Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 46 Obat Pelayanan pada Suami


__ADS_3

Muntaz menarik tangan Belia sampai ke ujung gang. Perlakuan Muntaz tidak luput dari pengawasan Mak Susi. Untung Bu Enok tidak sedang diluar, dia masih menyalami yang punya hajat di dalam rumah. "*Ada apa si Muntaz*, *buru-buru amat, lagi marah atau memang ngajak* *balik*?" Mak Susi bertanya-tanya dalam hatinya.



Belia tidak membantah dia manut dengan ajakan Muntaz, dia sadar sepertinya Muntaz sedang marah gara-gara melihat dirinya ngobrol dengan Najid, Sela dan Serena.



Tiba di perkarangan rumah Mak Susi, Muntaz langsung memburu motornya yang terparkir. "Naik!" titahnya. Belia tidak membantah, dia masih mengikuti Muntaz. Tidak berapa lama Muntaz menjalankan motornya menuju rumahnya.



Tidak berapa lama motor sampai di depan rumahnya, Belia segera turun dan membuka pintu. Muntaz mengikuti belakangan setelah motornya terparkir dengan benar.



Belia menuju dapur, tiba-tiba rasa haus seperti melandanya, sehingga dia segera membasahi tenggorokkannya dengan air bening. Muntaz masuk dan menyusul Belia ke dapur.



"Bela, kau dulu ada hubungan dengan si Zikri?" Ditodong pertanyaan seperti itu Belia langsung kaget, kenapa tiba-tiba Muntaz bertanya hal tidak penting dan sepertinya kalau diperhatikan kata-katanya mengandung cemburu.



"Maksud Abang hubungan apa?" Belia balik bertanya sebab dia merasa bingung harus menjawab apa.


"Kau pernah berpacaran dengan dia?" Belia langsung kaget dan hanya bisa tertawa dalam hati mendengarnya. Kenangannya saat pernah merasakan getaran cinta pada Zikri kini tergugah kembali gara-gara pertanyaan Muntaz.


"Kenapa kau diam, itu artinya kau pernah ada hubungan kan?" tuding Muntaz menatap Belia dengan tatapan kesal.


"Maaf, kenapa Abang sepertinya tidak terima jika Belia pernah ada hubungan dengan Kak Zikri? Bukankah itu hanya masa lalu?"


"Bukan itu yang jadi masalahnya, kau masih ada hati sama lanang itu kan?" Belia sontak mengerutkan kening dengan tudingan Muntaz barusan, jelas ini menyinggung perasaannya sebab Belia selama menikah tidak pernah berani mengkhianati janji suci pernikahan meskipun dia tidak dicintai Muntaz.


__ADS_1


"Kenapa Abang berpikiran seperti itu? Belia tidak pernah mengkhianati pernikahan kita dengan perselingkuhan," sangkal Belia.


"Tapi kau senang, kan saat lanang itu manggil kau?"


"Belia hanya tidak ingin dikatakan sombong makanya tadi menghampiri Kak Zikri, lagipula Belia sudah tidak ada perasaan apa-apa sejak menikah dengan Abang. Meskipun Belia tidak dicintai Abang, tapi Belia tidak pernah berpikir untuk mengkhianati pernikahan kita. Belia tidak seperti Abang, masih punya ikatan suci dengan seseorang tapi masih mengejar cinta wanita bersuami," tegas Belia sembari berjingkat meninggalkan Muntaz bermaksud masuk kamar sebelah yang sering ia pakai untuk merajuk.



"Tunggu, lantas apa yang kau rasakan sama aku? Apakah masih sama seperti yang kau rasakan sebelum kau melihat lanang itu bersanding?" Muntaz menatap mata Belia yang kini tubuhnya berhasil ditahan Muntaz. Belia membalas tatapan mata Muntaz, matanya dengan mata Muntaz bertemu dan Belia seakan tersakiti dengan tatapan mata itu.



"Apa Abang masih menutup mata dan hati Abang, bahkan sampai saat ini perasaan Belia pada Abang sama sekali tidak berbalas, tapi kenapa Abang malah menuduh Belia masih ada perasaan dengan lanang lain. Apakah Abang sengaja mau menyakiti hati Belia dengan tuduhan Abang itu? Sekarang terserah Abang mau bagaimanapun, yang jelas kesabaran Belia akan ada batasnya sampai tiba saatnya Belia sanggup lepas dari Abang," tandas Belia sembari mendorong pintu kamar dan memasukinya. Muntaz berdiri mematung dengan ucapan Belia barusan.



Ucapan Belia sedikitnya membuat Muntaz tersentak, tidak terbersit di hatinya untuk berpisah dari Belia, terlebih setelah tahu Novi hanya memanfaatkannya. Muntaz hanya merasa cemburu dengan apa yang dilihat dan didengarnya tadi. Melihat Belia tersenyum saat ngobrol dengan Zikri dan Najid tadi, membuat hati Muntaz bergolak, terlebih Sabqi tadi mengomporinya sehingga Muntaz semakin panas seakan mau meledak.




Belia terbangun saat kumandang azan Maghrib diperdengarkan di setiap mushola. Belia bangkit dan meraih Hpnya. Jam sudah menunjukkan pukul 18.10 menit. Belia harus segera keluar sholat Maghrib dan masak. Belia sampai belum masak saking lelapnya tidur.



Saat keluar kamar Muntaz sudah berada di ruang tamu, dengan sebatang rokoknya yang mengepul. "Bel, kau sudah bangun?" Belia tidak menyahut, dia langsung masuk kamar dan mengambil mukena untuk sholat.



Setelah sholat, Belia segera ke dapur, namun Muntaz mencegahnya. "Bel, kau mau apa? Tidak usah masak, tadi Mamak datang kirim makanan saat kau tidur," ujar Muntaz. Belia terhenyak mendengar Mak Susi tadi datang membawakan makanan untuknya dan Muntaz. Belia melihat mejikom yang sudah menyala lampu hijau artinya nasi sudah matang. Belia jadi merasa malu menjadi menantu.



"Tadi Mamak masak nasi juga. Jadi kita tinggal makan, sebab Mamak sudah bawakan lauk berbagai macam. Kau lihatlah di bawah tudung saji itu," tunjuk Muntaz pada tudung saji warna hijau.

__ADS_1



Sekilas memang di bawah tudung saji seperti banyak makanan yang sudah diwadahi, dan benar saja saat Belia angkat tudung saji itu berbagai makanan sudah tersaji. Ada pindang ikan patin, sambel tempoyak, kemplang, pempek juga ada. Seketika langsung ada perasaan malu dalam diri Belia. Andai saja tadi dia tidak ketiduran lama, mungkin saat Mak Susi datang, dia tidak sedang ketahuan tidur.


"Maafkan Belia, Mak!" bisik hati Belia menyesal.


"Bel, setelah makan aku mau ajak kau jalan," ucap Muntaz disela-sela makan malam berdua. Walau sikap keduanya nampak canggung, akan tetapi mereka sering melakukan makan bersama dengan situasi yang diam-diaman. Belia tidak menjawab. Dia masih fokus pada makanan kiriman Mak Susi. Dilihatnya Belia sangat lahap saat makan pindang ikan patin buatan Mak Susi.



" Bel, bagaimana?" Muntaz menatap Belia minta persetujuan Belia, Muntaz ingin minta maaf atas sikapnya tadi yang sudah menuding Belia masih menyimpan rasa suka pada Zikri. Belia masih menunduk dan tidak goyah. Kemudian Belia mengakhiri makan malamnya dan membereskan bekas makannya bersama Muntaz.



"Bel, jawab aku, aku mau ajak jalan malam ini," ulang Muntaz lagi penuh harap.


"Belia, sudah ngantuk Bang. Habis ini Belia ingin segera tidur," alasannya sembari membereskan cuci piringnya.


"Kau masih marah sama aku, Bel? Aku tahu aku salah, jadi sekarang aku mohon maafkan aku," ujar Muntaz berharap, namun hanya mendapat tatapan sejenak dari Belia.



"Bel, ayolah jangan diamkan aku macam ini!" ujar Muntaz seraya menarik tangan Belia masuk kamar, lalu dengan cepat menguncinya. Belia terbelalak, ingin berontak tapi tidak bisa.



"Abang, tolong lepaskan cengkraman tangan Abang ini, Belia mau ke kamar mandi." Belia memohon, terpaksa Muntaz melepaskan dan membiarkan Belia ke kamar mandi, lagipula kamar mandi ini aman, tidak mungkin Belia bisa kabur.



"Bel, jangan lama-lama," peringatnya sembari berseringai penuh rencana. Sesuai amanat Mak Susi tadi siang, Muntaz akan melancarkan rencananya, terlebih Belia sudah masuk dalam perangkapnya. Muntaz sudah membubuhkan obat *pelayanan servis pada suami* pada teko air minum yang tadi sempat Belia minum. Persis seperti apa yang Mak Susi perintahkan tadi.



Lima belas menit kemudian, Belia muncul dan masuk kamar. Belia merasakan tubuhnya begitu merindukan Muntaz. Kata Mak Susi reaksi yang akan ditimbulkan dari obat *Pelayanan Servis pada* *suami* adalah sikap jujur dan ingin dimanja dan memanjakan suami. Muntaz sekilas tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2