Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 60 Kehamilan Belia


__ADS_3

Sebulan kemudian, hari demi hari perhatian Muntaz semakin besar. Rasa cintanya kini pada Belia bukan sekedar kata-kata. Muntaz selalu menunjukkan perhatian dari mulai hal kecil sampai hal besar.



Muntaz kini sudah tidak sabar menunggu kehamilan Belia, setiap hari selalu menanyakan apakah Belia sudah positif atau belum. Bahkan hampir tiap hari Belia harus tes pack. Muntaz sudah menyetok tespack untuk satu bulan. Namun selama sebulan belum ada hasil yang bisa menggembirakan Muntaz.



Belia kini merasa khawatir rasa cinta Muntaz justru hilang akibat dia belum hamil juga. Setelah hampir tiap hari tespek selama sebulan, hasilnya masih garis satu. Hasil garis dua yang dinantikannya belum muncul juga. Kadang setelah melihat hasil tespek, Muntaz terlihat muram. Muntaz seperti kecewa dan sedih.



Belia juga sedih dan bimbang dengan keadaannya yang belum hamil. Hal ini membuat dirinya drop dan sakit.



"Bel, badan kamu demam. Apakah perlu ke Dokter?" Muntaz nampak khawatir.


"Tidak perlu, Belia cuma demam biasa. Nanti juga sembuh kalau Belia sudah minum obat masuk angin," ujar Belia menganggap remeh sakit yang dia rasakan.


"Benaran nih kau tidak mau aku antar ke Dokter?"


"Tidak usah, Bang. Abang pergilah, nanti kesiangan," ujar Belia tidak ingin membuat Muntaz khawatir.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya," ujar Muntaz berpamitan. Belia menatap kepergian Muntaz dengan senyum bahagia. Betapa tidak, sudah sebulan ini sikap Muntaz sangat perhatian dan berubah banyak. Dia sudah memperlakukan Belia dengan lebih baik. Saat Belia sakit seperti inipun Muntaz sangat khawatir dan sebetulnya tadi dia tidak ingin meninggalkan Belia.



Hari ini Belia mau berangkat kerja tapi badannya sangat tidak enak. Sudah dia minumi obat masuk angin, akan tetapi belum mendingan, malah kini disertai mual. Terpaksa hari ini Belia menghubungi Sela, memberitahu bahwa dia ijin tidak masuk kerja. "Sampaikan sama Bu Mila, ya, aku ijin begawe, aku demam, Sel."


"Ok, nanti aku sampaikan, ya. Kau cepat sembuh, biar bisa begawe lagi. Sebab ada yang aku mau omongi. Nantilah pas kau begawe, aku cerita," balas Sela di ujung telpon. Panggilan telponpun berakhir.

__ADS_1


Setelah menghubungi Sela tadi, Belia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Dia akan beristirahat di ruang tamu saja. Supaya jika ada orang yang akan bertamu dia bisa lebih dekat membuka pintu. Sebab, Belia tadi pagi sempat menghubungi Cica adiknya bahwa dia demam. Mana tahu Ibunya tiba-tiba datang.



Benar juga, satu jam kemudian. Ibunya datang ke rumah. Dengan susah payah Belia berdiri walaupun kini kepalanya terasa berat.


"Assalamualaikum." Bu Enok mengucap salam. Belia segera berdiri dan membuka pintu. Di depan Bu Enok berdiri dengan was-was sambil membawa jinjingan kresek warna hitam. Sepertinya itu oleh-oleh yang sengaja Bu Enok bawa untuk Belia.


"Neng, ya ampun wajah kamu pucat banget. Sakit apa Neng?" Bu Enok terkejut melihat Belia yang pucat dan badannya panas. "Ayo, sebaiknya kamu masuk kamar. Biar ibu papah ke dalam, ya." Bu Enok dengan pengertian membawa Belia ke kamar. Sepertinya Belia masuk angin. Bu Enok menduga Belia masuk angin, oleh sebab itu Bu Enok akan mengobati Belia dengan menggosok badannya dengan bawang merah.



"Neng, sepertinya kamu bukan masuk angin biasa. Kok ibu merasakan hal yang beda dari badan kamu." Bu Enok menaroh kecurigaan pada keadaan Belia yang kini sedang dibalurnya dengan bawang merah yang diolesi minyak zaitun. Dengan lihai Bu Enok mengurut dan mengusap punggung Belia. Saat mengurut bagian perut Belia, Bu Enok merasa ada hal yang aneh. Kadang roman mukanya berubah-ubah antara kaget dan bahagia. Bu Enok nampak menyunggingkan senyum yang sejak tadi diperhatikan Belia.



"Memangnya ada apa sih, Bu? Jangan membuat Belia jantungan. Memangnya demam yang Belia rasakan ini akibat apa?" Belia nampak khawatir dengan perubahan sikap Bu Enok yang berubah-rubah.




"Nggak mungkin Bu, sebulan yang lalu kami sudah melakukan tes kehamilan tiap hari, sampai Bang Muntaz bosan dan hasilnya masih negatif. Dan sekarang pastinya hanya sakit biasa," sangkal Belia.



"Sudah jangan ngeyel dulu! Kalau kamu masih nyimpan tespack, coba kamu tespack dulu, siapa tahu kamu beneran hamil. Dan kalau sudah tahu, jangan sembarangan minum obat. Ibu takut ada apa-apa sama jabang bayi," peringat Bu Enok mendesak Belia supaya segera melakukan tes kehamilan. Belia tidak membantah, dia segera bangkit lalu menuju meja rias dan mengambil tespek di dalam laci meja rias.



Belia bergegas ke kamar mandi untuk melakukan tes kehamilan. Lima menit hingga sepuluh menit Belia baru keluar kamar mandi. Dengan wajah yang lesu, karena Belia memang merasakan sakit kepala, Belia duduk di tepi ranjang dengan tangan memegang alat tes kehamilan.

__ADS_1



"Coba lihat, apa hasilnya?" Bu Enok tidak sabar ingin segera melihat hasil tespek yang Belia pegang.



Mata Bu Enok terbelalak saat melihat hasil tespek Belia. Belia merasa heran dengan sikap Bu Enok. "Bu kenapa?" heran Belia sambil meminta tespek yang tadi dia gunakan.



"Selamat Neng, kamu akan jadi seorang ibu. Mulai sekarang harus dijaga kehamilannya, ya. Jangan minum obat sembarangan. Jangan lupa besok periksa ke Bidan atau Dokter kandungan." Mendengar penuturan Bu Enok, Belia terlonjak tidak percaya. Seperti mimpi, sebulan yang lalu dia melakukan tes kehamilan hampir tiap hari bersama Muntaz dan hasilnya negatif. Tapi kini harapan Muntaz akan kesampaian.



Belia dipeluk Bu Enok. Mereka saling rangkul dan menangis bahagia bersama. "Alhamdulillah, Neng. Ibu sekarang akan menjadi nenek. Ibu sangat bahagia. Segera kasih kabar Mak Susi dan suamimu," titah Bu Enok gembira.



Belia meraih tespek dari tangan Bu Enok, ingin meyakinkan apa yang dikatakan Bu Enok itu benar atau tidak. Mata Belia melotot saat dia yakin bahwa yang dilihatnya memang garis dua. Belia sangat bahagia setelah dia yakin bahwa kini dia sedang hamil. "Belia benar-benar hamil, Bu," ucap Belia berurai air mata. Kemudian mereka saling rangkul menumpahkan segala kebahagiaan atas kehamilan Belia.



"Cepat kasih tahu suamimu!" ulang Bu Enok tidak sabar.


"Nanti saja Bu, saat Bang Muntaz pulang. Saat ini Bang Muntaz pasti sedang sibuk," cegah Belia memberi pengertian pada Bu Enok.


"Oh iya, ya. Ya, sudah nanti saja. Terus Mak Susi mau kamu kasih tahu sekarang atau nanti?"


"Nanti saja, Bu. Belia belum mau gembar-gembor dulu. Biarlah seiring waktu mereka tahu," pungkas Belia menutup obrolan mereka pagi hari ini. Bu Enok sepertinya paham, Belia saat ini mengalami sakit kepala. Bu Enok membiarkan Sofia istirahat untuk meredakan sakit di kepalanya.


"Istirahatlah Neng, Ibu menunggumu di sini sampai suamimu pulang," ujar Bu Enok seraya beranjak keluar kamar membiarkan anaknya istirahat.

__ADS_1



Belia bersyukur, dirinya kini sudah mengandung dan akan menjadi ibu. "Terimakasih ya Allah atas karunia dan kepercayaanMu atas kahamilan ini," ucap Belia penuh syukur.


__ADS_2