya dalam hati takjub. Baru kali ini Muntaz melihat Belia begitu sangat cantik dan menarik sampai jantung Muntaz berdesir.



"Wahhh, cantiknyo mantuku. Tidak salah aku pilihkan Muntaz bini seperti kau." Mak Susi memuji Belia terang-terangan di depan Muntaz. Muntaz pun mengakui Belia kali ini benar-benar cantik.



"Ayo, jangan berdiri terus. Bang Haraz sudah menunggu," desak Mak Susi meraih lengan Belia dan menariknya keluar. Muntaz yang terpana seketika tersadar, ujung matanya terus menatap Belia. Bengkak di matanya yang tadi terlihat kini sudah sirna.



Dari ujung kepala hingga ujung kaki tidak luput dari pengawasan Muntaz. 'Sempurna' satu kata yang muncul dari bibirnya dengan sunggingan senyum. Hati Muntaz lega, bahwasanya Belia hari ini telah menyelamatkan dirinya dari amukan Haraz.




"Kalau begini, Novi kalah banyak dari Bela," gumannya membandingkan. Mak Susi sudah membawa Belia menuju mobil Pajerox, di sana sepertinya Mak Susi sedang bernegosiasi masalah tempat duduk. Bukan masalah sempit, seperti sudah diketahui khalayak umum mobil Pajerox milik Haraz dalamnya luas dan leluasa, bahkan bisa muat delapan orang tanpa berdesak-desakan.



"Kau masuklah dulu *samo* Bela di kursi paling belakang, aku samo Yuk Salfina dan Rasya di kursi tengah," ujar Mak Susi kepada Muntaz. Muntaz setuju saja dengan usul Mak Susi. Bukan tanpa alasan Mak Susi memberi usul tersebut, Mak Susi memilih duduk di kursi tengah untuk memudahkan dirinya turun naik apabila ingin ke kamar mandi kencing atau buang hajat. Maklum sudah tua gampang beser.

__ADS_1



Usul Mak Susi tidak luput dari sorakan hati Salfina, dia berharap kedekatan Belia dan Muntaz di kursi belakang bisa merapatkan hubungan keduanya, terutama hati Muntaz untuk Belia. Tidak menutup kemungkinan goyangan mobil saat berjalan bisa menumbuhkan cinta saat kedua kulit Muntaz dan Belia bersentuhan.



Salfina yakin, Muntaz dan Belia tidak mungkin duduk berjauhan, melihat di depan dan di tengah ada Kakak dan mertuanya, Belia tidak mungkin menjauhi Muntaz. Terlebih di sini Salfina akan memasukan peran Rasya diantara keduanya, supaya antara Muntaz dan Belia tidak kaku.



Setelah setuju dengan usul Mak Susi, sebelum masuk mobil, Belia menyalami Haraz dan Pak Deny di kursi depan, tidak lupa menyalami Mak Susi dan Salfina juga.



Kursi jok tengah diangkat sejenak untuk memberi jalan pada Belia dan Muntaz untuk masuk ke dalam mobil. Belia disusul Muntaz masuk, kemudian duduk nyaman di kursi paling belakang. Sementara itu, Mak Susi dan Yuk Salfina mulai masuk ke dalam mobil, duduk leluasa di kursi tengah.



Deru mesin mobil mulai diperdengarkan, mobil Harazpun melaju perlahan membelah jalanan kota pempek. Tujuan kali ini adalah Pulau Kemaro.



Rasya yang mudah akrab, tiba-tiba merengek minta pindah duduk ingin kebelakang bersama Muntaz. Keinginan Rasya ini seakan sinyal untuk mendekatkan Belia dan Muntaz yang sudah diduga Salfina, seperti apa yang diharapkannya.


jingok \= lihat

__ADS_1


lah \= sudah


dewe \= sendiri


__ADS_2